Sudut Pandang

Tugas Monoton Picu Microsleep

Putu Widiastiti Giri, M.Psi., Psikolog.

Ketika sedang berkendara, pernahkah Anda terbangun karena klakson mobil dan melihat lampu hijau lampu traffic light berubah warna tanpa Anda sadari? Atau pernah mengalami sewaktu sedang menonton di layar smartphone, tanpa sadar menjatuhkannya di dekat Anda disertai anggukan kepala yang kencang? Jika pernah mengalami atau menyaksikan orang lain mengalaminya, inilah yang disebut microsleep. Demikian disampaikan Putu Widiastiti Giri, M.Psi., Psikolog.

Ia mengutip dari journal of Sleep Research, yang menyebutkan microsleep adalah kondisi tidak sadar selama periode singkat (0,5 – 15 detik) yang ditandai dengan mata tertutup penuh atau sebagian dan dorongan kantuk yang tidak tertahankan, muncul ketika sedang melakukan aktivitas. “Pada umumnya, pengalaman microsleep sulit diingat karena terjadi kurang dari semenit. Begitu penuturan dari Profesor Jim Horne dari Universitas Loughborough, Inggris, sekaligus praktisi ahli di Sleep Research Centre di universitas yang sama,” ungkap Psikolog Pendidikan Sekolah Bertalenta Khusus Pradnyagama ini.

Psikolog yang akrab disapa Asti ini menjelaskan penyebab microsleep adalah karena tubuh mengalami kelelahan. Kelelahan ini dapat disebabkan karena adanya pengalaman unik yang menyebabkan tubuh perlu mengeluarkan energi yang lebih besar dari biasanya. Sebagai contoh, ada tambahan aktivitas, tanggung jawab, hingga ekspresi emosi sehari-hari.

Kelelahan juga dapat dipicu karena kuantitas dan kualitas waktu tidur yang berkurang. Berpedoman pada Journal of National Sleep Foundation yang ditulis oleh 20 peneliti multidisiplin, salah satunya  Max Hirshkowitz dari Stanford University, mempublikasikan bahwa usia seseorang menentukan durasi tidur minimal yang dibutuhkan tubuh per harinya agar siap beraktivitas lagi.

Hasil analisa terhadap 312 temuan penelitian terkini tentang durasi tidur menunjukkan bahwa ketika lahir, bayi berusia 0-3 bulan memerlukan tidur selama 14-17 jam per hari. Di usia 4-11 bulan, durasi tidur yang diperlukan ternyata lebih sedikit yaitu 12-15 jam per hari. Saat bertumbuh di usia 1-2 tahun, anak memerlukan 11-14 jam untuk tidur yang ideal.  Untuk mendukung pertumbuhan yang optimal bagi anak usia 3-5 tahun, disarankan untuk tidur selama 9-11 jam per hari. Sebagai remaja (14-17 tahun), tidur selama 8-10 jam sangat dianjurkan untuk mendukung pertumbuhan yang optimal. Ketika menginjak usia 18 tahun ke atas, sesungguhnya waktu tidur selama 7-9 jam dianggap paling ideal untuk memelihara kesehatan.

Asti juga memaparkan penelitian terkini dari tim riset asal New Zealand yang dipelopori oleh Russell J. Buckley menemukan bahwa microsleep lebih sering muncul ketika sesuatu yang kita kerjakan tidak memerlukan konsentrasi yang tinggi. Karena itu, tugas yang bersifat rutin, monoton, dan sudah terampil dilakukan justru memberi peluang kita mengalami microsleep lebih sering.

Apa kaitan microsleep dan kejiwaan?

Sesungguhnya tidak ada kaitan langsung microsleep dengan kejiwaan, tetapi microsleep ini secara tidak langsung dapat mempengaruhi kesejahteraan psikologi seseorang. Pada umumnya, seseorang yang mengalami microsleep, tidak pernah berniat untuk “tidur sebentar” ketika itu, dalam benaknya, dirinya berharap dapat terlibat aktif dalam aktivitas yang diikutinya. Akan tetapi, kemunculan microsleep justru menimbulkan kekecewaan dalam dirinya karena ternyata tubuhnya tidak “sekuat” itu untuk tetap tersadar seperti harapannya.

