Sudut Pandang

Ketahui Mood Anak

Di era globalisasi, teknologi komunikasi makin canggih memudahkan semua orang untuk mengakses informasi, termasuk informasi-informasi yang dulunya tidak mudah didapat. Hanya dengan bermodalkan internet maka hampir semua hal bisa diakses. Kondisi ini sadar ataupun tidak ikut berperan atas terjadinya perubahan di dalam kehidupan dan nilai-nilai di dalam masyarakat, termasuk pola pergaulan anak muda. Inilah yang menjadi salah satu kecemasan orangtua.

Arus perubahan itu tak dapat dihindari maka jalan satu-satunya untuk memasukkan arahan-arahan, pemahaman-pemahaman apa yang seharusnya dilakukan oleh anak adalah jika komunikasi orangtua dan anak terjalin baik. Untuk membangun komunikasi yang baik dengan anak adalah menghadirkan kenyamanan pada si anak sehingga ia mau bercerita tentang apa yang dialaminya dan apa yang ingin diketahuinya. Dengan begitu orangtua, melalui cerita si anak, bisa mengikuti perkembangan anak-anaknya, khususnya dalam aktivitas di luar rumah.

Indy Barens, presenter kondang, sangat menyadari hal itu. Dia sadar tidak bisa mempraktikkan pola didikan yang diterimanya di masa kecil kepada anak-anaknya karena era memang sudah berbeda. Sekalipun diakuinya dirinya adalah ibu yang posesif, dia berusaha menekan egonya dan berusaha menahan diri demi komunikasi yang lancar dengan anak-anaknya.

“Mendidik anak zaman sekarang berbeda. Kalau dulu misalnya, kalau kita pulang sekolah muka cemberut, wah kita langsung kena ‘semprot’ (kena tegur) orangtua. Tapi sekarang kalau melihat anak kita mukanya cemberut ketika dari luar, pas pulang sekolah misalnya, kita jangan langsung menegur atau menanyai. Jadi kita cari pendekatan lain,” ungkap Indy bercerita tentang bagaimana menangani kedua anaknya.

Anak sekarang, tidak bisa dikuntit oleh orangtuanya setiap waktu, tidak bisa juga selalu dicecar dengan pertanyaan. Orangtua zaman sekarang harus lebih bersabar menghadapi mereka.  Yang terpenting, mengetahui mood anaknya.

Kalau kondisi belum memungkinkan, dia tidak akan bertanya-tanya. Setelah lebih tenang, biasanya barulah anaknya bercerita apa yang menjadi masalahnya. “Jadi yang terpenting adalah membangun kenyaman pada anak, jika dia tahu orangtuanya tidak ‘rese’, dia akan cerita sendiri. Jadi harus rendah hati, tekan emosi,” ungkap Indy yang sejauh ini strategi yang digunakan dalam menangani kedua anaknya Raphael (16) dan Manuel (9) berhasil. Setidaknya membuat Indy dapat mengetahui perkembangan anak-anaknya di luar rumah, baik dalam pergaulan, urusan sekolah maupun lain-lain.

ORANGTUA JADI CONTOH

Kemajuan teknologi dan komunikasi termasuk derasnya berbagai informasi yang membanjiri masyarakat juga termasuk salam satu kecemasannya. Untuk itu, dia selalu bertanya kepada sang anak tentang info-info terkini yang didapat mereka, apa saja yang dibaca atau apa saja yang diperbincangkan dengan teman-temannya. Dengan begitu dia menjadi tahu sejauh mana pengetahuan anaknya tentang suatu hal dan dia akan membantu memberi penjelasan lebih jauh.

Hal ini, katanya, harus dilakukan agar anak tidak begitu saja percaya info yang didapatnya apalagi tentang hal-hal yang sensitif. Termasuk masalah terorisme yang belakangan melanda negeri ini. Indy pun mendampingi anaknya dan juga memberi penjelasan tentang masalah tersebut. Apalagi kata Indy pihak sekolah juga mengingatkan agar orangtua tidak menghindar jika anak bertanya tentang berita radikal.

“Aku selalu minta ke anak-anak apa yang mereka dengar agar dikonfirmasikan kembali ke kami (orangtua). Maksudnya agar mereka tidak menerima berita simpang siur. Soal radikalisme aku juga jelaskan ke mereka. Waktu kemarin ada pemberitaan tentang teroris di TV, kalau mereka pas nonton bareng, ya aku bantu menjelaskan agar mereka mengerti. Intinya sebagai orangtua kita harus mendampingi anak. Apalagi anak-anak sekarang yang kritis dan selalu ingin kejelasan. Salah satu sumber penjelasan yang baik adalah dari orangtua,” ungkap wanita kelahiran 1972 ini.

Masalah toleransi, ungkap Indy, sejak dini telah diajarkannya kepada kedua anak-anaknya. Baik itu bertoleransi kepada orang lain maupun terkait dengan perbedaan agama, suku, bangsa dan ras. Intinya, anak-anak sejak dini diajarkan menghormati orang lain. Memang tidak mudah, yang terbaik adalah orangtua menjadi contoh.

“Misalnya di rumah kan ada Mbak yang agamanya berbeda, dan dia melakukan sholat. Nah aku bilang jangan ganggu Mbak saat dia beribadah, sholat, tunggu sampai selesai. Atau sekarang kan puasa, Mbak di rumah juga puasa, maka anak-anak diajarkan menghormati yang puasa. Mbak kan asisten di rumah kami jadi sudah seperti keluarga. Anak-anak bisa memahaminya,” ungkap pemeran Tante Lisa dalam film ‘Red CobeX’ ini. (Diana Runtu)

To Top