Bunda & Ananda

Dibuang Sayang

Diah bersama anaknya Cece

Seringkali barang-barang lama yang sudah tidak terpakai menumpuk di gudang. Bahkan, baju-baju usang pun terkadang masih tersimpan di lemari. Dalam pikiran kita, terutamanya ibu-ibu, barang-barang itu nanti pasti bisa digunakan lagi, atau bahkan sebagai kenang-kenangan.

Salah satu barang yang paling sering “diwariskan” adalah baju. Diah, ibu tiga anak ini pun mengakuinya. Anak sulungnya perempuan. Saat masih kecil dulu, koleksi bajunya lumayan banyak. Sudah bukan rahasia lagi jika model-model baju anak perempuan lebih beragam ketimbang anak laki. Ketika Cece (17)-demikian sapaan akrabnya sudah mulai bertumbuh, tentu baju-baju itu pun sudah tak muat lagi di badannya. “Ada beberapa bajunya dulu yang ada sejarahnya, masih saya simpan,” ucap Diah.

Seperti baju saat Cece kecil jadi pengapit. Model bajunya bagus dan lucu, yang sampai saat ini kondisinya masih bagus. “Baru beberapa bulan lalu saya kasih ke keponakan yang masih kecil, dia suka sekali karena memang bajunya bagus,” ucap Diah.

Untuk urusan “mewariskan” baju ini, Diah mengaku tak sembarang orang dia berikan karena khawatir ada ketersinggungan. “Ada kok yang gengsi dikasih baju,” imbuhnya. Selain kerabat, teman-teman dekatnya yang ia sudah tau luar dalamnya juga kecipratan “warisan” baju bekas yang masih layak pakai ini.

Untuk penyimpanan, dulu baju-baju itu dibungkus plastik kemudian diisi kapur barus, dimasukkan ke dalam kardus, dan disimpan di lemari pakaian di tumpukan paling bawah. “Dulu masih berpikiran dibuang sayang. Tapi lama-kelamaan, isi lemari makin penuh, ya harus dikeluarkan dan disortir lagi,” ucapnya. Baju-baju yang sudah tidak terpakai, ia keluarkan. Jika masih layak pakai, diberikan ke pegawai-pegawai warungnya, juga diberikan ke saudara-saudara di kampung.

Diah juga menuturkan sempat menyimpan baju almarhum ayah dan ibunya. “Saya simpan satu stel baju kerja ayah dan baju ibu yang sering dipakai, biar ada saya ingat-ingat,” ucapnya. Namun, mungkin karena penyimpanannya kurang bagus, baju-baju itu digigit tikus dan kondisinya sudah lapuk. Meski sayang, akhirnya Diah memutuskan untuk tak menyimpannya lagi. “Mungkin memori itu memang harus dibuang,” cetusnya.

MENGENANG MASA LALU

Ada banyak alasan mengapa seseorang masih menyimpan barang lama, salah satunya menjadikannya kenangan. Diah pun mengaku, selain menyimpan baju Cece kecil dulu, masih menyimpan pula celemek saat dipakai waktu bayi. Suatu ketika saat merapikan baju-baju, tanpa sengaja Diah menemukannya di kardus yang ia sudah lupa isinya. “Saya panggil Cece dan memperlihatkan celemek itu. Pada saat itu memori kita kembali pada masa lalu, menceritakan bagaimana lucunya dia saat masih kecil, kami pun berdua tertawa mengingat masa-masa itu,” tuturnya.

Lima bulan lalu, Diah memulai renovasi rumah tuanya. Alhasil semua barang-barang dimasukkan kardus. Kalau sudah urusan pindah-pindahan, pastinya krodit karena banyak barang dan tak semua barang bisa kita ingat penyimpanannya. Ketika rumah barunya selesai, dan akan memindahkan barang-barang itu kembali ke rumah, ada sebagian barang-barang kenangan itu entah keberadaannya dimana. Mungkin saja sudah tak sengaja terbuang karena dilihat sudah usang. “Pada akhirnya memang harus dibuang,” ucapnya.

Diah juga menuturkan pengalaman sahabatnya terkait hal ini. Bahkan sahabatnya itu, Dewi, masih menyimpan perlengkapan bayi anak pertamanya, yang kini sudah berusia 18 tahun. Seperti kain alas, bedong, gurita, kaos kaki dan sarung tangan bayi. Saat dihubungi via telepon, Dewi membenarkan hal tersebut.

Ia mengatakan, ibu mertuanya sangat rapi menyimpannya. “Ibu bilang, ini disimpan saja biar nanti tidak membeli lagi, juga hanya dipakai sebentar saja,” ujar Dewi mengutip ucapan ibu mertuanya. Dan memang benar, perlengkapan bayi itu pun bisa terus dipakai sampai anak ketiga Dewi yang jarak antara anak pertama dan ketiganya sekitar 10 tahun. “Dulu, sebelum disimpan dicuci dulu, dimasukkan plastik, dibungkus kain dan disimpan dalam lemari di gudang. Ketika akan dipakai lagi, dicuci dulu,” ujar Dewi.

Terakhir, baju-baju perlengkapan bayi itu keluar dari gudang sebulan lalu. Kebetulan Dewi sedang beres-beres dan menemukannya kembali, karena terus terang ia juga lupa masih menyimpannya karena terakhir dipakai 7 tahun lalu. “Kebetulan di kampung suami ada kerabat yang mau melahirkan. Jadi saya berikan ke dia,” ucapnya.

Terkait baju-baju “warisan”, Dewi mengaku tak terlalu gengsian menerima. Ia paling sering menerima baju dari kakaknya yang lebih dulu memiliki anak laki dan perempuan. “Saya biasanya menerima saja apa yang diberikan. Jika cocok, saya pakai, jika tidak saya simpan saja, dan akhirnya nanti jika tak terpakai, saya hibahkan lagi ke orang lain. Biasanya sih saya bawa ke kampung. Senang rasanya jika orang yang kita berikan itu senang menerimanya,” tuturnya.

Dewi juga pernah mengalami hal sama dengan Diah, yakni pindah-pindahan rumah. Pada saat itu, mau tak mau memang otomatis ada penyortiran. Barang-barang yang memang benar-benar tidak pernah dipakai harus dibuang. Dan ketika pindah lagi, kembali lagi barang-barang itu disortir. Dewi mengatakan, ketika kita membeli barang semisal baju, seringkali kita tak menyadari bahwa itu akan segera memenuhi isi lemari. “Biasanya nyadarnya ketika memasukkan baju-baju yang habis disetrika, kok tidak muat? Akhirnya saat itu saya mengeluarkan baju-baju yang benar-benar tidak pernah dipakai walaupun masih bagus, saya simpan di tas plastik. Jika sewaktu-waktu pulang kampung, tinggal diangkut saja,” tandasnya. (Inten Indrawati)

To Top