Sudut Pandang

Bangkit dan Keluar dari Zona Nyaman

Dewi Mas Bloem, Ida Ayu Putu Sri Widnyani, Ayu Witriasih

Kebangkitan nasional zaman old sangat berbeda dengan zaman now. Zaman  old, kebangkitan nasional melawan penjajah dengan berperang, sementara, zaman now, kita dijajah oleh zona nyaman.  Demikian penilaian  Dr. Ida Ayu Putu Sri Widnyani, S.Sos.,M.AP.

Ia mengatakan, sebagai generasi zaman now, kita diingatkan kembali dengan momen 20 Mei untuk bangkit, sadar diri, merenung.  Betapa kita beruntung telah dilahirkan, tumbuh dan berkembang di era teknologi. Melanjutkan perjuangan pemuda zaman old dengan berjuang melawan penjajahan di zaman now. “Jika kita tidak sadar telah dijajah zona nyaman, maka kita akan mengalami ketertinggalan, akan dikalahkan bangsa lain. Nyaman dengan sikap ego sentris, sikap individualistik yang masih tinggi sehingga rasa toleransi terdegradasi,” ujar Widnyani.

Kenyamanan zona ini, salah satu diakibatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang membuat gaya hidup semakin pragmatis, serba cepat, pemenuhan antara keinginan dan kebutuhan semakin kabur dan semakin kompleks.  Menurutnya, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semestinya dapat dikelola dengan bijak untuk menunjang peran dan menjalankan kewajiban kita. Cara mengelolanya merupakan sebuah tantangan bagi diri sendiri. “Untuk melawan penjajah yang ada di dalam diri, dapat keluar dari zona nyaman, maka kita merenung, menumbuhkan rasa sadar, bangun dari keterlenaan, bangkit dan bergerak ke arah yang lebih baik.  Melaksanakan kewajiban sesuai dengan peran masing-masing,” sarannya.

Peran sebagai pemimpin, wajib mengayomi bawahan dengan sikap adil. Peran sebagai pelajar mahasiswa wajib belajar meraih prestasi. Peran sebagai abdi negara wajib memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan baik.

Sementara itu, menurut Dewi Mas Bloem, sebagai warga negara Indonesia, makna “kebangkitan” baginya, adalah mengembalikan apa yang menjadi nilai-nilai luhur dari setiap individu yang ada di Bumi Indonesia. “Silakan berbeda-beda dalam hal suku, agama, kepercayaan, tetapi Pancasila yang menyatukan kita dan budaya kita  Bhinneka Tunggal Ika sebagai cermin dari keanekaragaman bangsa,” ujarnya.

Menurut Dewi, tiap orang bisa mengimplementasikan Pancasila mengikuti tradisi dan kepercayaan yang ada, seperti contoh, orang Bali, pengamalan Pancasila di kehidupan sehari-hari sangat sesuai dengan nilai Tri Hita Karana, yang dipercaya menjadi  sumber kebahagiaan. Palemahan mencerminkan sila keempat dan kelima, Pawongan mencerminkan sila ke dua, tiga, empat, dan kelima.  Parahyangan mencerminkan sila ke satu, tiga, dan kelima.

“Sebagai orang Indonesia yang memiliki tradisi, agama dan budaya hidup di Bali, saya akan tetap mempertahankan Tri Hita Karana yang sangat sejalan dengan sila-sila Pancasila,” tegasnya.

Menurut Dewi Mas Bloem, hal yang perlu diubah adalah sikap memonopoli dan menganggap diri kita atau kelompok kita atau paham kita yang paling benar. “Kita perlu berubah dan menghargai perbedaan serta pendapat orang lain. Setiap pendapat bisa menjadi masukan untuk kita dan menjadi sudut pandang yang perlu kita tinjau,” tegasnya.

Sementara dr. Ayu Witriasih menilai, yang perlu dipertahankan di zaman now adalah semangat juang para pahlawan, rasa persaudaraan,  dan gotong royong. “Mempertahankan itu sulit tapi harus dilakukan jika tidak maka tidak  ada yang dikenang, misalnya mempertahankan hubungan  baik dengan orangtua menjaga  silaturahmi dengan anak-anaknya. Minimal upaya ini bisa mengenang bagaimana orangtua kita kita bisa survive di zamannya sehingga selalu kita kenang sebagai tauladan,” kata dr. Ayu.

Menurutnya, di era teknologi, etika pergaulan dan disiplin harus lebih ditekankan dimulai dari rumah tangga. “Tidak selalu yang  baru itu lebih baik, contoh penggunaan medsos menyebabkan waktu  bercakap-cakap jauh berkurang.  Ketika sedang berkumpul sibuk dengan yang jauh. Akhirnya, ada yang hilang seperti rasa kangen dengan menyentuh, bergandengan, berpelukan sambil mengobrol, memberi nasehat dan berdiskusi. (Wirati Astiti)

To Top