Woman on Top

Perempuan harus Berani Berpolitik

Gayatri dan Ningrum

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD)  merupakan lembaga legislatif yang bersinergi dengan pemerintah dalam melancarkan program pembangunan. Banyak yang ingin menduduki jabatan wakil rakyat itu. Tiap pemilu, partai politik mengusung sejumlah calon. Mereka bertarung untuk merebut kursi yang tersedia.

Selama ini ada kesan, wakil rakyat didominasi kaum laki-laki. Namun, bukan berarti kaum perempuan ketinggalan. Di Klungkung, ada perempuan yang turut mendapat kepercayaan dari masyarakat. Bahkan ada yang berani tampil vokal saat rapat kerja bersama eksekutif, berani beradu argumen. Para srikandi ini memaparkan persoalan yang telah muncul di lapangan.

Ida Ayu Made Gayatri salah satunya. Wakil Ketua DPRD Klungkung periode 2014-2019 ini memulai karier politiknya tahun  2007.  Ia bergabung dalam Partai Hanura. Pada 2009 ia membulatkan tekad untuk maju dalam pertarungan Pileg. Namun nasibnya belum beruntung. Kegagalan yang membelit tak membuatnya harus hengkang. Pada 2014, kembali mencoba peruntungan, maju lagi pada Pileg dengan partai yang sama. Kursi pun berhasil direbut. “Meskipun perempuan, harus berani berpolitik,” ungkapnya.

Perempuan asal Desa Takmung, Kecamatan Banjarangkan ini memiliki strategi sendiri dalam menyerap aspirasi. “Saya harus bekerjasama dengan masyarakat. Kalau ada aspirasi, supaya disampaikan. Terutama yang berkaitan dengan hak-hak perempuan. Relasi harus terus diperbanyak,” tegas Gayatri.

Adanya perempuan yang menduduki jabatan pemerintahan, seperti bupati juga menjadi motivasi baginya untuk bergelut di dunia politik. Meski sibuk di tengah jabatan baru, ia tak pernah risau dengan keluarga. Ia masih bisa memberikan perhatian. “Saya seperti sekarang karena ada dukungan dari keluarga. Saya tetap membagi waktu untuk urusan di rumah. Apalagi sebagai perempuan Bali yang cukup sering sibuk di masyarakat,” katanya.

Perempuan berambut sebahu ini menceritakan aktivitas sebelumnya. Ia seorang  serati banten yang kerap memberikan pembinaan kepada kaum perempuan Bali soal sarana upakara. Menariknya, tak hanya di sejumlah daerah di Bali. Namun juga telah melanglang buana ke sejumlah daerah yang menjadi kantong-kantong tempat umat Hindu. Untuk interaksi dengan masyarakat sudah sering. Banyak aspirasi yang didapat. Untuk Pileg 2019 nanti, Gayatri siap maju lagi.

SAMPAIKAN ASPIRASI MASYARAKAT

Srikandi lain yang memiliki pemikiran serupa  yakni Ni Luh Komang Ari Ayu Ningrum. Perempuan kelahiran 18 April 1970 ini menjabat sebagai Ketua Komisi III DPRD Klungkung, periode 2014-2019. Dunia politik bukan menjadi hal baru baginya. Sudah menjadi hal biasa di tengah keluarganya. “Saya dulu dari lulus SMA sudah biasa sebagai simpatisan. Sudah sering ikut kampanye. Karena keluarga banyak jadi politisi,” tuturnya.

Sejak 2007, ia memutuskan untuk terjun menjadi anggota Partai Golkar. Hanya menunggu dua tahun, langsung maju sebagai calon anggota legislatif dan berhasil merebut kursi yang menjadi incaran banyak orang. Ambisinya untuk menjadi wakil rakyat bukan mengejar popularitas. Namun menyampaikan aspirasi masyarakat bawah, yang menginginkan perhatian dari pemerintah. “Saat maju, saya mendapat dukungan dari keluarga,” ujar Ningrum.

Tak hanya itu, langkahnya itu juga untuk menunjukkan kaum perempuan bisa bersaing dengan laki-laki. Bahkan bisa lebih baik. Tidak sebatas sibuk mengurus rumah tangga. Ini juga untuk memotivasi kaum perempuan lain untuk turut bergerak melakukan perubahan. “Kita bisa mewakili masyarakat untuk menyampaikan ide dan gagasan untuk pembangunan daerah. Kalau pekerjaan rumah tangga, itu kan sifatnya domestik,” katanya.

Ditengah kesibukannya, perempuan yang juga bergelut di dunia usaha ini tak lupa untuk manyama braya. Pola kehidupan itu tetap dilakoni dan dijadikan media untuk menyerap aspirasi. “Dengan manyama braya, kita bisa tahu aspirasi masyarakat yang diwakili. Saya tetap melakukan itu. Begitu juga dengan keluarga, tetap ada perhatian,” tandasnya. (Sosiawan)

To Top