Buleleng

Janger Menyali Bangkit Kembali

Melalui rekonstruksi, Janger Menyali sempat dibangkitkan kembali setahun lalu melalui event Pesta Kesenian Bali (PKB) Kabupaten Buleleng yang dipentaskan di panggung terbuka eks. Pelabuhan Buleleng. Kesenian unik yang terdapat di desa Menyali ini sempat tersohor dan berkembang pada tahun 1938. Namun kini mulai meredup dan kalah pamor dengan kesenian modern.

Melalui event tahunan tersebut, Pemerintah Kabupaten Buleleng mencoba membangkitkan kembali kesenian daerah dengan melakukan rekonstruksi pada kesenian Janger Menyali. Bahkan kesenian ini juga turut ditampilkan pada PKB ke 39 di Denpasar tahun lalu.

Rekontruksi yang dibawakan oleh sekaa Janger Saraswati binaan pemerintah Desa Menyali ini bertujuan untuk melestarikan dan membangkitkan masa kejayaan Janger Menyali. Tak pelak, pementasannya menyedot perhatian dan sorak sorai penonton. Kekaguman penonton tidak sampai di sana, mereka juga penasaran dengan penampilan sesepuh dalam menarikan janger. Maklum saja, para penari pria alias jipak, tampil dengan pakaian necis. Alih-alih mengenakan pakaian adat Bali, mereka justru menggunakan kostum mirip tentara Belanda dan lengkap dengan baretnya. Sementara para penari wanita alias parik, tampil dengan dandanan para penari yang amat cantik. Konon Janger Menyali memang memiliki perbedaan dari segi pakaian, gending, bahkan lakon yang dibawakan.

Kekaguman akan kesenian unik ini juga diungkapkan Ni Luh Murni salah satu anggota sekaa Janger Menyali. Dirinya mengungkapkan Janger Menyali memang memiliki cirri khas berbeda dari janger pada umumnya. Selain berbeda dari segi pakaian dan lakon, penarinya juga dari berbagai kalangan dari usia paling muda hingga paling tua. “Jumlah penarinya ada 24, 12 laki-laki dan 12 perempuan dan usianya campur sari bahkan yang paling tua usianya mencapai 75 tahun,” ungkapnya.

Perempuan yang juga sebagai staff di kantor desa ini juga mengaku sangat senang Janger Menyali mendapat perhatian dari pemerintah dengan dilakukan rekonstruksi untuk dilibatkan dalam event besar sekelas PKB. Tentu kegiatan tersebut merupakan upaya untuk melestarikan dan mengenalkan kesenian daerah Buleleng. Akan tetapi dirinya juga tidak menampik jika saat ini latihan sduah jarang dilakukan. “Dulu ketika mau pentas hampir setiap hari latihan, kalau sekarang sangat jarang hampir tidak pernah latihan,” ungkapnya.

Murni menambahkan salah satu faktor penyebab jarangnya latihan adalah faktor perbedaan usia. Para penari Janger yang sudah tua dan sepuh enggan tampil lagi dank arena kesibukan masing-masing. Sementara sekaa yang usianya masih remaja jarang menggelar latihan karena lebih tertarik dengan kesenian modern. “Sekarang sudah banya hiburan, permintaan untuk Janger Menyali pentas juga jarang kecuali ada permintaan untuk mengisi event-event baru kami intensifkan latihan lagi,” pungkasnya. Wiwin Meliana

 

 

 

To Top