Komunitas

KOMUNITAS GOSSIP KEDIRI: ‘DIGOSOK SEMAKIN SIP’

Lambang berlatarbelakang aneka produk digital painting

Namanya unik ‘Komunitas Gossip’. Namun jangan salah paham, komunitas itu bukannya kumpulan orang yang doyan ngerumpiin orang lain. Sebaliknya, komunitas ini adalah kumpulan orang-orang yang hobi mengeksplorasi foto menggunakan tool smudge pada sofware photoshop. Ya, mereka adalah komunitas penggemar digital painting. Lalu kenapa nama komunitas menjadi Gossip?

“Gossip itu singkatan dari ‘Di Gosok Semakin Sip’.  Maksudnya ya foto yang ‘digosok’  lewat komputer hasilnya jadi makin sip,” ungkap Lambang, anggota Komunitas Gossip yang ditemui di sebuah pameran kerajinan di Jakarta.

Menurut Lambang, komunitas tersebut sudah berdiri cukup lama yakni sekitar delapan tahun yang lalu atau sekitar 2010. Anggotanya pun cukup banyak, namun karena  masing-masing anggota punya kesibukan sendiri maka perkembangannya pun naik-turun.  Dari ratusan  anggota, yang tergolong aktif dalam artian rajin  berproduksi sekitar 25 orang.

“Maklum, namanya juga komunitas hobi. Ramai kalau sedang ada event, ‘sepi’ kalau sedang tidak ada kegiatan,” ujar Lambang sambil menambahkan anggota Gossip tak terbatas hanya di Kediri tapi juga di kota lain.

Sebagai anggota, kata lelaki kelahiran 1994 ini, dirinya baru dua tahun menekuni bidang ini. Awalnya, tutur lelaki yang membangun bisnis aneka kreativitas digital painting dengan brand Galeri C59 ini, dirinya adalah fotografer yang tergabung dalam Komunitas Fotografer Kediri.

Ternyata banyak anggota Komunitas Fotografer Kediri juga menjadi anggota Komunitas Gossip. “Saya penasaran ketika diperlihatkan karya teman-teman membuat kreasi yang mirip lukisan dengan menggunakan sofware photoshop di komputer. Hasilnya unik dan bisa diaplikasikan pada berbagai media seperti kayu. Lalu saya pun masuk jadi anggota sekalian belajar,” tutur Lambang.

Awalnya  kegiatan tidak terlalu banyak. Biasanya, tambah Lambang, secara berkala anggota melakukan kopdar (kopi darat) atau temu muka. “Kalau kopdar biasanya kita saling share perkembangan masing-masing, kadang kita juga dapat pelatihan dari Pak Bayu Seno yang juga pembina komunitas. Pak Bayu yang paling paham digital painting karena beliau jauh lebih dulu menggeluti bidang ini. Dia jadi tempat bertanya kami tentang berbagai hal,” paparnya.

Untuk makin meningkatkan skill masing-masing, biasanya komunitas mengadakan kegiatan berkreasi dengan foto yang sama. “Menariknya dari kegiatan ini, hasil karya setiap orang, meski yang menjadi model foto sama, tapi hasilnya berbeda-beda. Setelah itu kita pun melakukan evaluasi,” jelas Lambang  sambil menambahkan tahun lalu Komunitas Gossip menggelar pameran karya artis-artis komunitas.  Tema pameran ‘Tokoh-Tokoh Ulama Nusantara’.

Pameran tersebut banyak mendapat apresiasi, khususnya dari masyarakat Kediri. Mereka kagum karena hasil digital painting sepintas mirip dengan lukisan. Tujuan pameran, tambahnya, salah satunya adalah untuk menyosialisasikan karya digital painting kepada masyarakat.

Terkait sosialisasi, lanjutnya, Komunitas Gossip juga membuka pelatihan-pelatihan untuk masyarakat yang tertarik menekuni  bidang yang di Kediri terbilang masih baru. “Kami juga menggelar pelatihan-pelatihan digital painting di sekolah-sekolah, khususnya di SMK/SMA di Kediri, bahkan di luar Kediri. Tujuannya sosialisasi agar digital painting makin dikenal,” ucapnya.

Belajar digital painting, tuturnya, tidak harus memiliki bakat melukis. Semua orang bisa mengerjakannya asalkan bisa mengoperasikan komputer dan memahami kerja tool smudge photoshop. Meski memang, jelasnya, bagi mereka yang memiliki bakat melukis hasil karyanya terasa berbeda dibanding yang tidak memiliki. “Taste berbeda ya. Kalau yang punya bakat melukis, biasanya kreasinya lebih hidup,” ucapnya.

BANYAK ORDERAN MAKIN SEMANGAT BERKARYA

Tentang komunitas, cerita Lambang, dalam dua tahun terakhir terasa lebih ‘hidup’. Hal ini lantaran kini kegiatan komunitas tidak hanya sekadar ngumpul-ngumpul dan share pengalaman, tapi juga sudah berdampak ekonomi. Para artis kini rajin berproduksi karena hasil karya mereka sudah ada yang menampung untuk dijual.

“Jadi teman-teman artis tinggal berkarya saja, nanti ada tim marketing yang menjualkan. Marketing juga bertugas mencari orderan untuk artis-artis di komunitas. Ini membuat teman-teman makin semangat,” ujarnya.

Dirinya, kata Lambang lagi, kini memilih menjadi marketing produksi komunitas ketimbang berproduksi sendiri. “Karena saya paham urusan produksi, juga bisa digital painting, membuat urusan penjualan jadi lancar. Banyak konsumen atau calon konsumen bertanya tentang produksi digital painting, dan saya bisa menjelaskan dengan detai,” ucapnya.

“Termasuk bila konsumen  minta koreksi hasil karya artis, saya bisa langsung mengomunikasikan pada artisnya. Maklum ya namanya artis kalau dikomplain langsung  oleh konsumen, kan kadang bikin mood-nya hilang. Nah kalau saya yang mengomunikasikan, bisa diterima, karena saya menunggu hingga mood si artis sedang bagus,” papar Lambang yang mengaku menikmati pekerjaannya sebagai marketing.

Untuk memasarkan produksi digital painting karya artis komunitas, antara lain lewat medsos. Ternyata hasilnya luar biasa, karena dari medsoslah orderan datang tidak hanya dari konsumen di daerahnya tapi juga di luar Kediri. Yang juga menarik ketika orderan bertambah banyak, kini komunitas menjadi sibuk.

“Jadi kita punya tim artis yang memproduksi, kita juga punya tim yang mengerjakan piguranya. Jadi sudah bagi-bagi tugas. Tapi di sisi lain, kita juga punya tim yang bekerja memberi pelatihan-pelatihan kepada masyarakat juga sekolah-sekolah,” jelas Lambang sambil menambahkan komunitasnya kerap diundang ke luar daerah Kediri untuk memberi pelatihan digital painting. “Jadi sekarang ini kami lumayan sibuk,” ungkap Lambang yang selama Ramadan ini kebanjiran orderan.

Dengan semakin giatnya Komunitas Gossip melakukan sosialisasi, Lambang berharap digital painting makin dikenal luas. Seiring dengan itu, Komunitas Gossip pun semakin berkembang dan keberadaannya bisa memberi nilai tambah secara ekonomi kepada para anggotanya. “Jadi bukan sekadar hobi saja tapi juga mendapat nilai tambah secara ekonomi,” ucapnya. (Diana Runtu)

 

 

To Top