Sudut Pandang

Wujudkan Generasi Berkarakter Pancasila

Momen hari Kebangkitan Nasional menjadi momentum untuk menumbuhkembangkan semangat nasionalisme terhadap bangsa. Spirit perjuangan bangsa Indonesia sampai saat ini selalu membumi dalam memperjuangkan sebuah hak dan ketidakadilan yang terjadi di Indonesia. Tetapi, semua itu tidak akan ada artinya jika kebangkitan nasional tidak diawali dari diri sendiri. Hal tersebut jika diungkapkan oleh Putu Arya Suarnata, staf Kantor Kementrian Agama Kabupaten Buleleng.

Menurut Arya, sebagai generasi muda masyarakat dihimbau untuk tidak sekali-kali melupakan sejarah. Dirinya memaknai hari Kebangkitan Nasional sebagai hari bangkitnya nasionalisme, persatuan, kesatuan dan kesadaran sebagai sebuah bangsa untuk memajukan diri melalui gerakan organisasi yang tidak pernah muncul selama penjajahan.

Organisasi Budi Utomo yang digagas oleh Dr. Wahidin Sudiro Husodo ini fokus bergerak pada bidang sosial dengan harapan dapat menjadi cikal bakal gerakan yang bertujuan untuk mencapai kemerdekaan Indonesia. “Dari sejarah dapat ditarik benang merah jika politiklah yang dapat mengubah segalanya. Politik ibarat dua mata pisau yang dapat berdampak baik maupun buruk,” jelasnya. Ia menegaskan kepada generasi muda untuk tidak awam dengan politik ketika ingin memperjuangkan hak orang banyak. “Pendidikan politik sangat penting untuk dipelajari sebagai generasi muda Indonesia,” ungkapnya.

Pria yang aktif dalam berbagai organisasi ini mengatakan  selain sejarah, memaknai kebangkitan nasional juga dengan mewujudkan jati diri generasi muda yang berkarakter Pancasila. Menurutnya, Pancasila merupakan jantungnya bangsa Indonesia. Pancasila merupakan dasar bangsa yang nilai-nilainya mulai terkikis oleh zaman moderenisasi. Dirinya merefleksi beberapa kejadian yang terjadi beberapa belakangan di Indonesia seperti isu SARA yang berbau agama, teroris, dan aksi menghujat pemimpin dikarenakan masyarakat melupakan Pancasila. “Mewujudkan generasi muda berkarakter Pancasila untuk membangkitkan kembali nilai-nilai Pancasila,” paparnya.

Pria yang akrab disapa Arya menegaskan Pancasila sebagai jantung bangsa memiliki peran penting dalam kelangsungan kehidupan bangsa dan negara. Jika diibaratkan manusia memiliki penyakit jantung maka lambat laun komplikasi dalam tubuhnya akan cepat terjadi hingga mengakibatkan kematian. “Begitu juga dengan Indonesia hingga hari ini, banyak provokator yang mencampuradukkan antara politik dan agama sehingga kita yang mulai melupakan Pancasila akan sangat mudah terprovokasi dan diadu domba seperti yang sering terjadi selama ini,” pungkasnya. (Wiwin Meliana)

To Top