Sudut Pandang

Pendidikan Pertama dan Utama di Keluarga

Retno Listyarti

Baru-baru ini masyarakat dihebohkan dengan tayangan video di media sosial seorang anak dengan lantang mengatakan akan membunuh Presiden Joko Widodo. Sebelumnya, muncul kasus murid kelas VIII yang bunuh diri lantaran mendengar gosip  bakal tidak naik kelas. Ada lagi kasus anak SD menghamili pacarnya yang SMP. Tiga contoh kasus tersebut menggambarkan betapa mengerikannya perkembangan anak-anak milenial jika kurangnya pendidikan dan pengawasan orangtua.

Menurut Retno Listyarti, Komisioner  Komisi Perlindungan anak Indonesia (KPAI), prilaku anak tergantung dari pola asuh di dalam keluarga, bagaimana orangtua membesarkan anaknya. “Anaknya akan sekuat apa, tumbuh kembangnya seperti apa, itu sangat bergantung pada pola asuh keluarga. Jadi pendidikan pertama dan utama itu berada di keluarga. Prilaku anak 70% meniru lingkungannya. Apa yang dia tahu, ditirunya,” ujar Retno.

Dengan melihat beberapa contoh kasus yang peristiwanya baru saja terjadi, anak-anak tersebut adalah korban salah asuhan. Karena jika anak-anak tersebut dibekali nilai-nilai positif, penghargaan terhadap perbedaan, tentu anak-anak tersebut akan tumbuh seperti itu juga.

“Misalnya anak yang bunuh diri karena mendengar kabar bakal tidak naik kelas. Kan yang pertama harus dilihat adalah bagaimana seorang anak mengatasi ketakutan dan emosinya. Secara mental anak berbeda dengan orang dewasa yang emosinya sudah matang. Anak ini ketakutan, takut dimarahi orangtua, dll, sehingga stres. Sementara tidak ada tempat untuk mengadu, curhat, akhirnya memilih mengakhiri hidupnya,” tutur Retno.

Padahal,  andaikan dia memiliki keluarga yang  hangat, harmonis, apa saja bisa diceritakan dan orangtua mau mendengar, maka anak tidak perlu ketakutan seperti itu. Karena orangtua akan memberi solusi kepada anak, misalnya mengajaknya ke sekolah dan menanyakan pada wali kelas. “Tapi yang terjadi sebaliknya, si anak memendam sendiri masalahnya karena tidak punya tempat untuk berbagi,” jelas mantan kepala sekolah ini. Di sinilah peran orangtua, kakak, keluarga.

Kasus anak SD menghamili anak SMP pun demikian, itu adalah masalah pola asuh dan kurangnya kontrol atau pengawasan orangtua pada anak. “Bayangkan, anak sekecil itu bisa melakukan hubungan intim, ini bagaimana? Mereka kan nggak mungkin ke hotel. Jadi pastilah dilakukan di lingkungan rumah. Lha, bagaimana orangtuanya, pengawasannya? Jadi anak jadi korban,” ucap peraih penghargaan pendidikan dari Toray Foundation ini.

Sama halnya dengan kasus anak yang mengancam membunuh Presiden. Dia tentu tidak mengerti risiko, bahayanya. Dia tidak tahu kalau ada pasal dalam KUHP yang mengancam dirinya jika melakukan penghinaan pada Kepala Negara, apalagi mengancam membunuh. Video ini, kabarnya telah dibuat tiga bulan lalu, namun baru sekarang diunggah di medsos.

“Ini artinya orangtua tidak mengontrol anaknya. Kalau orangtua mengontrol, misalnya membuka ponsel atau laptop anaknya, memeriksa, pasti video itu akan ditemukan. Orangtua bisa menjelaskan tentang bahayanya sehingga bisa dihapus. Tapi nyatanya video itu lolos dan terunggah di medsos sehingga menghebohkan,” papar mantan Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia.

PAHAMI PRINSIP MENDIDIK

Ia menegaskan  anak tetaplah anak, bukan manusia dewasa. Dia tidak punya pola pikir panjang, tidak tahu risiko dan bahaya. Di situlah kehadiran orangtua diperlukan untuk pendampingan. Kasus-kasus tersebut muncul karena adanya masalah pada pola asuh dan pengawasan di lingkungan keluarga.

