Dara

Anne Avantie: Siapkan Pagelaran “Cinta Putih” untuk Bali

Sangat excited dan terharu katanya. Sebab ini penampilan yang pertama setelah 13 tahun silam ia muncul di Bali, di kawasan Seminyak sehari setelah Bom Bali. Pagelaran ‘Cinta Putih ‘ ini adalah pagelaran ke dua setelah ‘Refleksi 29 Tahun Berkarya” yang diselenggarakan di Panggung Indonesia Fashion Week, Kamis (29/3) di JCC, Jakarta.

Pagelaran ‘Cinta Putih’ ini akan roadshow di beberapa kota di Indonesia. Puji syukur tidak dinyana dan tanpa diduga Bali ketiban sampur untuk kedua kalinya. Acara akan dilangsungkan di Rumah Luwih milik Ibu Feroline Kurniawan. Demikian disampaikan Anne Avantie dalam perjamuan sederhana ‘Jumpa Pers jelang Launching “Cinta Putih” Persembahan Kasih Anne Avantie’ di Rumah Luwih, Minggu (27/5).

Pada kesempatan tersebut Anne Avantie mengatakan ingin menjadi bagian dari industri fashion di Indonesia dan berkarya melalui UMKM di Bali, untuk bisa menunjukkan rasa mencintai budaya yang lebih tinggi. Kemudian ia juga menekankan agar UMKM tidak melakukan ketergantungan yang berlebihan. Maksudnya, agar mereka yang sudah layak untuk terbang tidak membebani yang lain.

Anne Avantie menyontohkan dirinya sendiri, yang awalnya bukan siapa-siapa. Ia merasa tidak memiliki basic kuat untuk menjadi sukses. Apalagi dengan pendidikan terakhir hanya SMP, tidak pernah kuliah, tidak bisa menjahit, tidak bisa membikin pola, tidak pernah ke Paris, ke Milan dan juga tidak pernah terlibat di dunia fashion secara utuh melalui pendidikan. Namun, Tuhan menyempurnakan  ketidakmampuannya tersebut sehingga ia bisa berdiri sampai saat ini. Semuanya menjadi lengkap dengan dukungan sang suami tercinta yang luar biasa memberikan dirinya kesempatan dan keleluasaan.

Masih dalam keterbatasan, ia ingin menunjukkan kepada publik dan masyarakat Bali bahwa setiap orang mendapatlkan kesempatan untuk bertemu, bersama-sama dan kemudian menjadi berkat bagi yang lain dengan saling memberikan subsidi silang dalam memberikan kontribusi. Dikatakannya, semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk maju. Ia tidak pernah takut ketika karya-karyanya dikloning dari Sabang sampai Merauke, dari kelas kambing sampai kelas kakap. Namun, di balik itu ia bersyukur bisa menjadi berkat bagi banyak orang. Membangun energi positif bagi dunia inspirasi karya dan cinta. Menggabungkan antara karya, kehidupan sosial dan masyarakat.

Kini, Bali memiliki kesempatan untuk dekat lagi dengan Anne Avantie. Selanjutnya, katanya ia bisa memberikan energi dan bisa menyatukan energi, supaya yang lain yang tidak memiliki kepercayaan seperti dirinya dahulu, akhirnya bangkit. “Kalau Anne Avantie bisa pasti yang lain bisa,” cetusnya, sembari mengatakan mungkin suatu saat Pemerintah Gianyar atau Denpasar bisa menjembatani untuk membuat seminar.

Satu hal diingatkannya pada pelaku UKM , yakni bahwa memiliki brand itu sesuatu yang penting. Selama ini, ia melihat UMKM jalan tapi brand- nya tidak. Bali masih dikuatkan oleh brand luar. “Orang Bali sendiri yang punya brand  harusnya muncul di publik, memperlihatkan diri dan membentuk citra postif. Jika hanya bagai katak dalam tempurung berarti orang ini kesuksesan seseorang harus dilihat oleh orang lain.

 

Pencitraan Positif Itu Penting

Lahir di Semarang lebih setengah abad silam. Besar dan bertumbuh di Solo, di sebuah kota yang menyuburkan kerativitas Anne kecil hingga menemukan sebuah ruang seni yang memberikan energi kreatif tanpa batas. Tak terasa telah 29 tahun ia berkarya. Jika banyak yang mengatakan bahwa Anne Avantie pencitraan, ia pun menjawab tegas itu benar. Sebab, bumi ini perlu teladan untuk memiliki prioritas melayani.

Dikatakannya, ia mengalami, menjalani serta  melakukan pencitraan untuk mencari citra yang baik yang positif. Mengingat, sejak kecil ia ingin populer dan terkenal. Segala bentuk hasil yang diperolehnya selama pagelaran semua  digunakan untuk kegiatan sosial. Apalagi dengan kegiatan kemanusiaan yang dijalankannya melalui Yayasan Wisma Kasih Bunda dan Yayasan Anne Avantie yang telah menginspirasi banyak orang.

Ia mengaku memang apa yang dimilikinya itu diwartakan pada masyarakat.Bahwa, ketika dirinya menjadi berhasil, hal itu juga untuk amal, sehingga tidak menutup inspirasi mengenai  berbagi dengan caranya. Untuk itu, ia harus muncul tidak sembunyi, sehingga jika ada orang yang susah dan dalam kesulitan bisa mencari dirinya.

Namun, diakuinya ia juga tidak lepas dari perjalanan naik-turun, jatuh-bangun, gelap-terang, pahit-manis. Hal ini dikatakannya justru mengantarkan dirinya semakin memahami bahwa hidup, karya dan cinta kasih adalah elemen yang tidak terpisahkan. Berkat ajaran seni sang Ibu, menjadikannya memiliki antibody terhadap berbagai ujian yang dialaminya. Bersyukur terhadap apapun yang terjadi hingga berhasil melewatinya dengan spirit berkarya. Anne Avantie pun menyadari bahwa keberhasilan atau kesuksesan harus diperjuangkan melalui sebuah proses berkarya dengan hati. (Sri Ardhini)

To Top