Edukasi

Simulasi Bencana Alam Sasar Sekolah

Bencana alam memang tidak dapat dihindari namun dapat diantisipasi untuk menekan jatuhnya banyak korban. Kurangnya pemahaman cara menghadapi bencana menjadi salah satu penyebab timbulnya banyak korban sehingga untuk mengantisipasi hal itu Pemerintah Kabupaten Buleleng melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Buleleng menggelar simulasi yang menyasar sekolah yang berdampak jika terjadi bencana.

Simulasi digelar di SMP Negeri 3 Singaraja pada Rabu (4/4) dengan melibatkan langsung siswa-siswi dan para guru. Tujuannya memberikan pemahaman awal dalam menghadapi bencana khususnya gempa yang berpotensi tsunami. Sebelum dilakukan simulasi, para siswa dan guru diberikan pengarahan serta kondisi sekolah di-setting dalam keadaan belajar-mengajar. Simulasi ini sengaja dilakukan di sekolah yang terletak di Jalan Surapati, Kecamatan Buleleng ini lantaran posisinya yang memang berdekatan dengan pantai.

Saat simulasi berlangsung, seluruh siswa menjerit ketakutan, lantaran telah terjadi gempa yang berpotensi tsunami. Mereka melindungi diri dengan bersembunyi di bawah meja belajarnya masing-masing, sebelum akhirnya diinstruksikan oleh guru kelas untuk berkumpul di lapangan upacara.

Setelah mendapatkan intruksi, seluruh siswa keluar dengan tertib sembari melindungi kepala dengan tas atau buku pelajaran yang dibawa. Bahkan ada beberapa siswa yang terlihat mengalami luka-luka lantaran tertimpa reruntuhan bangunan. Mereka dievakuasi oleh tim BPBD Buleleng, untuk selanjutnya dibawa ke rumah sakit dengan menggunakan mobil ambulans.

Sekretaris BPBD Buleleng, Ketut Susila menyebutkan, menurut data yang diperoleh pada awal tahun 2018, jumlah pusat gempa yang ada di Indonesia sudah mencapai 250 titik. Jumlah ini mengalami peningkatan drastis, mengingat di tahun 2015 titik gempa di Indonesia hanya berjumlah 53. “Oleh karena itu, BNPB mengeluarkan instruksi bahwa 26 April itu berkaitan dengan Hari Kesiapsiagaan Bencana untuk melatih masyarakat bagaiamana caranya menyelamatkan diri jika bencana terjadi. Agar jumlah korban dapat diminimalisir,” katanya saat ditemui usai menggelar simulasi di SMPN 3 Singaraja.

Di Buleleng sendiri imbuh Susila memiliki tiga lempeng, yakni lempeng di Tejakula, Gerokgak dan Seririt. Dari ketiga lempeng itu, Tejakula termasuk wilayah yang paling rawan. Jumlah kekuatan gempa yang melanda wilayah timur Buleleng itu bisa mencapai 8 SR.  “Jika terjadi gempa di Tejakula, kota Singaraja akan sangat berdampak.  Dan di SMPN 3 Singaraja  yang dekat dengan pantai ini akan berpotensi tinggi terjadi tsunami. Sehingga siswa dan guru-guru harus diberikan pemahaman cara menyelamatkan diri jika terjadi gempa,” ungkapnya.

Selain berada di dekat pantai, beberapa ruang kelas yang ada di SMPN 3 Singaraja juga dinilai sangat rawan, sebab usia bangunan termasuk sangat tua.  Pun demikian dengan pintu keluarnya, hanya ada satu. Sehingga pihak BPBD Buleleng merasa sekolah tersebut  memiliki potensi kerawanan yang sangat tinggi. “Makanya kami sasar SMPN 3 Singaraja ini, jumlah kelasnya banyak.  Ada bangunan bertingkatnya juga, di mana di lantai  atas itu ada tiga kelas dengan total murid mencapai 100 orang. Pintu kelas juga sangat kecil, sehingga mereka harus diberikan pemahaman. Tidak mungkin saat gempa mereka bisa langsung turun secara bersamaan,” kata Susila.

Kepala Sekolah SMPN 3 Singaraja, Gede Sumatrajaya mengaku sangat berterimakasih atas simulasi gempa yang dilakukan oleh pihak BPBD Buleleng di sekolahnya tersebut. “Bagi kami sangat bermanfaat. Terimakasih kepada BPBD sudah memetakan sekolah kami sebagai contoh  pemberian  pemahamanan pencegahan bencana. Kami akan selalu sebarluaskan info ini pada anak-anak yang masuk sekolah sore atau tahun-tahun ke depannya,” ungkapnya.

Sumatrajaya pun membenarkan jika ada tiga ruang kelasnya yang memang sudah berusia tua. Ruang kelas itu dibangun pada tahun 1977 dan belum direnovasi. “Sesuai dengan kebijakan Kadis akan memetakan dulu indentifikasi sekolah. Kami punya tiga kelas yang sudah lama,” ungkapnya. (Wiwin Meliana)

 

To Top