Hobi

Kerinduan yang Terlampiaskan

Yang namanya hobi memang tidak bisa dibendung begitu saja meski ditimpali dengan segudang aktivitas lainnya, yang bahkan jauh lebih menjanjikan dari hobi tersebut. Selain itu, demi hobi, orang juga akan tidak segan mengorbankan biaya yang tidak sedikit untuk menyalurkan hobi tersebut.

Hal inilah yang dirasakan  Ahmad Syafaat (42), pemilik 11 warung lalapan (warlap)  di Mataram dan Lombok Barat yang diberi nama unik, Warlap Sableng. Puluhan tahun jatuh bangun dalam merintis usaha kuliner ini, Syafaat sempat cukup lama meninggalkan musik yang telah menjadi hobinya sejak masa muda itu. Ia benar-benar berhenti main musik selama membangun usahanya yang berangkat dari modal pas-pasan  itu. Cukup lama, sekitar 19 tahun ia tidak pernah lagi memegang alat-alat musik karena harus fokus pada usahanya membangun masa depan.

Namun, yang namanya hobi, muncul juga kerinduan itu. Jari jemarinya seperti tak sabar lagi untuk memetik gitar. Setelah vakum bermusik, keinginan memainkan gitar itu bagi Syafaat  sudah tidak terbendung lagi. “Rasa kangen itu tidak bisa saya bendung lagi,” katanya. Akhirnya, karena kebetulan salah satu warung lalapannya buka di dekat Taman Budaya NTB, di mana di pojok kantor tersebut di komunitas Warung Jack selalu ada aktivitas musik setiap selasa malam, Syafaat mulai akrab dengan para seniman yang biasa berkumpul di sana.

Dari sanalah hasrat bermusiknya kembali disalurkannya. Syafaat yang lahir dan besar di lingkungan yang banyak pemusiknya serta ibu yang seorang vokalis, itu akhirnya mulai memetik kembali gitar di tahun 2016. Kerinduan akan musik yang ditinggalkannya karena sibuk bekerja mencari nafkah, kini mulai terlampiaskan.

Ia bergabung dengan komunitas Warung Jack dan bersilaturrahmi dengan para pemusik di Mataram dengan menggelar pentas sederhana bertajuk, Republik Sableng Musik Rakyat yang turut disponsori olehnya. “Semua jenis musik tampil bersama pada panggung sederhana malam itu,” ujarnya. Uniknya dalam gelaran pentas Republik Sableng Musik Rakyat yang digagasnya bersama komunitas Warung Jack ini tidak hanya fokus pada satu jenis musik, melainkan semua jenis musik boleh tampil. “Semua jenis musik ditampilkan, ya dangdut ya balada, jazz, rock bahkan keroncong, campur sari, koesploesan dan lainnya,” ujar Syafaat.

Nama Republik Sableng Musik Rakyat itu merupakan nama yang dicetuskan oleh salah seorang seniman yakni Zaeni Mochammad. Silaturrahmi musik seperti ini mampu mengobati kerinduannya akan musik dan menjadi bagian dari cara Syafaat dalam menambah kawan.

Tidak hanya itu, Syafaat juga membeli berbagai peralatan musik untuk mendorong anak-anak muda bermusik khususnya bagi kelompok band yang tengah dirintisnya bernama D Fyet (singkatan nama personilnya, Danan, Fatra, Yuanita, Eri dan Tina).  Ia ingin mengorbitkan anak-anak muda yang suka bermusik dengan cara memfasilitasinya. Karena hobi itulah, meskipun ia terbilang sibuk mengurus 11 warung lalapannya ayah tiga anak ini selalu menyempatkan dirinya untuk berlatih bersama anak-anak muda di D Fyet maupun tampil bermain musik di beberapa kesempatan. (Naniek I. Taufan)

To Top