Sudut Pandang

Luangkan Waktu untuk Anak

dr. I Gusti Agung Ayu Decy Partiwi

Anak merupakan  karunia Tuhan yang sangat berharga. Orangtua pasti ingin mendidik mereka menjadi anak yang mulia. Bukan perkara mudah sebab dalam kenyataannya, orangtua akan menghadapi tantangan yang cukup berat. Pola asuh menjadi hal mendasar bagi orangtua dalam mendidik anak-anak milenial ini. Begitu diucapkan  dr. I Gusti Agung Ayu Decy Partiwi, Sekretaris APSAI Kota Denpasar

Era digital identik dengan teknologi gadget. Kadang kala  orangtua menggunakan kekuatan tersebut sebagai cara instan menenangkan anak-anak. Misalnya saat balita menangis, tidak bisa diam, atau ribut. Inilah yang menjadi sumber permasalahan dalam  mendidik karakter anak ke depannya. Teknologi sudah menjadi kebutuhan primer bagi sebagian besar orang  termasuk anak-anak, bahkan sangat sulit untuk dipisahkan.

Meski demikian menurut dokter Decy, penggunaan teknologi jangan hanya dipandang dari sisi negatif, tapi tetap ada sisi positifnya juga. Kita lihat perkembangan ilmu pengetahuan anak-anak sekolah zaman now baik dari tingkat SD hingga SMA sangat luar biasa.

“Saya sebagai orangtua, meski sarjana, tidak mampu mengikuti perkembangannya. Makanya, suka atau tidak suka harus memberikan kebebasan pada anak  bertanya kepada “mbah Google”. Di sini sisi  positifnya, era digital ini, yang namanya  teknologi sangat membantu proses belajar anak, untuk menambah referensi  dari tugas mereka. Selain itu memudahkan kami menjalin komunikasi atau memantau  mereka ketika sedang di luar rumah” ucap ibu 3 anak yang masih duduk di bangku SD,SMP dan SMA ini.

Dikatakannya menjadi dampak negatif ketika kita sebagai orangtua kurang bijak , misalnya membiarkan anak-anak menggunakan gadget tanpa batas. Perlu ada aturan dan batasan sejak dini. Sebab, beberapa efek negatif teknologi canggih menjadikan anak kurang perkembangan keterampilan, terlambat perkembangan bahasa, kurang bersosialisasi atau kurang peduli dengan lingkungan sekitar, utamanya anak usia dua tahun atau balita. Bukan hanya itu, perkembangan gerakan motorik kasarnya pun kurang karena lebih banyak melakukan akitvitas pasif sehingga anak menjadi kurang sigap. “Jadi, penggunaan teknologi sejak dini ke depannya berdampak pada emosi anak. Mereka akan menjadi labil dan prestasi belajar akan menurun,” tandas Ketua PKK Banjar Taman Sari, Sanur ini.

Melihat kondisi ini, selaku orangtua, dr. Decy berusaha memberikan pengertian sejak dini dan memberikan batasan waktu dalam memakai gadget, selain untuk menyelesaikan tugas sekolah. “Ada reward and punishment pasti. Saya dan suami  biasa membagi tugas jika anak memerlukan bantuan dalam urusan tugas sekolahnya. Prinsipnya, untuk lebih mudah memahami mereka kami menerapakan komunikasi terbuka sembari memasukan nilai-nilai postif  dalam menggunakan teknologi. Bagaimanapun sibuknya, kami setiap hari meluangkan waktu untuk berkomunikasi dan berdiskusi dengan anak-anak. Kami menciptakan hubungan tidak hanya sebagai orangtua tetapi lebih menjadi teman dan sahabat,” paparnya.

 

PERMAINAN EDUKASI

Ia juga mengatakan selain peranan orangtua, pemerintah dan masyarakat juga mesti ikut aktif memperhatikan pola asuh anak. Hal ini  ditekankannya juga saat menjalankan tugasnya sebagai seorang narasumber daerah dan penyuluh di PPKS (Pusat Pelayanan Keluarga Sejahtera ) Jempiring di DP3AP2KB dalam memberikan konseling, konsultasi dan penyuluhan kepada kader , PKK, toga, tomas di masyarakat terkait tumbuh kembang anak, pola asuh anak dan remaja dalam keluarga juga cara menstimulisasi perkembangan anak dan lainnya. Tujuannya meningkatkan pengetahuan para kader PKK agar dalam mengasuh anak-anaknya bisa dengan baik dan sekaligus memberikan bekal penyuluhan kepada masyarakat terutama orangtua tentang mengasuh anak dan remaja.

Selain itu, dr. Decy juga mengunjungi kelompok kegiatan balita seperti BKB (Bina Keluarga Balita ) dan Posyandu,untuk memberikan pembinaan terhadap kelompok tersebut, agar lebih terarah . “Dan, dengan kelompok BKB, anak anak pun diharapkan dapat mengurangi penggunaan gadget untuk bermain. karena di kelompok BKB tersedia alat permainan edukasi,” ucap perempuan yang belum lama ini diangkat sebagai Fasdar (Fasilitator Daerah ) terkait PATBM (Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat ) yakni suatu gerakan mencegah terjadinya tindak kekerasan pada anak dan respon cepat jika kekerasan terjadi.

Sebagai salah satu pemerhati anak, melalui APSAI (Asosiasi Perusahaan Sahabat Anak Indonesia ) Kota Denpasar, sejak bergabung di tahun 2016 dan ditunjuk sebagai Sekretaris, ia ikut memberikan dukungan penuh kepada anak-anak yang membutuhkan pertolongan dan juga ikut mendukung dan berpartisipasi dalam program pemerintah Kota Denpasar khusunya yang berkaitan dengan anak, terutama dalam mewujudkan Denpasar menjadi Kota Layak Anak. (Sri Ardhini)

To Top