Metropolitan

Semar dalam Lukisan Bercermin ke Diri Sendiri

Di dunia wayang Jawa dan Sunda, sosok ini bernama Semar. Di pewayangan Bali, disebut Tualen. Apa pun sebutannya, ia digambarkan sebagai ‘dewa ngejawantah’, alias dewa yang mewujud dalam sosok manusia dalam bentuk yang buruk rupa tetapi luhur budinya.

Tualen atau Semar merupakan tokoh pewayangan ciptaan pujangga lokal. Dalam karya sastra, ia ditampilkan sebagai pengasuh keturunan Resi Manumanasa, terutama para Pandawa yang merupakan tokoh utama kisah Mahabharata. Dalam epos Ramayana, para dalang juga biasa menampilkan Semar sebagai pengasuh keluarga Sri Rama ataupun Sugriwa.

Seolah-olah Semar selalu muncul dalam setiap pementasan wayang, tidak peduli apa pun lakon yang dikisahkan. Dalam pewayangan, Tualen bertindak sebagai pengasuh golongan ksatria, sedangkan Delem sebagai pengasuh kaum raksasa. Di wayang Jawa Delem disebut Togog.

Singkatnya, Tualen atau Malen merupakan tokoh punakawan (bahasa Bali parěkan) dalam tradisi pewayangan di Bali. Dalam tradisi pewayangan Bali, Tualen digambarkan seperti orang tua berwajah jelek, kulitnya berwarna hitam.

Apa istimewanya Semar atau Tualen, sehingga membuat seorang perupa Sohieb Toyaroja menjadikan tema dalam pameran tunggalnya? Ada tujuh lukisan Semar yang ia pamerkan di Galeri Seni Kunstkring, Jl. Tengku Umar 1, Menteng – Jakarta Pusat, 29 April – 29 Mei 2018. Pameran sebulan penuh itu diberinya tajuk “(Ke) Diri”.

“Semula pameran ini akan saya beri judul ‘Semar Ngruwat Bumi’, tapi atas saran teman-teman, akhirnya saya ganti menjadi Ke-Diri. Bukan Kediri kota kelahiran saya yaaa… tapi ke diri,” ujar Sohieb sambil menunjuk ke arah dada. Artinya, introspeksi, mawas diri.

Sohieb mengatakan, dalam banyak interpretasi, Semar identik dengan rakyat. Dalam negara berbentuk republik, di mana kekuasaan ada di tangan rakyat, sejatinya ‘rakyat’-lah sang penguasa. Jika ada istilah suara rakyat adalah suara Tuhan, maka sejatinya pemunculan Semar dalam karya-karya Sohieb ini merupakan pertanda sikap prihatin atas kondisi bangsa kita.

Lewat tujuh karyanya berukuran ‘raksasa’ Sohieb ingin menyeruakkan pesan kebangsaan kepada semua anak negeri, apa pun pangkat dan jabatan, apa pun jenis kelamin dan pekerjaan, sebaik-baiknya sikap adalah mawas diri. Bercermin ke dalam diri sendiri. “Dengan begitu, saya berharap rakyat kembali kepada jati diri. Jadilah Semar apa pun dan di mana pun posisinya. Jika semua manusia menjadi ‘Semar’, maka jagat raya ini akan tenteram dan damai,” tegas pelukis berambut gondrong yang pernah menetap di Bali dan Batam itu.

Di Jakarta, Sohieb mendirikan Sanggar Seni Galih bersama pelukis seangkatannya. Ia aktif berpameran sejak 1999. Sejumlah pameran tunggalnya, The Nameof Flowers – Galeri Tembi (2010), The Spiritual Journey – Kunstkring Galeri (2016), 72 Tokoh dan 7 Presiden – Epicentrum Jakarta (2017).

JATI DIRI SEMAR

Di kesempatan yang sama, kurator pameran, Bambang Asrini Widjanarko mengatakan, Semar dipilih Sohieb menjadi objek untuk menuangkan ide visualnya ke dalam tujuh lembar kanvas. Karya lukisan yang mengekplorasi sosok bernama Semar tersebut dibingkai dalam berbagai tema, namun dalam satu konteks yakni memuliakan sesama manusia, alam dan seluruh isinya. Tujuh karya semuanya bermakna satire yang sarat dengan kritik terhadap perilaku manusia dalam konteks kekinian berikut peristiwa di tahun politik yang makin panas.

