Metropolitan

Tarif Ojek Online Turun, Driver “Babak Belur”

Para pengemudi ojek online bersuka ria karena akhirnya perjuangan mereka agar pihak aplikator menaikkan tarif per-km berhasil. Meski belum diketahui berapa kenaikan tarif tersebut namun  pihak aplikator baik Gojek maupun Grab sudah menyatakan bersedia mengkaji kenaikan tarif. Rencananya keputusan kenaikan tarif per-km itu akan diumumkan pada April 2018.

Kepastian tarif akan naik itu diberikan oleh Moeldoko, Kepala Staf Kepresidenan, Rabu (28/3) setelah melakukan rapat dengan pimpinan perusahaan aplikator transportasi Gojek dan Grab di Bina Graha, Kompleks Istana Presiden, Jakarta. Juga hadir dalam rapat tersebut Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara.

“Aplikator intinya ingin mensejahterakan para drivernya. Prinsipnya, mereka akan menyesuaikan tarif per-km. Mereka siap menaikkan,” kata Moeldoko. Saat ini tarif per km yang diberlakukan perusahaan aplikator adalah Rp 1600 per km. Tarif ini dianggap terlalu rendah oleh para ojek online. Menurut mereka dulu malah sempat tarif per km Rp 4000 dan Rp 3.000. Masa itu katanya adalah masa kejayaan para driver ojek online yang bisa meraih penghasilan Rp 6 juta per bulan. Namun, karena persaingan usaha, tarif diturunkan, dan itu membuat driver ojek online ‘babak belur’ lantaran penghasilan per bulannya melorot tajam.

Kalau tadinya banyak yang menjadikan ngojek sebagai penghasilan utama, dan mereka fokus bekerja seharian dengan hanya ngojek, kini tidak bisa lagi. Karena penghasilan ngojek online tidak bisa mencukupi lagi untuk kebutuhan hidup dirinya juga keluarganya.  “Dulu saya seharian ngojek, dari pagi bahkan sampai malam. Hasilnya   bisa dapat Rp 400-500 ribu per-hari. Sekarang tidak bisa lagi. Dulu tarif per km-nya kan sempat lumayan Rp 4.000-3.000. Juga pesaing tidak sebanyak sekarang. Makanya bisa dapat banyak,” tutur Mamat, yang  sudah beberapa tahun menjadi pengojek online.

Sekarang,  tutur Mamat, dengan tarif per km cuma Rp 1.600 serta banyaknya pesaing, tidak mungkin lagi ia bisa mendapat penghasilan tinggi seperti dulu. “Sekarang, berat!,” tambah pria 40 tahun itu.

Kini Mamat hanya menjadikan pekerjaan mengojek sebagai sambilan. “Ngojek sambilan saja. Saya sekarang dagang kecil-kecilan setengah hari di depan sekolah. Siang menjelang sore baru narik ojek. Alhamdulilah, cukup lumayan,” ujar Mamat sambil berharap tarif bisa dinaikkan setidaknya dua kali lipat dari sekarang. “Sekarang kan apa-apa mahal. Bensin naik, belum lagi kebutuhan rumah naik,” tambahnya.

Moeldoko mengatakan, yang nantinya menentukan besaran tarif (tarif baru) adalah pihak aplikator karena merekalah yang berhak. “Besaran tarif (kenaikan) mereka yang menentukan. Itu hak mereka. Kami tidak boleh menekan. Pihak aplikator punya hitungan sendiri untuk menentukan berapa tarif yang pas,” kata Moeldoko.  Namun, pemerintah pun dalam hal ini Kementerian Perhubungan memiliki perhitungan tarif sendiri berapa kenaikan yang wajar yang diterapkan oleh aplikator.

Beralih ke TransJakarta

Jika menengok ke belakang, selain dari memang kita sudah berada dalam era digital, namun mungkin bisa diingat kenapa animo masyarakat pada ojek online tinggi. Hal ini lantaran tarif yang ditawarkan ojek online tergolong murah dibanding ojek pangkalan yang tarifnya ‘gelap’ atau suka-suka drivernya. Tak heran kalau ojek pangkalan pun ditinggal masyarakat.

