Mendongeng Lima Menit

AYAM BETINA DAN CINCINNYA YANG HILANG

Tersebutlah seekor ayam betina yang cantik. Bersama anak-anaknya ia mencari makan di sebuah kebun. Tiba-tiba di sebelahnya berdiri seekor elang jantan yang tampan. Melihat kecantikan ayam itu, sang Elang segera jatuh cinta.

“Sejak dulu aku kagum akan kecantikanmu,” demikian rayu sang Elang. “Terimalah tanda cintaku, sebuah cincin yang indah,” katanya lagi.

Elang yang gagah itu memasang cincin itu di jari manis si Ayam Betina. Ayam itu pun menyerah apa yang dilakukan sang Elang.

Rupa-rupanya adegan pemasangan cincin itu diketahui oleh seekor ayam jantan yang juga jatuh cinta kepada si Ayam Betina. Sepeninggal sang Elang, si Ayam Jantan mendekati Ayam Betina, lalu menampar pipinya. Kemudian memaksa si Ayam Betina melepas cincinnya. Cincin itu dibuang jauh-jauh oleh si Ayam Jantan.

Beberapa hari kemudian, sang Elang datang.

“Mana cincin yang kupasang di jarimu?” tanya Elang.

“Maaf, cincin itu terlepas. Aku telah mencarinya ke mana-mana, namun sia-sia,” jawab Ayam Betina.

Elang jantan itu tidak mau menerima alasan ayam betina itu. Ia menuduh alasan itu mengada-ada. Ia mengancam, apabila dalam beberapa hari cincin itu tidak ditemukan, maka sang Elang akan memangsa anak-anak Ayam Betina.

Tentu saja si Ayam Betina amat takut kehilangan anak-anaknya. Setiap hari ia ke kebun bersama anak-anaknya mencari cincin yang hilang itu. Ia mengais-ngais setiap jengkal tanah. Ia mengais di bawah pohon pisang, ia membongkar tumpukan sampah. Nihil, tak ada hasilnya.

Apabila sang Elang melayang-layang di udara, si Ayam Betina segera bersembunyi di semak-semak yang tumbuh di bawah pohon rimbun. Ia memanggil anak-anaknya dan menyuruh  bersembunyi di bawah perutnya. Ketika elang itu terbang menjauh, dan keadaan kembali aman, si Ayam Betina  memulai lagi mengais-ngais tanah. Ia mengais di bawah pohon pisang, ia membongkar sampah-sampah. Hal itu dilakukannya setiap hari. Cincin itu pun belum ditemukan sampai sekarang. (Filipina)

 

 

To Top