Surabaya

Es Puter Beromzet Jutaan Rupiah

Siapa tak kenal dengan es puter atau es dung dung? Ini  adalah salah satu hidangan pencuci mulut dari Indonesia serupa es krim berbahan dasar air, gula dan santan sebagai pengganti susu. Mereka yang hidup di tahun 1960 sampai 1990  menjadi saksi hidup lezatnya minuman khas Indonesia yang sangat populer di pulau Jawa ini.

Dwi Bayu Anggraini, alumnus Fakultas Teknik Kimia Universitas Pembangunan Negeri (UPN) Surabaya adalah salah satu pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) yang sukses mendulang lezatnya bisnis es puter, melalui bendera Sendok Kayu. Ia memproduksi es puter dan beberapa snack berbahan herbal seperti seledri, semanggi, dan jahe wijen.

“Awalnya saya bekerja sebagai tenaga analis dan quality control di PT Suprama yang memproduksi consumer good dan memutuskan keluar untuk usaha sendiri” kata perempuan yang akrab disapa Anggi ini.

Perempuan berwajah manis ini merasa sedih melihat banyaknya beredar makanan yang mengandung unsur kimia yang tidak sehat bagi anak-anak seperti penguat rasa dan pengawet makanan. Sebagai orang paham bahan kimia, ia merasa tertantang untuk membuat makanan dan jajanan sehat dan lezat untuk anak-anak tapi bebas bahan kimia.

Es puter yang dihasilkan oleh Anggi memiliki varian antara lain coklat, green tea, stroberi, dawet, ketan ireng, ketan coklat, kopi, cabe, durian seharga Rp 8.000 dan  ice parfeti dibanderol Rp 15.000 yaitu es krim 3 lapis  seperti  strawberry love (frutty mix, strawberry, durian, original milk white creamy),  green tea (mori nut, blueberry, durian, milk white creamy), dan crazy chocoreo (theys chocochips, oreo crumble, durian, milk white creamy)

“Saya juga melayani pesanan order khusus ice parfeti in pitcher 450 ml seharga Rp 85.000 untuk keperluan pesta. Alhamdulilah omzet penjualan saya mencapai Rp 20 juta sampai Rp 25 juta per bulan” jelas perempuan kelahiran Surabaya 10 Agustus ini.

Es puter buatan Anggi dipasarkan secara titip konsinyasi di outlet  Lapis Kukus Surabaya Jl. Kutei dan Genteng Kali, outlet Soto Kudus, Outlet Pecel Bu Yatin Dharmahusada. Serta dipasarkan oleh reseller di Surabaya, dan reseller luar kota seperti di Sidoarjo, Gresik, Kediri, dan Bali.

Usaha pemasaran yang dilakukan oleh istri Dedy Irawan ini awalnya tidak langsung mulus. Ia pernah  bekerja sama dengan temannya  untuk memasarkan es puternya dan melengkapi temannya tersebut  dengan 1 unit freezer. Namun seiring perkembangan waktu teman tersebut menghilang berikut dengan freezer miliknya. Ia sangat sedih sekali karena freezer tersebut dibeli dari uang hasil menggadaikan sepeda motor miliknya.

Untuk menambah pengetahuan dan memperluas jaringan, ibu dari Ivan, Kenza, dan Kenzi ini mengikuti pembinaan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Surabaya serta Dinas Koperasi dan UMKM Surabaya, serta aktif di  organisasi Usaha Kecil Menengah (UKM) seperti Pahlawan Ekonomi (PE), Be Kraf, Asosiasi Makanan Minuman Jawa Timur ( AMJ) , E UKM, dan Food Preneur.

Berbagai pameran diikutinya seperti pameran di Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Timur, Sunday Market di Surabaya Town Square (SUTOS), Grand City, Jatim Fair di JX Expo, Mlaku Mlaku Nang Tunjungan, Museum House Sampoerna, dan Rumah Kreatif Bersama (RKB) Mandiri.

“Saat pameran pertama di KONI, suami saya  ikut menjaga di pameran. Saya sedih sekali saat melihat dia bekerja mempersiapkan dagangan di meja hingga susu jualan tumpah,” jelas anak kedua dari 2 bersaudara ini.

Saat ini usaha produksi es puter Sendok Kayu milik Anggi sudah berkembang pesat dan sudah  dilengkapi Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP), Tanda Daftar Perusahaan (TDP), Produk Industri Rumah Tangga (PIRT) Sertifikasi Halal, Izin Edar,  dan Uji Nutrisi.(Nanang/Bisnis Surabaya)

To Top