Kolom

Suami Suka Menggigit

Tanya:
“Dok, sudah empat tahun saya menikah, selama ini hubungan intim dengan suami berjalan biasa saja. Tapi ada yang aneh belakangan ini. Suami saat mencumbu saya, suka menggigit bibir, payudara, lengan dan paha saya. Jadinya memar-memar. Dia bilang sangat menikmatinya, dan anehnya saya juga terkadang malah menikmati rasa sakitnya selama berhubungan seksual. Ini bagaimana, Dok?” (Ros,29)

Jawab:
Mengalami rasa sakit atau nyeri saat berhubungan seksual juga pernah saja dialami oleh hampir semua orang dan digigit pastinya akan menimbulkan rasa nyeri, atau paling tidak akan membuat rasa tidak nyaman. Logikanya rasa sakit atau rasa tidak menyenangkan tentu saja akan mengganggu hubungan seksual. Tetapi, pada kenyataannya cukup banyak juga orang yang menikmati saat memberikan rasa sakit terhadap pasangannya, melihat pasangannya merintih malah membangkitkan kepuasan baginya, dan di lain pihak justru pasangannya di saat nyeri muncul malah merasakan kenikmatan yang berbeda dari biasanya, atau dianggap sebagai sebuah pengalaman seksual baru yang berbeda, dan bisa dinikmati.
Tentu saja akhirnya ini akan berbatas tipis dengan pelaku Sadomasokisme (Sadism and Masochism). Di mana yang satu sangat bergairah secara seksual dengan menyakiti, satunya lagi malah senang dengan disakiti. Pada Sadomasokisme, kenikmatan seksual didapatkan dari interaksi di satu pihak mengambil porsi dominan, dengan merasa menguasai pasangan dengan melakukan kekerasan atau tindakan menyakiti, sedangkan pihak yang lain mengambil porsi submisif, di pihak yang dikuasai, yang menyerahkan diri untuk disakiti dengan menikmati nyeri tanpa ada hubungan seksual yang penetratif. Jadi, tanpa hubungan seksual yang sesungguhnya, itu yang disebut Sadomasokisme. Sedangkan aktivitas menggigit dan rasa sakit yang muncul yang dimaksud oleh penanya kali ini adalah terjadi dan dilakukan sambil melakukan hubungan seksual penetratif penis- vagina, di sini bedanya.
Hubungan antara ingin menyakiti, rasa sakit dan kesenangan dalam seksualitas manusia adalah sangat kompleks. Tidak bisa dipungkiri banyak pasangan saat melakukan hubungan seks bisa dikejutkan oleh kenikmatan mendalam yang menyatu dengan rasa sakit. Rasa sakit yang kerap muncul malah bisa ditunggu-tunggu kehadirannya untuk dinikmati.
Cinta, seks, rasa sakit dan aktivitas kekerasan fisik maupun psikis dapat merangsang pelepasan bahan kimia dan hormon yang sama dalam otak dan tubuh manusia. Endorfin yang menjadi biang rasa senang dan nikmat yang dirasakan tubuh, sesungguhnya dapat dilepaskan dalam pengalaman yang menyakitkan sekaligus rasa menyenangkan. Stres dan sakit juga dapat merangsang produksi serotonin serta melatonin di otak yang mengubah pengalaman menyakitkan menjadi rasa menyenangkan. Pelepasan epinefrin secara mendadak juga dapat menyebabkan kemunculan tiba-tiba rasa menyenangkan saat bersamaan merasakan sensasi nyeri.
Di saat seseorang sedang menuju orgasmenya, di saat tersebut akan mengalami peningkatan toleransi terhadap rasa nyeri. Artinya, akan cenderung tidak mudah merasakan sakit. Setiap orang sejalan dengan pengalaman seksualnya akan memiliki kemampuan untuk mengontrol ereksi, orgasme dan ejakulasinya selama dia sanggup menyingkirkan pengaruh stres psikis dan dalam keadaan sehat fisik. Itu artinya, dia juga akan mampu menarik ulur kontrol rasa nyeri ini, apakah akan diterima sebagai rasa nyeri yang menyakitkan dan akan menjadi pengalaman buruknya dalam hubungan seksual, atau malah sebaliknya menikmati rasa nyeri itu sebagai sensasi yang menyenangkan. Sesungguhnya ini bisa menjadi pilihan dan bisa dikondisikan atau dilatih.
Jadi, dalam kasus seperti di atas sesungguhnya, salah satu inti dari menikmati seks adalah dengan mengeksplorasi ekspresi dan variasi seksual. Jangan takut untuk bereksplorasi dan mengontrol diri untuk menikmati rasa nyeri sekalipun, asal tidak melibatkan bahan-bahan dan alat-alat yang berbahaya. Tetapi ingat, bila rasa nyeri itu memunculkan rasa tidak nyaman dan malah menyakitkan, beri tahu pasangan untuk menghentikannya segera.

Paling Populer

To Top