Woman on Top

Mimpi Jadi Kenyataan

Tidak ada hasil yang mengkhianati usaha. Dibalik cerita sukses seseorang selalu ada perjuangan dalam setiap proses meraih kesuksesan. Hal ini dialami Siswati Christian, pemilik  R. Cemerlang, salah satu usaha konveksi sukses yang masih tetap eksis hingga sekarang.

Bagi perempuan yang akrab disapa Wati tersebut, menjadi pengusaha sukses tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Setamat SMA tahun 1982, Wati bekerja pada agen penjualan tiket baik untuk angkutan bus antar provinsi maupun untuk penerbangan pesawat di Kota Pahlawan. Kala itu, perempuan yang lahir di Surabaya, 30 Juli 1964 tersebut sering mengkhayal jika suatu saat dirinya akan menjadi orang sukses bahkan untuk urusan jodoh dirinya berharap mendapat pasangan orang Bali.

Manusia memang hanya bisa berdoa dan Tuhan yang menentukan. Siapa sangka, mimpi Wati pun jadi kenyataan. Dirinya berkenalan dan berpacaran dengan Wayan Budasari yang kala itu bekerja sebagai sopir bus. Beberapa tahun berpacaran, mereka sempat putus nyambung akibat hubungan jarak jauh. “Dulu karena jarak sempat putus nyambung dan terakhir dia hubungi saya untuk melanjutkan hubungan yang lebih serius,” kenangnya. Mereka akhirnya menikah pada tahun 1984 dan dikaruniai tiga anak,  Luh Hesti Ranitasari, Kadek Yuni Kristiasari, dan Komang Agus Dwiputra.

Setelah menikah pasangan ini masih tetap menjalani kesibukan masing-masing. Wati tetap sebagai penjual tiket namun di Singaraja sedang sang suami tetap menjadi supir bus. Saat pergi ke Surabaya, sang suami membeli oleh-oleh berupa beberapa potong baju yang dibeli dengan harga Rp 60 ribu. “Setahun kami menikah kami sama sekali tidak pernah beli baju. Jangankan untuk beli baju untuk makan saja susah,” tambahnya. Terlihat bagus, baju-baju tersebut pun awalnya ingin dibeli oleh temannya. Dari sinilah cikal bakal  usaha konveksi miliknya bermula. “Baju itu saya jual dengan sistem dua kali bayar, hanya saja diluar dugaan pembeli membayar tunai dan dari sana terlihat keuntungan,” tuturnya.

Peluang bisnis itu mereka manfaatkan untuk mendulang keuntungan lebih banyak. Setiap kali sang suami pergi ke Surabaya selalu berbelanja pakaian dan dijual kembali. Sampai akhirnya ia mendapat orderan seragam anak-anak TK dari salah satu TK di Singaraja. Pesanan pertama itu ia kerjakan dengan benar-benar serius dan seteliti mungkin agar tidak ada cacat maupun kesalahan lain. Proyek pertamanya sukses dan dipromosikan dari mulut ke mulut oleh pelanggannya sehingga pesanan dari berbagai sekolah pun mulai datang. “Saat itu kami pesankan di konveksi di Surabaya. Namun pasar terus berkembang kami mencoba dengan memproduksi sendiri karena melihat peluang konveksi di Singaraja cukup tinggi,” jelasnya.

Usaha yang ia rintis selama puluhan tahun ini tentu banyak mengalami pasang surut karena setiap usaha tentu ada risiko di dalamnya. Ditipu pelanggan adalah hal yang paling umum dialami dalam menjalankan bisnis. Belajar dari pengalaman itulah saat ini perusahaannya selalu menyarankan uang muka dalam proses pemesanan. “Dulu karena teman baik pesanan dibuatkan dulu, tetapi sekarang tidak bisa seperti itu harus memberikam uang muka,” jelasnya.

Untuk menjaga kepercayaan pelanggan dan bersaing dalam dunia usaha, Wati menegaskan selalu mengutamakan pelayanan dan kualitas. Pelayanan prima kepada pelanggan akan memberikan nilai lebih terhadap usaha yang dijalani. “Konsumen itu sebenarnya tidak ada masalah dengan harga yang penting kami bisa berikan pelayanan yang baik tepat waktu itulah kepuasan pelanggan,” imbuhnya.

Di tengah perkembangan dunia fashion, Wati juga berkeinginan untuk mengembangkan usahanya. Namun, dirinya merasa kewalahan untuk menangani semua apalagi perkembangan fashion begitu cepat sangat mudah ketinggalan zaman sehingga risikonya begitu tinggi. (Wiwin Meliana)

To Top