Connect with us

Mendongeng Lima Menit

AYAH PEMILIK RUMAH

Published

on

Pagi hari, sebelum melanjutkan perjalanan, seorang pelancong ingin beristirahat.  Ia menjumpai sebuah rumah yang besar dan megah di tengah-tengah tanah pertanian yang luas. Sebelum memasuki pintu gerbang, ia bertanya kepada seorang tua yang sedang memotong-motong kayu bakar.

“Ayah, bolehkah saya menginap semalam di rumah ini?”

“Maaf, aku bukan ayah pemilik rumah ini. Ayahku ada di dapur,” jawab orang tua itu.

Si pelancong bergegas ke dapur. Ia melihat seorang laki-laki yang lebih tua sedang berlutut meniup api. “Ayah, bolehkah saya menginap semalam di rumah ini?”

Advertisement

“Maaf, aku bukan ayah pemilik rumah ini. Ayahku sedang duduk-duduk di ruang tamu. Temuilah dia!” jawab orang tua itu.

Si pelancong pun bergegas ke sana. Ia melihat seorang tua sedang membaca buku. Buku itu tampak goyang, karena tangan orang tua itu guyul.  Pelancong itu pun mengucapkan kalimat permintaan yang sama.

“Maaf, aku bukan ayah pemilik rumah ini. Ayahku sedang berada di tempat istirahatnya. Datanglah ke sana!” jawab orang tua pembaca buku itu sambil menunjuk sebuah ruangan.

BACA  AYAM BETINA DAN CINCINNYA YANG HILANG

Di ruangan itu si pelancong menjumpai seorang tua-renta yang sedang merokok. Orang tua-renta itu berusaha memegang rokoknya agar tidak terlepas.

“Ayah, bolehkah saya menginap semalam di rumah ini?” tanya si pelancong.

Advertisement

“Aku bukan ayah pemilik rumah ini. Ayahku sekarang sedang berbaring di kamar tidur,” jawab orang tua-renta itu.

Di ruang tidur itu si pelancong menjumpai seorang tua amat renta menelentang. Pelancong itu mendekati. Sungguh kasihan dia! Pelancong itu merasa berhadapan dengan seorang laki-laki yang tidak berpengharapan hidup. Laki-laki itu hanya memperlihatkan sepasang mata besar. Namun demikian, laki-laki yang terbaring itu masih mampu menjawab, “Maaf, aku bukan ayah pemilik rumah ini. Ayahku sedang berbaring di ayunan.”

Si pelancong harap-harap cemas melangkah ke ayunan. Dalam hati ia bertanya, bagaimanakah keadaan ayah dari ayah yang amat-sangat renta itu? Sungguh kasihan dia! Di ayunan itu terbaring seorang tua yang mengkerut, kecil seperti bayi yang lemas. Yang tampak hanyalah selapis kulit penutup tulang. Pelancong itu tidak berharap agar ayah itu menjawab permintaannya, sebab yang terdengar hanyalah suara batuk dan napas terengah-engah. Namun di luar dugaan, bayi berkulit penutup tulang itu menjawab, “Aku mengasihi semua orang. Namun aku tidak berhak memberi izin. Minta izinlah kepada ayahku yang tergantung di tembok!”

BACA  SEMUT DAN KUPU-KUPU

Pelancong yang penasaran itu tambah penasaran. Ia melirik ke tembok. Tak ada orang tua yang amat-sangat renta. Yang terlihat adalah sebuah tanduk hewan. Di tanduk itu tergantung segumpal abu putih berbentuk wajah manusia. Di baliknya terdengar suara mencicit, seperti suara burung yang manja. Pelancong yang terheran-heran itu menyimpulkan, itulah ayah si pemilik rumah itu. Lalu ia segera bertanya, “Ayah, izinkanlah  saya menginap di rumah ini semalam saja.”

Suara burung itu tambah keras dan tambah manja. “Cit, cit, cricit…; cit, cit, cricit….!”

Advertisement

Pelancong itu melepaskan tas gendongannya. Ia pun tertidur dengan lelap. (Norwegia)

Continue Reading
Advertisement

Mendongeng Lima Menit

KUDA DAN KELEDAI

Published

on

Pak Tani yang rajin itu setiap hari menjual kelapa dan jagung ke kota. Alat angkutnya adalah seekor kuda dan seekor keledai. Kedua alat angkut itu sangat kuat dan taat mengangkut beban yang berat. Mereka bekerja setiap hari. Pagi berangkat, sore baru kembali pulang.