Tokoh Semar digambarkan secara unik dan jenaka, bahkan cenderung kontradiktif dengan sosok sang penasehat keluarga Pandawa dalam cerita Mahabarata yang terkenal bijaksana dan lemah lembut. Lukisan-lukisan Semar yang secara visual penuh ‘pasemon’ atau kritik tersebut mengajak para penikmat lukisan untuk selalu mawas diri dan berkaca agar selalu rumongso dan eling (sadar dan ingat) agar tidak berlaku jumawa dan sombong dalam menjalani kehidupan di semesta ini.

Tujuh karya lukisan (Ke)Diri yakni Highway To Heaven, Semar Evolution, Pertempuran Semar versus Togog, Mbegegeg Ugeg-ugeg: Flowing and Flying, Game of Thrones, Semar’s Universe dan United Color of Semar.

Pada pembukaan pameran oleh CEO NorthCliff Erri Sulistio, Minggu (29/4) lalu, hadir kolektor lukisan Sohieb, antara lain Jaksa Agung HM Prasetyo dan pengusaha Soetrisno Bachir, dan lain-lain.

Dikatakan Bambang, pameran ini sangat relevan dengan situasi dan kondisi bangsa memanas. Terlebih, menjelang Pilkada serentak 2018, disusul kemudian Pileg dan Pilpres 2019. Semar digambarkan oleh Sohieb dengan begitu lugas, dan tentu saja multitafsir.

Lukisan berjudul ‘Highway To Heaven’ misalnya, banyak membuat penikmat merenung dalam. Ada yang terbawa ke alam Semar moksa. Ada yang spontan menilai Semar laksana Nabi Musa. Bambang menunjuk lukisan lain berjudul ‘Pertempuran Semar versus Togog’. Dalam versi lain, pertempuran itu ibarat bertempurnya kebaikan dan keburukan yang senantiasa abadi, laksana filosofi kain poleng dalam busana Bali. Laksana makna Tari Barong  yang terkenal.

Secara khusus Bambang Widjanarko menunjuk lukisan berjudul ‘Game of Thrones’ sebagai lukisan yang paling menyedot perhatian masyarakat. Sosok Semar digambarkan rebahan di kursi bambu panjang. Tangan kiri menyumpalkan botol minuman ke mulut, sementara telunjuk tangan kanan memainkan sebuah tahta (kursi).

“Sangat relevan dengan topik tentang tahta, entah tahta bupati, walikota, gubernur, anggota DPR atau bahkan presiden. Semar tidak menganggap istimewa. Tak lebih dari mainan belaka. Itulah permainan kehidupan. Permainan politik. Semar tidak tenggelam dan larut,” ujar kurator yang juga seorang penulis topik-topik kebudayaan itu.

Hampir semua karyanya berukuran lebih dari 1,5 meter. Salah satu lukisan utama, berjudul ‘Semar Evolution’ bahkan membentang hampir sepanjang 9 meter dengan ketinggian hampir 2 meter. Evolusi Semar, digambarkan Semar dalam wujud wayang kulit, kemudian menjadi manusia-manusia berbagai profesi. Ada yang digambarkan sebagai pengusaha, aparat hukum, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan lain sebagainya. Di sisi paling kiri, berdiri tokoh Semar sedang memberi wejangan. “Sebab, Semar itu tidak butuh pangkat dan jabatan,” tegas Bambang.

Kemudian Bambang menunjuk Sohieb sebagai seorang pelukis yang mengingatkannya pada sosok  Basuki Abdullah. “Kalau ada yang mengatakan Sohieb menyerupai Affandi, saya berpendapat dia dari banyak hal, baik gaya melukis, pilihan objek, dan supranatural, mendekati Basuki Abdullah. Semoga dia akan menjadi pelukis besar yang membawa harum nama Indonesia,” ujar Bambang Widjanarko.Diana Runtu)

 

To Top