Surabaya

Pedasnya Hidup Pengusaha Sambal

Kerasnya hidup di kota besar Surabaya membuat siapapun yang tinggal disana menjadi pribadi yang kuat dan pekerja keras. Hal ini diakui Ervin Rosaria, pemilik usaha sambal Mbok D’Wor.

Perempuan kelahiran Jember 2 Maret 1978  ini putri dari seorang pegawai kecamatan dan seorang penjahit. Sejak kecil ia mengalami betapa kerasnya  berpacu dengan waktu, sama kerasnya dengan kehidupan semasa kecilnya di kampung halamannya di Jember.

Peristiwa dalam hidup yang dialami oleh ibu dua anak ini, benar-benar menjadikan dirinya sebagai pribadi yang kuat dan mandiri. Kelakuan dan perlakuan suaminya yang tidak bisa dibenarkan oleh hati nuraninya menjadi perbedaan prinsip menjadikan dia gagal mempertahankan pernikahan.

“Setelah saya keguguran anak saya yang ketiga karena gagal jantung, saya memilih pisah dengan suami saya. Saya terpaksa melakukan itu karena suami tetap saja melakukan hal buruk,” ujar ibu dari Audrey Arfiana Putri dan Mochammad Farel Arfiansyah Putra ini.

Pedihnya kegagalan pernikahan,tidak membuat alumni SMEA PGRI Jember ini terus larut dalam kesedihan, sambil bekerja sebagai tenaga marketing di sebuah perusahaan farmasi,  perempuan yang akrab disapa Ervin ini  berusaha mencari kesibukan lain dengan membuka usaha berjualan snack dengan repacking (membungkus kembali) dan reseller (menjual kembali).

Hingga datang suatu momen  yang  mengubah hidupnya. Wanita penghobi kuliner ini menyajikan sambal buatannya dalam suatu rapat di kantornya. Ternyata produknya diapresiasi dengan antusias oleh rekan-rekan kerjanya. Bahkan bossnya pun memuji kelezatan sambal tersebut.

Mulai 2017,  ibu cantik berhijab ini mulai memproduksi massal sambal hasil inovasinya, dia memproduksi makanan pedas tersebut dengan varian sambal bawang, ijo, klotok, ayam, abon, teri,dan bajak. Produk handmade tersebut  diproses secara manual tanpa MSG dan dibanderol dengan harga antara Rp 20.000 sampai Rp 23.000.

“Saya memasarkan produk saya secara online di media social serta memasarkan lewat reseller dan alhamdulilah saat ini omzet sudah mencapai Rp2,5 juta sampai Rp 3 juta perbulan” jelas Ervin.

Pengalaman menarik yang pernah dialami oleh Ervin adalah saat  dia mengikuti event “Mlaku Mlaku nang Tunjungan”, untuk mempersiapkan event tersebut dia memproduksi 10 kg sambal. Proses itu dikerjakan sendiri mulai pukul 17.00 sampai pukul 02.00 dini hari. “Pukul 04.00 saya mau bangun untuk masukkan sambal dalam botol, tapi badan saya terasa lemas. Untung ada anak saya yang buatkan minuman air hangat dicampur madu sehingga badan saya segar kembali,” ujar Ervin (Nanang Sutrisno/Bisnis Surabaya)

To Top