Woman on Top

Fitri Dian Puspita: Momen Introspeksi Diri

Peringatan Hari Kebangkitan Nasional kali ini terasa begitu spesial lantaran kondisi Indonesia saat ini sedang bersedih. Kasus-kasus ujaran kebencian, fitnah-fitnah, berita-berita hoax dan perseteruan sesama anak bangsa belum reda, muncul  penyerangan teroris di sejumlah daerah.

“Situasi politik dan keamanan kita akhir-akhir ini memang memanas ya, sedang banyak cobaan. Apalagi kita akan menghadapi Pilkada serentak Juni nanti, juga Pileg dan Pilpres tahun depan. Nah kemudian dalam situasi begini muncul serangan teroris di sejumlah daerah menjelang Hari Kebangkitan Bangsa. Menurut saya ini luar biasa sekali,” tutur penyanyi dangdut Fitri Carlina.

Sebelum bom, kata Fitri, suasana sudah diwarnai oleh berbagai kasus yang tidak mengenakkan. “Ada banyak yang memanfaatkan situasi ini untuk melakukan hal-hal yang tak baik,” tambah wanita asal Banyuwangi ini.

Pemilik nama lengkap Fitri Dian Puspita ini menyatakan peringatan Hari Kebangkitan Nasional kali ini terasa spesial. Kita sebagai bangsa, diingatkan kembali pentingnya persatuan dan kesatuan. Rasa nasionalisme kita digugah kembali, prinsip Bhinneka Tunggal Ika yang selama ini  kita junjung bersama dengan menghargai perbedaan baik itu ras,agama,golongan, haruslah dipertahankan.

“Jadi menurut aku saat ini, khususnya pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional  menjadi momentum yang baik untuk kita semua introspeksi diri. Sebagai bangsa kita harus bangkit, jangan biarkan termakan isu-isu yang bisa memecah belah.  Jangan biarkan intoleransi merajalela.  Kita dikenal sebagai bangsa yang memiliki toleransi tinggi ,baik antargolong, antarumat beragama, ras. Ini yang harus terus dijaga. Kita harus menjaga persatuan-kesatuan dan ke-Bhinnekaan  yang menjadi kebanggaan kita bersama,” tegas pelantun ‘ABG Tua’ ini. Ia menambahkan kita harus berhati-hati dalam menyikapi berbagai hal, tidak mudah percaya dengan berbagai informasi yang beredar khususnya di media sosial.

Adik bungsu pedangdut Nini Carlina ini juga menyinggung tentang dampak negatif  dari penggunaan media sosial yang tidak bertanggung jawab. Menurutnya, era globalisasi, kemajuan teknologi-komunikasi, memang tidak dapat dihindari. Sangat mudah setiap orang mengakses internet, media sosial. Era keterbukaan juga membuat orang  mengira bisa sebebas-bebasnya  menyuarakan atau mengekspresikan apapun.

Padahal, sesungguhnya tidak demikian. “Kita memang bebas menyuarakan atau mengekspresikan apapun. Namun tetap saja ada rambu-rambunya. Artinya kita bebas tapi bertanggungjawab dalam penggunaannya. Menjaga jangan sampai hal-hal yang kita sampaikan berdampak atau bermasalah atau bahkan menimbulkan perpecahan,” ungkap Fitri sambil menambahkan, banyak pengguna  yang tidak dewasa dalam menggunakan medsos.

“Medsos asalkan digunakan secara baik dan benar akan sangat berguna. Sebaliknya bila digunakan secara salah malah bisa merusak dan menghancurkan,“ ucapnya.

Semua pihak harus ikut berperan menjaga bukan hanya pemerintah. Pengendalian atau pembatasan  itu selain ada pada diri masing-masing juga pada keluarga. Terkait dengan terorisme  dan isu-isu terkait yang juga mudah diakses di dunia maya, Fitri meminta agar pemerintah  melakukan penyisiran dan pembatasan. “Itu kewajiban pemerintah untuk melakukan tindakan,” tegasnya.(Diana Runtu)

To Top