Walaupun kedua hewan itu sama-sama rajin, namun perlakuan majikannya berbeda. Pak Tani lebih sayang kepada kudanya karena memiliki kelebihan jika dibandingkan dengan keledainya. Kuda itu ganteng, bulunya cokelat hitam dan di lehernya membentang belang-belang putih. Sedangkan keledai kelihatannya lugu, warna bulunya polos, cokelat keabu-abuan. Orang yang melihatnya di jalan, pasti lebih memuji sang kuda daripada sang keledai.

“Keledai itu lebih kuat mengangkut beban dari pada kudaku,” demikian sang majikan memperkenalkan kuda dan keledainya kepada setiap orang. Oleh karena itu hewan lugu itu diberi beban lebih berat. Keledai itu mampu mengangkut 6 butir kelapa, dan dua karung jagung. Sedangkan sang kuda ganteng itu hanya mengangkut beban empat butir kelapa dan satu karung jagung. Dengan demikian, kuda yang semampai itu melenggang dengan mudah menuju pasar kota.

BACA  SEMUT DAN KUPU-KUPU

Keadaan seperti itu berlangsung setiap hari. Si majikan tidak merasakan bagaimana keluhan keledainya yang lugu. Keledai merasa diperlakukan tidak adil. Ia benar-benar mengerahkan seluruh tenaganya.

Advertisement

Sang majikan juga tidak merasakan bahwa keledainya makin tua dan makin lemah. Suatu siang, di tengah perjalanan, sang keledai tiba-tiba ngos-ngosan lalu duduk beristirahat. Ia minta bantuan kepada sahabatnya, si Kuda.

“Kawan Kuda! Tolonglah, ambil sebagian bebanku! Tenagaku sangat lemah. Rupa-rupanya aku tidak sanggup membawa seluruh beban itu.”

“Hi, hi. gampang benar ucapanmu!” bentak Kuda. “Itu kewajiban yang diberikan oleh majikan. Kerjakanlah dengan baik! Bukankah kita sama-sama diberi makan enak sampai kenyang?”

Keledai yang ringkih itu bangkit perlahan-lahan lalu melanjutkan perjalanan. Namun baru beberapa langkah ia terjerembab lagi. Napasnya putus dan tidak pernah bangkit lagi.

Sang majikan berpikir ia harus sudah sampai di pasar sebelum tutup. Lalu ia secepatnya memindahkan semua kelapa dan jagung itu dari punggung keledai ke punggung kuda. Beruntung sekali, barang-barang itu tiba di pasar tepat pada waktunya.

Advertisement

Keesokan harinya dan seterusnya, Pak Tani mengikat dan menumpukkan kelapa dan karung jagung itu di punggung kuda. Semuanya sepuluh butir kelapa dan 3 karung jagung. Dalam perjalanan, kuda yang semampai itu menyesali sikapnya yang egois, “Mengapa aku tidak menolong teman yang sangat memerlukan pertolongan?”

BACA  LAKI-LAKI DAN WANITA

Continue Reading

Mendongeng Lima Menit

KIJANG YANG KETAKUTAN

Published

on

Suatu siang seorang petani memotong-motong kayu api di kebunnya. Tiba-tiba dari kejauhan ia melihat seekor kijang berlari-lari mendekatinya.

“Tuan! Sekelompok pemburu mengejar hamba. Tolong, selamatkanlah hamba!” katanya terengah-engah.

“Cepat-cepatlah bersembunyi di onggokan kayu api itu!” kata petani pemotong kayu sambil menunjuk seonggok kayu api.

Benar, tak lama berselang kelompok pemburu itu muncul. Sebagian naik kuda, siap dengan bedilnya, dan sebagian menuntun anjing pemburu.

Advertisement

“Adakah Anda melihat seekor kijang lewat ke sini?” kata pemburu  penunggang kuda.

Pak tani menghentikan pekerjaannya, lalu menjawab, “Maaf, tak ada seekor hewan pun yang lewat di sini.” Ketika berkata demikian, telunjuknya menunjuk onggokan kayu di sebelahnya.

