Sudut Pandang

Perempuan Cenderung Gunakan Perasaan

Made Hermawati Diah Pertiwi dan Putu Ayu Reika Nurhaeni

Perempuan dan laki-laki saat ini diberi kedudukan yang sama, segala keterbatasan yang mengungkung hak-hak wanita berhasil dihilangkan. Inilah simbol dari kesetaraan gender dan emansipasi wanita. Hal ini disampaikan Made Hermawati Diah Pertiwi, S.E., Ketua Gatriwara Kabupaten Buleleng.

Baginya, ketika perempuan diberi hak setara dengan pria, berpendidikan tinggi dan bekerja untuk mendukung finansial keluarga, masalah selanjutnya adalah bagaimana ia bisa menjalankan kodratnya sebagai seorang perempuan. Menjadi perempuan karier yang sukses sekaligus ibu dalam rumah tangga misalnya. Kebanyakan masyarakat berpikir, menjadi wanita karier sukses atau ibu rumah tangga yang bahagia adalah sebuah pilihan.

Sejatinya, jika kebetulan berada dalam posisi tersebut, sewajarnya ada yang harus dikorbankan. Padahal, masih banyak wanita sukses karier sekaligus berhasil pula menangani tugas rumah tangganya selama masih mampu merancang manajemen waktu. “Perempuan harus bisa menjalankan peran ganda tanpa meninggalkan kodratnya sebagai perempuan. Di satu sisi perempuan dituntut produktif dalam karier dan menjadi panutan sebagai ibu dari anak-anaknya,” jelasnya.

Perempuan yang akrab disapa Herma ini menambahkan, ketika kesetaraan gender tidak lagi menjadi hal yang dilematis, banyak perempuan-perempuan hebat dan berprestasi. Mereka dapat disejajarkan dengan laki-laki dari berbagai bidang kehidupan baik politik, sosial, ekonomi, pendidikan dan sebagainya. Bahkan beberapa perempuan telah berhasil menjadi seorang pemimpin dalam sebuah negara, pemimpin dalam sebuah perusahaan maupun ahli di bidang tertentu.

Perempuan yang saat ini menjabat sebagai Pimpinan KCP Bank CIMB Niaga Singaraja mengatakan kepemimpinan seorang perempuan dan laki-laki dalam suatu perusahaan atau negara tetap memiliki perbedaan. Hal ini juga dirasakan langsung ketika dirinya harus mengkoordinir para staf di perusahaan yang saat ini ia pimpin. Baginya perempuan dan laki-laki memiliki karakter dan sifat yang berbeda sehingga dirinya memiliki cara tersendiri dalam mengoordinasikan pekerjaan.

“Saya punya cara sendiri untuk mengoordinasikan pekerjaan dengan staf laki-laki dan perempuan karena mereka mempunyai karakter yang berbeda. Tetapi saya tetap lakukan kordinasi umum untuk mencapai tujuan bersama,” jelasnya. Memang tidak dimungkiri, kelemahan seorang perempuan dalam hal kepemimpinan, perempuan cenderung menggunakan perasaan dibanding logika. “Ini salah satu kelemahan tipe kepemimpinan perempuan akan tetapi dengan satu kelemahan itu bukan berarti perempuan tidak dapat melakukan tugasnya dengan baik,” paparnya.

Kepemimpinan seorang perempuan dalam suatu perusahaan ataupun negara tidak serta merta dapat dibawa dalam keluarga. Bahkan ketika perempuan menjadi pengambil keputusan dalam kepemimpinannya, peran tersebut tidak selalu bisa dibawa dalam keluarga. Perempuan kelahiran di Desa Munduk, 11 Januari 1970 menambahkan setinggi apapun jabatan dan tingkatan seorang perempuan, mengambil keputusan  dalam keluarga tetap harus didasari pengetahuan sang suami.

Meskipun keputusan yang akan diambil sangat berhubungan dengan kewajibannya sebagai seorang ibu, akan tetapi koordinasi dan meminta izin kepada suami tetap dilakukan, hal ini bertujuan agar segala keputusan yang diambil dapat menjadi tanggung jawab bersama. “Mengambil keputusan sendiri hanya saya lakukan dengan hal  yang berkaitan dengan kewajiban saya, tetapi tetap atas sepengetahuan dan izin dari suami,” tutupnya.

MUSYAWARAH UNTUK MUFAKAT

Pengalaman menjadi seorang pemimpin juga dirasakan oleh Putu Ayu Reika Nurhaeni, S.Sos., Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil  Kabupaten Buleleng. Dengan adanya emansipasi wanita, perempuan dituntut cerdas, berdaya dan mampu menjadi inspirasi untuk bidang yang ditekuni.

Baginya, kesetaraan gender membawa kedudukan antara laki-laki dan perempuan sama untuk memperoleh kesempatan serta hak-hak sebagai manusia. “Banyak hal yang bisa disetarakan misalnya dalam bidang politik, hukum, ekonomi, sosial budaya, pendidikan, pertahanan dan keamanan sosial,” ungkapnya.

Bagi perempuan yang akrab disapa Reika ini, dalam hal kepemimpinan, sudah tentu dirinya berhadapan dengan staf baik laki-laki dan perempuan dengan berbagai karakter dan usia yang berbeda. Dalam hal ini, seorang pemimpin dituntut memiliki seni untuk bisa mengoordinir para staf agar tercipta tim yang solid dan hebat. “Dalam memimpin jiwa dan naluri seorang perempuan dan ibu sangat efektif diterapkan,” jelasnya.

Dirinya juga mengatakan peran sebagai pemimpin tidak serta merta dapat dibawa dalam keluarga dan rumah tangga. Peran seorang perempuan kembali menjadi seorang istri dan ibu dari anak-anak, sehingga segala keputusan yang akan diambil tetap didasarkan pada musyawarah. “Segala keputusan harus dimusyawarahkan dengan suami dan anak-anak sehingga tercapai kemufakatan untuk diambil suatu keputusan,” pungkasnya. (Wiwin Meliana)

To Top