Diakuinya juga pesatnya kemajuan teknologi komunikasi saat ini memberi pengaruh besar pada anak-anak milenia. Baik itu pengaruh positif maupun negatif. Untuk pengaruh negatif, sebenarnya itu bisa diminimalisir lewat pendidikan dan pengawasan dari orangtua.

Misalnya, ketika orangtua membelikan anak gadget entah itu HP ataupun laptop, haruslah juga disertai pengawasan pada penggunaannya. “Misalnya, anak pulang sekolah langsung masuk kamar, nggak keluar-keluar. Kita tahu nggak si anak ngapain di kamar? Bagaimana kalau dia mengakses video porno. Itu juga yang terjadi pada anak SD yang menghamili anak SMP, dia sering mengakses video porno kemudian mempraktikkannya,” tutur Retno.

Kalau orangtua mengawasi tentu tidak terjadi hal demikian. Orangtua bisa membuka HP atau laptop anaknya untuk mengetahui apa saja yang tersimpan di sana, apa saja yang diakses atau diunduh anak-anaknya.  “Kan ada history-nya, jadi orangtua bisa tahu apa saja yang diakses anak,” tambahnya.

Retno lalu mencontohkan sikap dirinya kepada anak-anaknya yang kini berangkat remaja. “Ketika membelikan gadget pada anak, saya selalu bilang, ini barang mama dan papa pinjamkan untuk kamu. Jadi tidak boleh di password. Mama-papa akan mengeceknya apa yang kamu lakukan pada gadget ini,” katanya.

Ada yang menyebut mendidik anak-anak milenial lebih sulit dibandingkan anak-anak dulu. Retno tidak sependapat dengan hal itu. Dia malah menyebut mendidik anak adalah mudah. Prinsip-prinsip mendidik anak, mudah dipahami. Misalnya, jika Anda tidak suka dimarahi, tidak suka dijewer, dipukul, dipaksa-paksa, maka jangan lah melakukan itu pada anakmu, karena dia pasti tidak akan suka.

“Misalnya, anak disuruh les macam-macam. Dia pulang sekolah sudah sore masih disuruh les padahal dia cape. Padahal anak punya keinginan bermain, dll. Sebagai orngtua harusnya kita tahu keperluan dan kemauan anak. Yang harus dipahami, sekalipun itu anak kandung, tapi  sesungguhnya anak bukanlah milik orangtua dalam artian bisa diperlakukan semaunya. Anak sebagai manusia memiliki martabat, harkat dan derajat yang harus dihormati. Jadi jangan dipukul, dipaksa-paksa, atau apapun semau orangtuanya,” ungkap Retno.

Jika ingin dekat dengan anak-anaknya maka bangunlah komunikasi yang baik dengan anak, bangun suasana yang nyaman sehingga anak menjadi terbuka pada orangtua. Dengan begitu orangtua menjadi mudah mengawasi anak. “Anak-anak saya lebih suka membawa teman-temannya ke rumah, dan saya pun dengan senang hati menyiapkan makanan atau apapun yang membuat mereka betah bermain. Dengan begitu saya juga bisa mengawasi anak,” katanya.

Sayangnya orangtua zaman sekarang yang selain sibuk bekerja dia juga sibuk dengan ‘HP’-nya ketika di rumah, ketimbang berkumpul atau ngobrol dengan anak-anaknya. Maka tak heran kalau anak-anak pun berkembang seperti itu juga. Padahal anak, sekalipun dia sudah besar, mereka tetap suka dipeluk atau disentuh orangtuanya. Namun yang terjadi orangtua sibuk dengan dirinya sendiri. Maka jangan heran kalau anak pun akan demikian. Jadi menurutnya, seberapa pesatnya pun perkembangan teknologi-komunikasi saat ini, dia tidak akan ‘merusak’ anak jika pola asuh dan pengawasan terhadap anak berjalan dengan baik. (Diana Runtu)

To Top