“Terimakasih!” jawab pemburu itu lalu secepatnya balik ke dalam hutan.

Setelah aman, kijang yang ketakutan itu keluar dari onggokan kayu api tempatnya bersembunyi. Ia hanya menoleh tukang kayu, lalu segera beringsut meninggalkan tempat.

“Hai, Kijang!” seru petani tukang kayu itu. “Aku telah menyelamatkan nyawamu, tetapi kamu tidak ambil pusing. Tidakkah kamu punya perasaan untuk berterimakasih?”

Advertisement

“Berterimakasih?” jawab kijang itu heran. “Aku dengan jelas melihat tindakanmu dari celah onggokan kayu api itu. Kamu tidak sepenuhnya menolongku. Untunglah pemburu-pemburu itu bodoh. Ia hanya paham bahasa mulut, tetapi tidak paham bahasa telunjuk.”

BACA  KUBURAN IBU KODOK

“Selamat tinggal!” kata kijang itu lagi. “Belajarlah memberi pertolongan dengan tulus, sehingga bahasa mulut sama dengan bahasa telunjuk.” (Aesop)

 

Advertisement
Continue Reading

Mendongeng Lima Menit

MENCARI ANAK ANGKAT

Published

on

Seorang raja yang lanjut usia selalu gelisah. Sebabnya adalah karena beliau tidak punya keturunan. Beliau selalu memikirkan bagaimana nasib kerajaan kelak, kalau tak ada ahli waris yang menggantikannya.

Suatu hari sang Raja mendapatkan akal. Belau memerintahkan kepada semua patihnya untuk menyebarkan sebuah pengumuman. “Dicari seorang anak angkat yang akan mewarisi tahta kerajaan,” demikian bunyi pengumuman itu.

Selang tiga hari, seratus orang anak mendaftar. Mereka sangat berminat menjadi anak angkat Raja. Kepada setiap anak, Raja membagikan sebatang benih bunga. “Dalam waktu satu bulan, kamu harus menunjukkan tanaman bunga itu ke istana! Anak yang kupilih adalah anak yang menunjukkan tanaman bunga yang segar dan indah,” kata Raja.

Tersebutlah seorang anak bernama Andana, sangat telaten mengurus benih bunganya. Seminggu berselang, ia memeriksa tanamannya, namun tak ada tunas yang muncul, padahal setiap hari ia menyirami dengan air secukupnya. Ia gemburkan tanahnya, ia rabuki dan mencabut semua rumput yang tumbuh di sekitarnya.

Advertisement

Maka tibalah hari yang ditentukan itu. Semua anak menghadap ke istana. Mereka satu-persatu menunjukkan tanaman bunga yang indah warna-warni. Ada yang menunjukkan mawar merah, putih dan kuning, ada yang memperlihatkan gumitir yang kuning dan bunga bintang yang kemerah-merahan. Walaupun bunga-bunga itu segar, indah dan beraroma harum, namun Raja kecewa.

BACA  KUDA DAN KELEDAI

Tibalah giliran Andana yang menunjukkan tanaman bunganya. Sungguh mengecewakan! Sungguh memalukan! Di depan Raja ia memperlihatkan batang bunga yang kering, tanpa tunas, tanpa daun, apalagi berbunga. Ketika merunduk, tiba-tiba anak itu menangis.

“Mengapa kamu menangis, Nak?” tanya Raja.

“Maaf, Paduka!” jawab Andana. “Hamba sudah berusaha merawat benih bunga itu sebaik-baiknya, namun gagal. Hamba merasa berdosa, sebab tanaman itu mati”.

“Bangkitlah, Nak!” perintah Raja. “Kamulah ahli warisku yang akan menggantikanku menjasi Raja.”

Advertisement

Tentu saja anak-anak lainnya beserta orangtuanya mengadukan protes kepada Raja. “Mengapa menghargai anak yang mempersembahkan bunga mati?” teriak mereka.

“Dialah satu-satunya anak yang jujur!” jawab Raja. “Sebetulnya benih bunga itu akan mati semua, sebab akar benih itu kurebus dengan air panas. Jadi bunga segar, indah dan berbau harum yang kau perlihatkan kepadaku adalah bunga-bunga dari benih yang tidak berasal dari istana”.

 

Advertisement
Continue Reading

Tren