Bunda & Ananda

Komunikasi Face to Face

Diah Yuniti dan Rai Mariyani

Berbagai cara untuk mewujudkan cinta antara orangtua dan anaknya. Menurut Rai Mariyani, di era globalisasi ini, orangtua dituntut punya waktu ekstra untuk anak-anaknya, apalagi yang menginjak dewasa. Menurutnya, orangtua harus  memantau  anak-anak dengan baik dan melakukan komunikasi terbuka.

Perempuan yang bekerja di  hotel ini mengatakan, untuk memupuk kebersamaan dan menjaga cinta, ia rutin melakukan acara kumpul bersama keluarga, seperti melakukan sembahyang bersama  atau tirta yatra saat liburan. Walaupun, ia menyadari, ponsel memang tak pernah lepas dari kehidupan, tapi ia batasi. Saat malam ponsel mati untuk dicas baterai.   Saat anak-anaknya ujian, ponsel ia tahan, agar anak-anaknya  fokus belajar. Ia juga menyarankan anak-anaknya menyisihkan uang kuota pulsa untuk uang jajan. “Ada sukanya juga dengan perkembangan teknologi terutama ponsel. Banyak hiburan.  Namun, jangan sampai kebablasan main games, apalagi sampai kecanduan dan mengakibatkan mata sakit. Disitulah peran orangtua untuk mengawasi anak-anak dan perannya dalam mewujudkan cinta,” kata Rai Mariyani.

Sementara, menurut  Diah Yuniti, dalam memupuk cinta bersama keluarga yang penting adalah komunikasi.  Apalagi, saat ini, dengan canggihnya ponsel, orangtua harus lebih memperhatikan komunikasi face to face dengan anak. Jangan sampai lebih banyak komunikasi lewat wa, padahal tinggal serumah.  Ia sendiri mencontohkan,  saat di rumah, ia berusaha menyiapkan waktu untuk bercengkrama dengan anak-anaknya.  “Kadang saya sampaikan cerita yang bisa menjadi contoh  agar anak-anak bisa berpikir positif,” ujar Ketua Forum Komunikasi Pemerhati RRI (Forkoperri) Denpasar ini.

Diah  juga sangat membatasi anak-anak untuk bermian ponsel pukul 6 sampai 9 malam. Menurutnya, waktu itu,  anak-anak bersama orangtua. “Waktu itu kami gunakan untuk berkomunikasi dua arah untuk saling berbagi atau jika mereka punya masalah meerka bisa curhat,” kata anggota LSM Bali Sruti ini.

Menurut pengurus P2TP2 Kota Denpasar ini, orangtua juga jangan memaksakan anak-anaknya, termasuk soal pendidikan. Jangan anaknya dipaksa menjadi dokter kalau memang tidak ada ketertarikan. Biarkan anak memilih sesuai passion-nya.

Ketika anak punya pendapat, orangtua juga harus mendengarkan,  berikan anak menyampaikan pendapatnya, entah itu benar atau tidak. Setelah itu, baru didiskusikan bersama.  Intinya, kata dia, dalam mewujudkan cinta orangtua harus juga memilah-milah mana yang baik dan mana yang tidak seharusnya dilakukan. Apalagi, di zaman teknologi, orangtua harus selalu mendampingi anak dalam menyerap informasi dari luar. (Wirati Astiti)

 

 

To Top