Sudut Pandang

Kenalkan Literasi sejak Dini

Ni Kadek Sonia Piscayanti, M.Pd.

Di dalam keluarga yang kuat terjalin komunikasi antaranggota keluarga dan interaksi sosial yang hangat.  Interaksi sosial sangat diperlukan untuk mempererat hubungan antaranggota keluarga utamanya antara orangtua dan anak. Salah satu bentuk interaksi sosial dalam penerapan pola asuh anak untuk membentuk karakter buah hati sejak dini.

Bentuk pola asuh anak tiap orangtua berbeda sesuai dengan latar belakang pendidikan maupun sosial orangtua itu sendiri. Penerapan pola asuh yang salah tentu akan berdampak buruk terhadap perkembangan anak. Hal ini juga disampaikan oleh akademisi Undiksha, Ni Kadek Sonia Piscayanti, M.Pd.

Sonia sapaan akrab perempuan yang saat ini menjabat sebagai dosen Pendidikan Bahasa Inggris di Undiksha ini mengatakan sebagai seorang akademisi dirinya sedini mungkin memperkenalkan pendidikan dalam penerapan pola asuh anak. Uniknya, pendidikan yang dikenalkan adalah pendidikan yang berbasis seni dan budaya. “Saya bergerak di bidang pendidikan dan komunitas sehingga apapun yang saya lakukan di dua bidang tersebut selalu melibatkan anak-anak. Misalnya mengajar, pementasan, bedah dan peluncuran buku,” ungkapnya.

Dengan melibatkan anak dengan kegiatan yang ia lakukan maka anak akan memiliki wawasan dan sedini mungkin untuk mengetahui potensi yang dimiliki anak. “Pola asuh yang saya terapkan natural saja tidak dibuat-buat dan tidak dipaksakan tetapi dilibatkan,” tutur istri dari Made Adnyana ini.

Pola asuh dengan menirukan apa yang dilakukan orang tua, bagi Sonia adalah cara efektif untuk mengajari anak. Anak tidak akan mudah mengikuti jika tidak diberikan contoh secara langsung. Sangat mencintai dunia seni dan budaya membuat Sonia berupaya mengenalkan budaya literasi sejak dini kepada anak. “Anak pertama bahkan sangat menyukai buku-buku berbahasa Inggris yang menarik perhatiannya dan dengan sendirinya dia termotivasi untuk melakukan apa yang orang tuanya lakukan,” jelas ibunda dari Putu Putik Padi dan Kadek Kayu Hujan ini.

Meskipun mengarahkan sang anak untuk mencintai seni dan budaya, akan tetapi penulis novel Perempuan Tanpa Nama ini tidak pernah memaksa jika anak tidak merasa nyaman. “Kebetulan saya melihat anak memang senang dan bakatnya memang mengarah ke dunia yang sama dengan saya,” ungkapnya. Dirinya juga sempat menawarkan anak ke “dunia lain” akan tetapi ia melihat sang anak lebih lekat dengan dunia pendidikan dan seni. “Saya dan suami menganggap bahwa dunia ini bagus dan membuat pikirannya terbuka sehingga tidak ada alasan untuk tidak melibatkan anak,” imbuhnya.

Dengan mengenalkan dunia pendidikan sejak dini, Sonia mengaku ingin sang anak menghasilkan sesuatu dari yang telah dipelajari. Dirinya selalu memberi pemahaman bahwa membaca banyak buku berarti harus menunjukkan produk dari hasil membaca. Banyak membaca diibaratkan seperti banyak minum air, sehingga harus ada cairan yang dikeluarkan agar sirkulasinya bagus. “Saat ini dia lebih senang menyerap dan memang masih masa-masa menyerap, tetapi dia sudah mulai belajar menulis dengan mengikuti lomba mengarang. Saya tidak menuntut tetapi memotivasi dengan memberi pemahaman bahwa ayah dan ibunya adalah seorang penulis dan mempunyai buku, trus Putik kapan punya buku,” tambahnya

Mengenalkan anak dengan dunia pendidikan bukan berarti Sonia menjauhkan anak dari perkembangan dunia teknologi.  Bahkan di usianya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar, Putik sudah pandai searching  di Google.  Perkembangan dunia teknologi justru ia manfaatkan untuk mendukung pendidikan anak. “Ya awalnya saya kurang setuju kalau Putik sudah menggunakan HP tetapi memang ada bagusnya juga dia bisa belajar bahasa Mandarin dari sana. Tentu penggunaannya harus selalu diawasi,” pungkasnya.(Wiwin Meliana)

 

 

To Top