Woman on Top

Dewi Rahayu Aryaningsih: Manajemen Waktu

Peran wanita dalam keluarga sangatlah utama. Demikian disampaikan Dewi Rahayu Aryaningsih, S.Ag.,M.Ag. Dosen di STAH Mataram ini menyebut peran wanita begitu kompleks. Pertama, sebagai “sarana” terwujudnya Punarbhawa atau kelahiran kembali. Kedua, sebagai penuntun atau pengemban atau mentor dalam mencapai tujuan hidup.

Ia menjelaskan, pendidikan dalam Hindu diperoleh ketika terjadinya “pertemuan” sel telur di indung telur, pembuahan kemudian mengandung. Selama itu “sang rare” mendapat pengetahuan, pendidikan dari sang ibu. “Wanita itu guru pertama bagi siapa pun. Sebagai partner sang suami dalam menjaga keutuhan/keharmonisan keluarga dan masih banyak lagi peran wanita dalam keluarga sesungguhnya,” ujar perempuan kelahiran Denpasar 22 Desember 1977 ini.

Peran wanita di keluarga saat ini seperti kekurangan waktu untuk keluarganya karena wanita tidak hanya di dapur/rumah saja. Tuntutan keperluan hidup dan makin meningkatnya pendidikan wanita membuat wanita harus membagi waktunya untuk membantu suami dalam pemenuhan keperluan hidup keluarga.

Kemudian peran wanita dalam karier, kini banyak wanita berkarier bahkan hampir mengisi di semua bidang. Itu menunjukkan terlahir sebagai wanita bukanlah sosok yang lemah. Dari segi pendidikan mampu meraih pendidikan yang tinggi, dari berbagai pekerjaan wanita juga dapat melakukannya. Selanjutnya, peran wanita di masyarakat juga semakin menunjukkan kiprahnya. seperti terlibat dalam organisasi sosial keagamaan, politik, serta organisasi profesi lainnya.

Dewi mengatakan, pendidikan merupakan salah satu implementasi dari nilai Kartini di era milenial. Artinya, pada tingkat pendidikan paling tinggi pun wanita dapat mengisinya. Seperti, wanita banyak yang bergelar profesor, menjabat pada jabatan tertinggi di dunia akademisi maupun politisi. Bahkan pimpinan tertinggi dalam satu negara (presiden) pun seorang wanita. Di bidang profesi para wanita juga turut serta mengisi posisi di berbagai bidang profesi, pengemudi ojek, sopir taksi, tukang suun, pengacara, jaksa, hakim, KPK, tentara dan lain sebagainya

Dari kesemuanya itu,  Dewi mengatakan yang perlu ditingkatkan adalah manajemen waktu. “Bayangkan 24 jam dalam sehari dikurangi 8 jam untuk tidur, 8 jam untuk bekerja (berkarier). Masih 8 jam lagi. belum terhitung untuk diri sendiri (mandi, makan, bersolek), belum lagi hidup bermasyarakat, melaksanakan upacara agama sebagai bagian dari tiga kerangka dasar agama Hindu. Apakah sisa waktu yang ada, dapat tetap menjalankan peran seorang wanita dalam keluarga?” tanya istri dari I Nyoman Suarna, S.H., M.H. ini.

Karena itu, Dewi mengajak semua wanita untuk berbenah meningkatkan manajemen waktu para wanita, jangan sampai terjadi pergeseran makna. Yang perlu dihilangkan adalah pemikiran bahwa tidak semata-mata wanita  harus setara dengan pria, mendapatkan kesempatan yang sama dengan pria sehingga bersaing menomorsatukan ego semata. Wanita dapat berkembang tanpa melupakan kodratnya.

Emansipasi wanita yang diperjuangkan Raden Ajeng Kartini tentu bukan berarti wanita berlomba-lomba menyaingi pria. Namun, wanita seyogyanya menjadi “saktinya” sang suami yang harus dijaga. Seperti yang tertuang dalam Dharmasastra III. 56 yang berbunyi “dimana wanita dihormati disanalah para Dewa-dewa merasa senang, tapi dimana mereka tidak dihormati, tidak ada upacara suci apapun yang akan berpahala”. “Begitu pentinganya peran wanita dalam keluarga maka mari bersama-sama tingkatkan pendidikan wanita,” tandasnya.   (Inten Indrawati)

To Top