Sudut Pandang

Mudik sambil Konser

Libur panjang tahun ini sedikit berbeda karena terbilang cukup panjang. Selain libur lebaran juga disambung lagi dengan libur sekolah. Karena itulah banyak keluarga memanfaatkan momentum ini untuk melakukan perjalanan, salah satunya aktivitas menjelang lebaran yang sudah mentradisi dalam masyarakat Indonesia yakni pulang kampung atau mudik.

Beberapa keluarga memilih cara unik mengisi liburan sekaligus perjalanan pulang kampung ini, seperti yang dilakukan oleh keluarga Winsa Prayitno bersama Ana istrinya beserta dua anak mereka. Kali ini Winsa yang seorang seniman itu pulang kampung ke Solo dan Semarang sambil menggelar konser bagi kedua anaknya, Lentera Biru (13) dan Jingga Bunga Hati (11).

Mengusung tajuk Konser Kecil Biru Jingga “Jalan-jalan Mudik”, Winsa melakukan perjalanan penuh makna. Menjadikan mudik mereka tahun ini penuh kegembiraan dan silaturahmi dari satu komunitas ke komunitas seni lainnya di berbagai kota yang mereka singgahi.

Menggunakan sebuah mobil jenis sedan, Winsa dan keluarganya yang tinggal di Punia Mataram ini, minggu lalu mengawali perjalanan mereka menggunakan kapal laut Legundi dari Pelabuhan Lembar menuju Surabaya. Dari sanalah mereka bertolak ke beberapa titik persinggahan pementasan Biru Jingga. Sejak 10 Juni 2018, Biru dan Jingga yang tertarik pada musik sejak kecil ini mulai menggelar konser kecil mereka di M Radio Surabaya, pukul 16.00 sembari ngabuburit.

Mereka juga mampir menggelar konsernya di Museum Musik Indonesia Malang, pada 11 Juni 2018 sore hari lalu pada malam harinya mereka main di Rumah Budaya Desa Gondowangi Kabupaten Malang di tanggal yang sama. Pentas ini berlanjut di komunitas Rumah Budaya Kalimasada Blitar, pada 12 Juni 2018 serta Biru memainkan gitar dan Jingga menggesek biolanya di Ruang Keluarga Salatiga pada 15 Juni 2018.

Setidaknya ada 10 lagu yang dimainkan oleh Biru yang mulai belajar gitar dan Jingga yang belajar biola sejak mereka duduk di kelas tiga sekolah dasar ini, dalam konser kecil mereka ini. 10 lagu tersebut yakni “Matahari Sembunyi”  dan “Terima Kasih Hujan”, lagu yang dibuat sendiri oleh Jingga, “Jangan Main Hp” karya Pipiet Tri Pitaka, “Kepunahan” ciptaan musisi kawakan Mataram Ary Juliyant,  “Ampenan” karya Imitihan Taufan pada album Jalan Harmoni, “Berita Cuaca” dari Gombloh, “Fly to The Moon” (Bart Howard), “Edelweis”, “Bersuka Ria” (Ir. Soekarno) dan “Ibu” (Iwan Fals).

Di M Radio Surabaya Biru dan Jingga juga berkolaborasi dengan penyair Rego Ilalang dalam pembacaan puisi. Sementara itu di Museum Musik Indonesia Malang keduanya berkolaborasi dengan musisi Redy Eko Prasetyo: tiga musik dawai.

Pementasan-pementasan yang digelar oleh Biru dan Jingga ini dilakukan selama perjalanan pulang mudik ke kampung halaman ayah dan ibunya. Sedangkan saat kembali ke Lombok usai lebaran nanti mereka juga akan kembali menggelar konser sambil jalan pulang. “Konser pulang ke Lombok itu akan mampir di Yogya, Solo, Nganjuk, Banyuwangi juga Denpasar menyusul. Rencananya sekalian pas balik ke lombok selepas lebaran,” kata Winsa Prayitno.

Bagi Winsa begitulah salah satu caranya mendukung bakat bermusik anak-anaknya, Biru dan Jingga yang juga tergabung dalam grup band cilik di Mataram bernama Lima Kancing Baju bersama Annisa dan Satria yang kini duduk di kelas lima sekolah dasar. Keduanya buah hati dari musisi Ary Juliant. Selain itu di Lima Kancing Baju ada Bintang Pablo (kelas 1 SD), putra dari penyanyi di Mataram Pipiet Tri Pitaka serta Mora (usia SMP) putra dari Roni pegiat LSM di Mataram. (Naniek I. Taufan)

To Top