Metropolitan

Menanti Masinis Bersenyum Manis

Peluang perempuan untuk berkiprah di dunia kerja makin terbuka luas. Di dunia perkeretaapian misalnya, dulu masinis didominasi oleh laki-laki, tapi kini tidak lagi. Dulu, sebelum 2014, semua masinis kereta api adalah laki-laki. Tapi kini masinis-masinis perempuan pun bermunculan.

Hal ini memberi tanda sekaligus peluang adanya profesi baru yang terbuka untuk kalangan wanita. Perekrutan masinis wanita itu sendiri dimulai tahun 2014 saat Dirut Kereta Api Indonesia dijabat Ignatius Jonan yang kemudian menjadi Menteri Perhubungan dan kini Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Meski KAI sudah membuka pintu lebar untuk para perempuan, namun mencari masinis perempuan ternyata tidak mudah. Maklum sejak lama dunia permasinisan ‘dikuasai’ kalangan pria. Sulitnya mendapatkan masinis wanita juga diungkap oleh Direktur MRT William Sabandar kepada media belum lama ini.

“Tidak mudah mencari masinis wanita. Mungkin karena ini dulunya adalah dunia laki-laki. Tapi kini sudah mulai muncul masinis-masinis wanita meski belum banyak. Kita terus mendorong, ini bukan hanya dunia laki-laki tapi juga wanita bisa melakukannya. Terbukti saat ini MRT sudah punya lima masinis wanita, mereka hebat-hebat,” ucap William semangat.

Sebisa mungkin, pihaknya akan mencari dan mendapatkan masinis wanita baik itu dari API maupun STTD. Karena menurutnya, kemampuan wanita tidak kalah dengan laki-laki, apalagi wanita umumnya punya keistimewaan yakni jauh lebih teliti ketimbang laki-laki.

Kamis (12/4) lalu adalah kali pertama  masinis wanita MRT (Mass Rapid Transit) Jakarta dimunculkan di depan publik. Salah satunya adalah Tiara Alincia Fitri, yang ikut mendampingi Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengunjungi Depo MRT Lebak Bulus, Jakarta.

“Senang dan bangga sekali,” ujar Tiara (21), alumni Akademi Perkeretaapian Indonesia (API) dengan wajah sumringah. Selain Tiara, MRT juga memiliki masinis wanita Nidya Larasmunati, Indri, Desi dan Amel. Saat ini Amel dan Desi mengikuti pendidikan dan pelatihan di Malaysia.

Tiara mengaku bangga dan senang bisa menjadi masinis perempuan pertama dalam moda yang baru pertama kali ada di Indonesia yakni MRT. “Ini sistem baru yang berbeda dengan KRL. Suatu yang luar biasa dan juga membanggakan bagi kami para perempuan menjadi masinis MRT pertama. Ini juga merupakan kesempatan bagi kami untuk ikut mengubah wajah Jakarta,” ungkap Tiara tersenyum lebar.

Tiara mengaku awalnya tidak terpikir akan menjadi masinis. Ia masuk industri perkeretaapian sebagai passanger service, yakni melayani penumpang kereta api. Namun kemudian terpilih untuk menjadi calon masinis dan mengikuti pendidikan masinis.

“Kami juga mengikuti program latihan di Malaysia termasuk mencoba membawa kereta yang penuh penumpang. Jadi di sana kami juga berlatih  membawa penumpang saat  peak hour dan off peak hour. Tentu saja kita didampingi, tapi yang pegang handle kita,” tutur Tiara yang mengaku mendapat dukungan dari orangtuanya untuk menjadi masinis.

TANTANGAN MASINIS PEREMPUAN

Sebagai perempuan, masuk ke ‘dunia laki-laki’ yakni dunia permasinisan merupakan tantangan tersendiri. Seperti halnya laki-kali maka perempuan pun harus mempu menunjukkan kemampuannya. Pekerjaan ini tidak melihat gender, tapi siapa yang memiliki kemampuan. “Saya berharap adanya perempuan sebagai masinis dunia perkeretaapian Indonesia makin maju,” kata Tiara sembari tersenyum manis.

Hal senada juga disampaikan Nidya Laras Yuniati yang merasa bangga juga tertantang dengan profesi barunya itu. “Saya sangat antusias  dan juga merupakan tantangan,  karena ini kan teknis ya. Kita harus tahu tentang kereta api, tentang listrik,” katanya.

Bekerja di ‘dunia laki-laki’,  kata Laras, merupakan tantangan tersendiri. Wanita harus menunjukkan kemampuan terbaiknya dan itu yang akan dia lakukan dalam menjalankan pekerjaannya nanti. “Tantangan lainnya adalah beradaptasi dari pengetahuan kereta api dengan sistem fixed block yang saat ini digunakan oleh kereta api Indonesia, ke moving block yang digunakan MRT,” ungkap Laras yang lulusan Sekolah Tinggi Transportasi Darat.

Rasa bangga adanya masinis perempuan juga disampaikan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dalam kunjungannya ke Depo MRT Lebak Bulus, Jakarta.

Dengan adanya masinis perempuan menjadi bukti bahwa menjadi masinis bukan hanya pekerjaan laki-laki tapi perempuan pun mampu. Kami bangga dengan putra-putri kami,” ujar Anies sambil menambahkan telah melakukan inspection set dan bertemu dengan masinis perempuan bernama Tiara.

Menurutnya, rangkaian kereta api cepat tersebut bisa sekali jalan bisa mengangkut sekitar 1.800 penumpang. “Sekali lagi, kami bangga dengan putra-putri kami yang sudah bekerja menyiapkan proyek yang saat ini telah mencapai 92,5%,” tuturnya.

Tularkan Kedisiplinan

Dalam kunjungan ke  Depo MRT Lebak Bulus, Jakarta, Gubernur DKI  Anies Baswedan berkesempatan melihat-lihat sejumlah fitur yang ada di areal seluas 10,5 ha tersebut, seperti areal rel kereta, kereta khusus lansir dan area pemeliharaan kereta. Rencananya kereta MRT tersebut akan dioperasikan sepenuhnya pada Maret 2019.

Untuk diketahui, pada dasarnya MRT adalah kereta api cepat otomatis tanpa masinis. Kereta ini dikendalikan  oleh operator pusat, Operational Control Centre (OCC) di Stasiun Lebak Bulus. Namun untuk tahap awal, keberadaan masisnis tetap dibutuhkan demi keamanan, namun tugasnya terbatas atau tidak sebanyak masinis KRL.

Masinis nantinya akan bertugas pada bagian darurat, pembuka-penutupan pintu. MRT rencananya akan memiliki 65-an masinis, namun saat ini yang sudah siap beroperasi sekitar 32 masinis, lima di antaranya adalah wanita.

“Semua orang yang bekerja di MRT Jakarta menerapkan kedisiplinan tinggi. Hal ini yang akan ditularkan kepada 173.400 orang pengguna kereta yang akan dilatih disiplin, tepat waktu, bersih dan antre yang baik. Dengan begitu akan menghasilkan budaya baru,” papar mantan Menteri Pendidikan itu.

MRT Jakarta adalah melting pot, dari berbagai lapisan masyarakat, dari berbagai pekerjaan, dari berbagai posisi top di perusahaan hingga posisi pendukung. “MRT akan mendorong interaksi masyarakat, mendorong kesatuan masyarakat,” ujarnya. (Diana Runtu)

 

To Top