Metropolitan

Berhentilah Mengeluh, Raihlah Prestasi

Seiring dengan kemajuan zaman, makin banyak wanita Indonesia tampil baik sebagai pemimpin ataupun memasuki bidang-bidang kerja yang dulunya ‘dikuasai’ laki-laki. Namun di sisi lain, meski zaman makin maju, masih banyak wanita Indonesia yang membatasi dirinya dalam melakukan sesuatu karena keperempuannya. Pada akhirnya dirinya sendirilah yang menghalangi kemajuannya.

“Para perempuan berhentilah membatasi diri untuk melakukan sesuatu. Berhentilah berpikir bahwa Anda berbeda. If you always think you are different then you can’t grab what man can grab,” ungkap Menteri Susi Pudjiastuti. Ia menambahkan,  jika terlalu berpikir tentang keperempuanannya maka perempuan tak akan maju. “Jadi mulailah berpikir apa yang bisa dilakukan, bukan berpikir apa yang bisa dilakukan sebagai perempuan,” tegasnya.

Ia pun mencontohkan dirinya yang dalam bekerja tidak berpikir laki-laki atau perempuan. Sama saja. Ketika dirinya merasa bisa melakukan sesuatu maka dia pun akan melakukannya. Termasuk dalam memimpin. Dia mengaku meski memimpin organisasi yang mayoritas laki-laki dia tak pernah merasa sendirian. Itu karena dia tidak berpikir soal perbedaan gender dalam bekerja.

“Kalau orang lain bisa, saya pun bisa. Saya tidak pernah berpikir keperempuanan saya adalah sebuah rintangan ataupun hambatan,” tegas Susi yang telah berkali-kali meraih penghargaan ‘Tokoh Inspirasi’ dari berbagai lembaga.

Gender, kata Susi, bukan halangan untuk perempuan meraih prestasi. Ada banyak kesempatan dan peluang yang bisa digunakan perempuan untuk bisa meraih prestasi sebaik mungkin.

Kartini adalah seorang perempuan yang memiliki kecerdasan intelektual dan pemikiran-pemikirannya sangat jauh ke depan. Dia memiliki kebijaksanaan juga realistik. Itu tergambar dalam surat-suratnya. Di sisi lain, sebagai wanita Indonesia harus mensyukuri hidup di zaman yang penuh kemudahan dan apreasiasi masyarakat terhadap perempuan semakin baik.

“Bandingkanlah dengan Kartini orang yang memiliki pemikiran maju tapi hidupnya terkungkung. Sementara kita para perempuan saat ini bisa menikmati segala kemudahan dan apresiasi masyarakat terhadap perempuan sudah sangat jauh lebih baik. Jadi berhentilah mengeluh, stop mempermasalahakan  gender. Tapi kerja, bergerak, berkarier, berprestasilah,” ungkapnya.

Dalam pandangan Susi, peran perempuan dalam perekonomian Indonesia sangat signifikan. “Tipikal, karakter, budaya kerja orang-orang Indonesia dari  suku manapun, saya lihat perempuan menggerakkan ekonomi. Kalau dia (perempuan)  tidak di depan sebagai planner atau organizer, paling tidak dia sebagai ‘doing think’, itu yang saya lihat,” ujarnya.

Terkait persamaan hak dan kesempatan, hal tersebut sebenarnya harus dimulai dari keluarga. Orangtua harus mendidik anak-anaknya dengan tanggungjawab yang sama tanpa membedakan. “There are no gender different baik dari segi tanggung jawab maupun kemampuan,” ujar wanita kelahiran Pangandaran, Jawa Barat ini.

Ibu tiga anak yang telah mengoleksi puluhan penghargaan dari dalam maupun luar negeri ini menyebut inspirasi hidupnya didapat dari sang ibu tercinta, Suwuh Lasmina. “Ibu saya adalah seorang pekerja keras. Dia adalah perempuan yang berani, lugas. Pada usia 12 tahun, Ibu saya berani kabur dari keluarga karena menolak dinikahkan. Bagi saya itu adalah keberanian seorang wanita untuk zaman tahun 1930-an,” ungkap Susi.

CANTIK ITU BANYAK PENGETAHUAN

Wanita Indonesia harus berani, optimis dan percaya diri dan mampu membebaskan dirinya dari keterbatasan pemikiran sebagai wanita. Itulah yang telah dilakukannya untuk bisa menjadi seperti sekarang ini.

Untuk menjadi cantik, seorang wanita cukup merasa ceria, gembira dan memiliki jiwa positif. Dengan hal tersebut maka kecantikan dari dalam akan terpancar. Sebaliknya jika selalu berpikir negatif akan memiliki wajah yang berkerut. Dengan prinsip itu maka Susi mengaku tak perlu berdandan lama-lama untuk pergi menghadiri acara. “Saya hanya butuh waktu 45 menit, itu sudah termasuk mandi, berpakaian dan berdandan,” ujar Susi yang mengaku merasa heran jika ada perempuan yang menghabiskan waktu berjam-jam berdandan untuk menghadiri sebuah acara.

Baginya waktu sangat berharga dan sayang kalau harus dibuang begitu saja. “Mau cantik, boleh, tapi kalau menghabiskan waktu, then what?” ucapnya. Untuk merasa cantik, seorang perempuan harus memiliki rasa percaya diri dan percaya diri itu dibangun, salah satunya, dengan memiliki pengetahuan. “Untuk menjadi confident kita harus punya banyak pengetahuan. Orang ‘berisi’ dan ‘tidak berisi’ di kepalanya pasti akan tampil beda,” katanya.

Menurutnya, kecantikan adalah penting. Namun kalau setiap hari hanya berpikir apa kelebihan bedak ini-itu, apa produk terbaik untuk kulit, itu buang-buang waktu. “That’s waste your time, dan Anda tidak akan pernah percaya diri,” ucap Susi yang pada akhir Maret lalu lenggak-lenggok di catwalk Indonesia Fashion Week 2018.(Diana Runtu)

 

To Top