Surabaya

Ingin Punya Museum

Sosok Djoko Sakti Setyo Laksono yang dikenal dengan Q Sakti memang memiliki keunikan tersendiri, Pria kelahiran Tulungagung 19 Januari 1959 ini mampu menyatukan 3 aktivitas dalam kehidupan sehari hari yaitu kedokteran hewan, konsultan teknik sipil, dan dunia seni.

Pria yang kerap mengenakan ikat kepala ini merupakan putar ke-9 dari 11 orang bersaudara, putra dari dr. Soedomo. Pada masa lalu dr. Soedomo menjabat sebagai kepala rumah sakit dan kepala Dinas Kesehatan di Trenggalek, dan untuk mengenang jasa dr. Soedomo maka Pemerintah Kabupaten Trenggalek  menjadikan namanya sebagai nama rumah sakit daerah dan nama jalan di depan rumah sakit tersebut.

“Ayah saya adalah sosok yang hebat, beliau  mampu menjadikan semua anaknya yang 11 orang  sebagai sarjana. Beliau punya banyak lukisan, sepertinya  saya mewarisi darah seni dari beliau,“ kata Q Sakti.

Sebagai seorang pelukis, dia mengembangkan lukisan yang bertemakan  realis tetapi bukan realis murni. Realis yang semi surealis, seperti yang tertuang dalam  lukisan perempuan menahan kesedihan

Sebenarnya Q Sakti sejak SMP sudah menyukai seni, dia mempunyai koleksi puluhan jam weker. Setiap malam sebelum tidur weker tersebut dibunyikan secara bersamaan sehingga menghasilkan simponi suara  yang indah.

Sekitar 1979, pria asli Tulungagung ini mulai menjelajah kota pahlawan, dia mendaftar sebagai mahasiswa baru di Fakultas Pertanian Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Surabaya, namun pada 1980 keluar dan kuliah di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga Surabaya.

“Sampai sekarang saya masih update tentang dunia kedokteran hewan melalui  komunitas group WA bersama teman teman kuliah,” jelasnya.

Setelah lulus kuliah, bapak 2 anak ini bekerja sebagai komisaris di sebuah perusahaan konsultan  teknik sipil yang didirikan bersama Retno Nagayomi kakaknya, dan aktif di perusahan tersebut sampai sekarang ini.

Masih segar dalam ingatan pelukis ini, di pertengahan 1980 dia mengikuti lomba kreativitas barang bekas yang diadakan oleh Bank Niaga Raya Darmo. Dia berhasil membuat pigura dari  bahan ban bekas yang dipadu dengan rantai sepeda, karyanya tersebut  berhasil memenangkan juara 1. Sejak saat itu sering diajak pameran oleh para seniman di Surabaya.

 

5000 KOLEKSI

Sebagai seorang kolektor, pria pengurus asosiasi batu mulia ini mempunyai sekitar 5.000 koleksi yang terdiri dari keris, batu mulia, patung, keramik, topeng,  kain jarik, sepeda kuno, kamera, dan jam weker.

Ada beberapa koleksi yang mempunyai kenangan tersendiri baginya. Antara lain jenglot, 8 keris indah warisan kelurga, dan sebuah keris yang terbentuk dari kayu yang dimakan rayap. Untuk mendapatkan koleksi tersebut dia harus melakukan negosiasi yang panjang dengan pemiliknya.

Contohnya adalah Keris Nogorojo yang warangkanya dari kulit ular, untuk mendapatkan koleksi turun temurun keluarga milik seorang pemilik warung nasi di daerah Banyuwangi tersebut, dia melakukan negosiasi yang panjang dengan pemiliknya sampai menghabiskan 3 piring nasi.

Untuk melengkapi koleksi kain jariknya, laki penyuka kain batik ini meminta tolong kakaknya yang tinggal di lingkungan keraton Yogyakarta untuk berburu kain batik kuno dari warga keraton. Andai saja koleksi kain batik milik ibunya tidak dicuri orang tentu koleksinya lebih banyak lagi.

Dia juga  banyak belajar di beberapa tempat penghasil batik seperti di Madura, Tulungagung, Lasem, Solo, dan Yogyakarta. “Di Lasem inilah  saya belajar cara membaca batik dari Pak Ali seorang seniman berusia 90 tahun,” ungkap Q Sakti.

Kain batik karya Q Sakti yang bercorak realis modern sudah pernah dipamerkan di hampir semua kota di Jawa Timur, Yogyakarta dan Jakarta. Ibu Nina Soekarwo dan beberapa dokter merupakan pelanggan tetap hasil karyanya.

Mulai 2005 Q Sakti bersama teman temanya membentuk komunitas Adhi Cipta Art yang beranggotakan berbagai aliran seniman seperti: Dyah Katarina (istri mantan walikota Surabaya), Nunung Bachtiar, Hartati cahyono, dan Ki Enthus Susmono.

“Nanti setelah pensiun, saya ingin menjadikan koleksi saya sebagai museum yang bisa dilihat oleh masyarakat umum terutama generasi muda,” ungkapnya. (Nanang Sutrisno/ Bisnis Surabaya)

To Top