Terlebih lagi memesan ojek online enak dan nyaman, kita tidak perlu berpanas-panas ria mencari ojek pangkalan. Cukup buka aplikasi  di ponsel dan pesan. Hanya beberapa menit ojek online pun sudah tiba di rumah menjemput kita untuk mengantar ke tujuan.

Masyarakat merasa nyaman, senang, karena tarif sudah diketahui lebih dulu, jika kita oke bisa langsung tekan “booking”. Tapi kalau kita menolak karena merasa tarif terlalu tinggi, kita tak perlu menekan “booking”. Bandingkan kalau kita dengan ojek pangkalan, harus tawar-menawar harga yang kadang bikin urat leher keluar. Itu pun belum tentu sepakat dengan si pengojek. Karenanya, ojek online pun jadi pilihan paling favorit.

Nah, bagaimana kalau tarif per km naik hingga Rp 3000  atau bahkan Rp 4000, sebagaimana dituntut pengemudi ojek online.  Apakah ojek online masih akan menjadi pilihan masyarakat? Belum tentu. Coba kalkulasi saja, untuk jarak 15 km, kalau sekarang  masyarakat hanya membayar Rp 24.000 (15 km x Rp 1.600 per km).

Jika dinaikkan tarif per km menjadi Rp 3.000 maka yang harus dibayar pengguna ojek untuk jarak 15 km menjadi  Rp 45.000. Jadi ada selisih yang lumayan Rp 21.000. Jumlah itu akan lebih tinggi lagi jika tarif menjadi Rp 3.500 atau bahkan Rp 4.000.

Mungkin untuk kalangan menengah atas, selisih itu tidak masalah. Tapi untuk mereka yang penghasilannya pas-pasan, lumayan berat.  Jumlah pekerja kalangan menengah ke bawah lebih banyak ketimbang menengah atas. Kalau biaya transportasi ojek online dirasakan berat, bukan hal mustahil kalau akhirnya mereka berpaling ke transportasi TransJakarta. Naik TransJakarta lebih murah meriah, hanya Rp 3.500 full AC.

“Kalau kenaikan tarif nantinya kemahalan ya masyarakat mungkin milih naik busway aja, lebih murah meski waktunya lebih lama dibanding naik ojek. Atau ya beli aja motor sendiri, nyicil, kan bisa lebih irit meski capek,” kata Ami yang bekerja di bilangan Pulo Mas, Jakarta Timur. “Setiap hari saya ke kantor naik ojek online, supaya cepat sampai. Pulangnya, baru saya naik busway,” ucapnya.

Linda, salah satu pengguna setia ojek online juga berharap agar kenaikan tarif tidak terlalu tinggi. “Kalau naiknya cuma Rp 500, saya masih ok, tapi kalau lebih, kayaknya berat ya. Apalagi kalau sampai Rp 3.000 atau 4.000. Tarif batas bawah taxi online saja Rp 3.500. Masak ojek online mau sama atau mau lebih tinggi?” ujarnya.

Selasa (27/3) ratusan driver ojek online yang merupakan gabungan dari Gojek, GrabBike dan Uber, melakukan unjuk rasa di depan Istana Merdeka. Sejumlah hal menjadi tuntutan mereka, salah satunya yang penting adalah menaikkan tarif per-km. Para pendemo menginginkan agar pemerintah menjadi penghubung dengan pihak aplikator tentang masalah tersebut.

Mereka sendiri sebenarnya sudah mengajukan permohonan kenaikan tarif per-km ke pihak aplikator, namun tidak digubris. Jalan satu-satunya adalah mereka ke Istana agar Presiden Joko Widodo  membantu memperjuangkan tuntutan mereka. Perwakilan para pendemo ini diterima oleh Presiden. Seusai mendengar keluh-kesah para pendemo termasuk tuntutan yang mereka inginkan, Presiden meminta agar Menteri terkait melakukan pembahasan terkait tuntutan para pengojek.  (Diana Runtu)

To Top