Bumi Gora

Lapas Perempuan Kelas III Mataram Pendekatan dengan Empati

Bersih dan rapi, begitulah kesan pertama yang terlihat saat memasuki Lapas Perempuan Kelas III Mataram. Meski di sana sini terlihat jemuran para penghuni Lapas yang berjumlah 65 orang tersebut, suasana masih terasa relatif nyaman. Di depan bangunan Lapas tersebut, ada sebuah berugak tempat para nara pidana perempuan ini berinteraksi dengan para rekannya juga dengan para petugas Lapas. Hari itu, suasana kekeluargaan antar para perempuan penghuni Lapas dan juga dengan para petugas terlihat terbangun dengan baik.   Pemandangan ini terasa mengasikkan. Hubungan yang penuh kekeluargaan ini menghilangkan kesan “seram” sebuah Lapas yang selama ini kerap melekat. Hubungan baik yang terbangun antar para nara pidana perempuan yang kebanyakan (lebih dari setengahnya) adalah terpidana narkoba ini dengan para petugas Lapas, menjadikan proses pembinaan dalam Lapas ini berjalan dengan baik.  Tiada suara keras atau pun bentakan dari para perugas dalam menertibkan para penghuni, melainkan yang ada adalah dialog dan bicara. Para petugas Lapas pun bahkan bergantian menggendong bayi-bayi para narapidana yang terlahir dalam Lapas ini. Mereka turut membantu merawat dan mengasuh bayi dan anak-anak di bawah usia dua tahun itu. Setidaknya pada bulan Juni 2018 ini, ada empat bayi dan anak-anak yang masih bersama ibunya dalam Lapas tersebut.

Zuhaeratun Ulumi, Kasubsi Pembinaan Lapas Perempuan Kelas III Mataram ini mengungkapkan, pola pembinaan para warga binaan pemasyarakatan khususnya di Lapas Perempuan Kelas III Mataram ini memang dilakukan dengan pendekatan kekeluargaan. Menurut Zuhaeratun, Kepala Lapas Perempuan Kelas III Mataram, Titik Daryani, Amd.IP.SH.MH, selalu menekankan agar para petugas dekat dan juga memberi perhatian serta empati kepada warga binaan. Semua ini dilakukan agar tujuan pembinaan bagi warga binaan dapat tercapai dengan baik.  Karena itulah, selama ini suasana dalam lapas perempuan ini terbilang adem-adem saja. “Jika ada yang murung atau ada masalah, kami selalu mengajak mereka mengobrol dan mendiskusikan masalah yang mereka hadapi dengan sama-sama mencarikan solusinya,” ungkap Zuhaeratun. Diskusi dan solusi itu tetap berpegang pada aturan-aturan yang berlaku bagi warga binaan. Masalah yang mereka hadapi biasanya salah satunya kangen pada keluarga atau saat mereka mendapat kabar bahwa di keluarga mereka ada masalah. Saat mereka bersedih, para petugas yang rata-rata perempuan ini selalu menghibur mereka.

Perhatian bukan saja sebatas soal itu, para petugas juga selalu memperhatikan bahkan sampai soal ketika mereka lalai menjalani ibadah. “Kalau ada yang terlihat berhari-hari tidak salat (bagi yang beragama Islam), petugas akan bertanya dan mengingatkannya. Karena kami ingin selama mereka dibina di sini (Lapas Perempuan) ada perubahan yang lebih baik sebagai bekal untuk mereka ketika kelak mereka bebas dan bisa diterima kembali dengan baik oleh masyarakat,” kata Zuhaeratun yang ditemani oleh Indriawati, Kaur Kepegawaian Lapas Perempuan Kelas III Mataram.

Warga binaan di lapas perempuan ini diberi tanggung bersama untuk mengurus kebersihan dan kerapian Blok B tempat mereka tinggal. Jadwal piket diatur sedemikian rupa untuk menjamin kebersihan dan kerapian lapas ini sehingga mereka bisa hidup dengan sehat meski harus berdesakan. Bagaimana tidak, lapas ini kapasitas idealnya seharusnya hanya dihuni oleh 20 orang, namun karena keterbatasan ruangan menjadi overload dihuni oleh 69 orang (65 narapidana dan tahanan serta 4 orang bayi dan anak-anak).

Dalam keterbatasan inilah lapas perempuan ini menjadwalkan dengan ketat disiplin mengenai kebersihan dan kenyamanan lapas. “Jadwal piket sudah diatur sedemikian rupa agar blok ini tetap bersih dan rapi semaksimal mungkin,” ungkap Sinta, Kasubsi Keamanan dan Ketertiban Lapas Perempuan Kelas III Mataram.

Dengan kapasitas overload seperti itu, usai salat Isya berjamaah para warga binaan mengatur diri ketika tidur malam menjejerkan dengan rapi matras-matras sebagai tempat tidur mereka di ruang-ruang kosong yang tersisa. Esok harinya mereka merapikan kembali matras-matras tersebut dengan cara disusun rapi di teras samping blok mereka ini karena harus tetap ada tersisa ruang kosong di dalam blok untuk aktivitas mereka terutama untuk tempat salat berjamaah. Mereka melakukan salat berjamaan pada setiap waktu salat bagi yang beragama Islam.

Menurut Sinta,  disiplin dalam hal ini memang benar-benar diperhatikan agar para warga binaan perempuan ini dpat hidup dalam suasana yang manusiawi meski dengan segala keterbatasan dan kekurangan sarana dan prasarana. Hal inilah yang kemudian membuat para warga binaan mengaku “betah” selama berada di lapas ini. Mereka bahkan merasakan lapas ini sebagai sebuah asrama.

Di dalam lapas perempuan ini juga para warga binaan diberi pelatihan berbagai keterampilan sebagai bekal yang akan mereka bawa ketika kelak bebas usai menjalani hukuman di lapas ini. Naniek I. Taufan

To Top