Hal ini dikonfirmasi oleh Dr. Chiara Cirelli, seorang profesor bidang psikiatri dari Universitas Wisconsin. Menurutnya, seseorang yang mengalami microsleep mengetahui bahwa dirinya mengantuk, berusaha menahan dan tetap sadar, tetapi justru menyadari bahwa dirinya berbuat kesalahan.

Kekecewaan yang muncul ini akan diikuti kesal dan rasa bersalah ketika microsleep yang dialaminya justru merugikan orang lain. Alasannya karena dirinya tidak mengingat apa yang terjadi dalam kurun waktu 15 detik tersebut dan muncul pemikiran “seandainya dirinya beristirahat dengan cukup dan lebih berhati-hati, mungkin kejadian ini tidak akan dialaminya”.

Dapat dibayangkan ketika seseorang sering mengalami microsleep, dirinya akan kurang terlibat aktif dalam sesuatu yang sedang ditekuninya. Pada dasarnya, seseorang yang mengalami microsleep sangat antusias untuk melakukan apa yang perlu dilakukan saat itu. Akan tetapi, pengalaman microsleep justru membuat dirinya terbangun dengan kebingungan dan perasaan bersalah karena melewatkan sesuatu yang semestinya bisa dia perhatikan. Misalnya, ketika sudah letih berkendara, tetapi ingin tetap mengantar keluarga untuk mengunjungi sejumlah tempat wisata, mungkin saja mengalami microsleep yang berisiko pada kecelakaan, jika tidak diantisipasi.

Mengalami microsleep juga mempengaruhi harga diri seseorang, terutama ketika menerima penilaian yang kurang menyenangkan dari orang lain. Secara psikologis, komentar yang tidak sesuai harapan dari orang lain justru memberi informasi baru tentang diri seseorang. Terlebih lagi ketika komentar tersebut diterima “apa adanya” oleh seseorang yang mengalami microsleep. Apabila seseorang tersebut akhirnya bisa mengambil sisi positif dari apa yang dialaminya, tingkah laku yang muncul adalah adanya antisipasi terjadinya microsleep dengan mengelola lebih baik waktu istirahat dan beban aktivitasnya. Akan tetapi, apabila dirinya menganggap bahwa dirinya merasa tidak mampu melakukan apapun untuk mengantisipasi microsleep, dirinya lebih memilih untuk menghindar dari aktivitas-aktivitas yang berisiko memicu microsleep.

Asti pun mengaku pernah mengalaminya, terutama ketika masih kuliah. “Waktu itu, saya lebih memprioritaskan tugas selesai lebih dahulu, sehingga dapat beristirahat dalam durasi yang lebih panjang. Prinsip itu tidak berlaku ketika ternyata ada tugas tambahan lainnya yang kemudian diberikan. Tidak begitu ingat kapan persisnya microsleep dialami, beberapa kali sempat diberitahu oleh teman jika sempat tertidur sebentar ketika mengikuti kelas yang kurang interaktif. Padahal niatnya ingin mendengarkan materi yang diajarkan, tetapi apa daya, ada rasa kantuk yang tidak tertahankan dan tubuh seakan menuntut untuk beristirahat segera,” tuturnya.

Ia mengibaratkan baterai smartphone yang biasa di-charge setiap hari, tubuh juga memerlukan pengisian energi baru. Ternyata, apabila kita memutuskan untuk mengurangi waktu tidur demi melakukan sesuatu yang memerlukan waktu lebih lama, hal ini justru tidak disetujui oleh tubuh kita. “Oleh karena itu, saklar microsleep akan aktif untuk menyeimbangkan sistem kesehatan dalam tubuh kita. Dengan kata lain, waktu tidur yang berkurang akan dicicil dengan beberapa kali pengalaman microsleep. Jadi, buat pilihan yang bijak ya,” tandasnya. (Inten Indrawati)

 

To Top