Mendongeng Lima Menit

SEMUT DAN KUPU-KUPU

Seekor semut besar kemerah-merahan berjalan-jalan di sebuah taman. Ketika menoleh ke atas, ia melihat sebuah benda aneh tergantung di ranting pohon.

“Hai, benda aneh! Siapa kamu? Bentukmu tidak beraturan, seperti kotoran sapi yang dilemparkan ke atas,” tanya semut itu sambil menengadahkan kepala.

“Namaku Kepompong. Aku memang ditakdirkan begini. Siapa namamu?” tanya benda aneh seperti kotoran sapi itu.

“Namaku Sumangah. Aku semut yang bebas mondar-mandir dan selalu mendapatkan makanan yang enak-enak. Kasihan aku melihat nasibmu yang sial itu! Bentukmu jelek dan tergantung lagi,” ledek Sumangah sambil meninggalkan tempat itu.

Keesokan harinya si Sumangah lewat lagi di tempat itu. Ia melongok ke atas, melihat Kepompong yang tergantung. Kemudian meninggalkan tempat itu sambil tertawa cekikikan.

Beberapa hari kemudian Sumangah yang suka meledek itu lewat lagi di tempat itu. Hujan baru saja turun dan di langit mendung tebal berarakan. Ia sengaja lewat di tempat itu untuk memamerkan keunggulannya. Ia ingin menunjukkan bahwa ia sanggup mengangkut segumpal roti yang besar dan berat. Ketika melongok ke atas, ia terheran-heran. Benda aneh yang bernama Kepompong itu tidak ada lagi.

Hujan yang makin lebat memaksa Sumangah berjalan lambat dan terengah-engah. Ia merayap dan merayap. Sial! Semut besar kemerah-merahan itu tergelincir, lalu jatuh di genangan air. Ia meronta-ronta menahan diri agar tidak tenggelam. Roti yang dibawanya terlepas lalu hanyut menghilang. Untunglah di dekatnya jatuh sepotong ranting. Ia pegang ranting itu erat-erat, lalu tiba-tiba ia merasakan dirinya melayang-layang. Di tempat itu, di bawah sebuah pohon, ia dapati dirinya duduk berdampingan dengan seekor hewan bersayap indah.

“Terimakasih, kau telah menyelamatkan hidupku. Siapa kamu?” kata Sumangah  terengah-engah.

“Sungguh kasihan aku melihatmu tenggelam dan hampir mati. Akulah yang menjatuhkan sepotong ranting di dekatmu. Dulu ketika bentukku jelek, aku bernama Kepompong. Sekarang aku sudah berubah menjadi makhluk yang bisa terbang. Namaku Kupu-kupu.”

Semut besar kemerah-merahan yang bernama Sumangah itu malu tersipu-sipu. Ia berkali-kali mengucapkan terimakasih kepada makhluk bersayap itu. Dalam hati ia berjanji, tidak akan menyombongkan diri dan tidak akan mengejek makhluk-makhluk aneh lainnya. (Spanyol)

To Top