Edukasi

Dimana Wanita Dimuliakan Disana Ada Kesejahteraan

“Ibu kita Kartini, putri sejati putri Indonesia, harum namanya.

Ibu kita Kartini, pendekar bangsa pendekar kaumnya untuk merdeka.

Wahai ibu kita Kartini putri yang mulia sungguh besar cita-citanya bagi Indonesia.”

Lagu ciptaan WR Supratman ini menjadi bagian dari pembukaan  sarasehan “Wanita Bali Bicara (Dalam Teks dan Konteks)” di Aula Lantai 3 Rektorat Universitas Hindu Indonesia, Denpasar, Kamis (19/4).
“Kegiatan ini bagian dari memaknai perayaan Kartini. Bagaimana kita memuliakan wanita seutuhnya. Dimana wanita dimuliakan di sana ada kesejahteraan,” ujar  Kadek Satria, S.Ag., M.Pd.H., Pembina UKM Kelompok Diskusi Dipa Bhawana saat memberi pengantar. Sarasehan ini diharap menjadikan wanita Bali menunjukkan eksistensi. Jangan sampai dibingungkan dengan pilihan tradisi dan modernitas. Wanita harus bijaksana dalam segala situasi.

Mereka yang hadir sebagai narasumber adalah Sayu Sutrisna Dewi, Kadek Aria Primadewi, Ni Nyoman Nilawati, dan IA Ketut Sri Sumiartini. Sarasehan dipandu Rai Setiawati. Acara ini juga dihadiri Perempuan Inspiratif  Tokoh seperti IA Selly Fajarini, AAA Tini Rusmini Gorda, Made Herry Erika, dan Helga Riftiana. Undangan lainnya adalah Ni Putu Putri Suastini, DAP Sri Wigunawati, dan para pejabat di lingkungan kampus Universitas Hindu Indonesia.

Rektor Universitas Hindu Indonesia Prof. Dr. Drh. I Made Damriyasa, MS menyambut baik kegiatan yang digagas UKM Kelompok Diskusi Dipa Bhawana. “Ini merupakan tahapan awal untuk membentuk Pusat Kajian Wanita Hindu di UNHI,” tegasnya.
PENDIDIKAN ADALAH KUNCI UTAMA

Sayu Sutrisna Dewi memaparkan wanita adalah penggerak utama ekonomi kreatif Indonesia. Banyak sektor kuliner, fashion, kerajinan, pertunjukan yang digeluti wanita. Secara umum, wanita memiliki kelebihan, yakni terampil dan good time management. “Pendidikan adalah kunci utama untuk membuka dunia dan paspor untuk meraih kebebasan,” ujar Ketua Inkubator Bisnis Universitas Udayana ini.

Sementara itu Kadek Aria Primadewi menyoroti pentingnya pendidikan pranikah. Hal ini penting agar pasangan yang menikah siap untuk menghadapi tantangan abad 21, seperti perkembangan iptek, kecepatan arus informasi, kegamangan budaya, krisis identitas dan jati diri serta kompleksitas kehidupan.

IA Ketut Sri Sumiartini menambahkan peranan perempuan sangatlah besar dalam segala aspek kehidupan. “SDM perempuan tidak kalah dengan laki-laki. Di era milenial perempuan wajib meningkatkan kapabilitas dan kemampuan agar bisa bersaing dan mampu mengambil peran dan berkontribusi demi Bali yang santhi dan jagadhita,” tegas istri I Ketut Sudikerta ini. (Ngurah Budi)

To Top