Mendongeng Lima Menit

LAKI-LAKI DAN WANITA

Seorang pendeta yang sedang menyusuri sungai, melihat perilaku seorang laki-laki di seberang sungai. Laki-laki itu duduk berdampingan dengan seorang wanita. Setelah meminum  isi botol, lelaki itu kemudian mengurut betis sang wanita. Bukan itu saja, pemuda itu kemudian menggendong sang wanita.

Pendeta itu sangat terenyuh. Ia tidak ingin nama desanya cemar. Ia lalu melaporkan pemandangan yang tidak enak itu kepada kepala desa.

Seketika itu juga kepala desa mendatangi tempat yang dimaksud. Ia membawa dua orang penjaga keamanan. Oleh karena tiba-tiba turun hujan lebat, kepala desa, pendeta dan penjaga keamanan itu membatalkan keinginannya untuk menyeberang sungai dan mengurungkan niatnya untuk menangkap pasangan kurang ajar itu. Mereka hanya melihat gerak-gerik pemuda-pemudi itu dari sebuah gubuk.

Tampaknya pasangan itu makin kurang ajar. Mereka duduk berdua di bawah naungan sebuah payung. Tak lama kemudian lelaki itu menggendong si wanita. “Kurang ajar!” demikian omelan kepala desa di tengah-tengah hujan lebat.

Nah, apa itu? Sebuah jukung melintas di sungai. Rupa-rupanya pendayung jukung itu gegabah. Jukung yang ditumpangi banyak penumpang itu oleng, lalu terbalik. Lihatlah laki-laki itu! Ia mencebur, lalu dengan sigapnya menyelamatkan para penumpang. Kepala desa. pendeta dan penjaga keamanan itu tersenyum melihat gelagat lelaki yang sok pahlawan itu.

Setelah hujan reda, kepala desa, pendeta dan penjaga keamanan itu langsung menyeberangi sungai. Mereka tidak ingin pasangan yang kurang ajar itu lepas.

“Hai, Pemuda! Aku tidak ingin nama desaku tercemar gara-gara kau minum alkohol!” kata kepala desa. “Siapa kamu, dari mana, dan mengapa kamu melakukan hal itu di sini?”

Laki-laki itu terkejut dan gelagapan. Ia tidak menyangka, gerak-geriknya dicurigai orang. Katanya sambil menenangkan diri, “Kami dari desa tetangga. Perempuan yang saya gendong adalah ibu saya. Ia mengidap penyakit lumpuh. Untuk meringankan rasa sakitnya, saya urut betisnya dengan air botol itu. Air itu adalah air suci sungai Gangga”.

Kepala desa itu memalingkan mukanya ke arah pendeta. Dan pendeta itu memalingkan mukanya ke penjaga keamanan. Hati mereka berkata, “Apa yang terlihat dan terdengar, belum tentu kebenaran sesungguhnya. Kebiasaan memandang sesuatu dari segi negatif, tidak akan menemukan kebenaran sesungguhnya.” (Swami Sivananda)

 

To Top