Mendongeng Lima Menit

MANUSIA PUNYA BANYAK AKAL

Pada musim kemarau panjang, seekor harimau terpaksa turun gunung untuk mendapatkan makanan. Di sebuah kebun, harimau itu melihat pemandangan aneh. Dua ekor sapi menarik bajak yang dituntun oleh seorang petani. Walaupun sapi itu bekerja berat, namun mereka acapkali dicambuk oleh petani. “Kejam benar manusia itu! Akan kuhajar dia!” demikian bisik hati sang Harimau. Namun harimau itu tidak segera bertindak. Ia ingin tahu apa yang dilakukan petani itu selanjutnya.

Ketika tiba waktu makan siang, petani itu melepaskan sapi-sapinya untuk merumput. Nah, itulah kesempatan baik bagi harimau. Ia mendekati kedua sapi itu.

“Hai, Saudaraku, Sapi!” katanya. “Kau diperlakukan sangat kejam oleh manusia! Percuma kau bertubuh besar, bertanduk tajam, tetapi tidak berani melawannya.”

“Hai, Saudaraku, Harimau!” jawab kedua sapi itu. “Belum tahu kau! Manusia itu punya banyak akal. Dengan perlawanan apapun, hewan-hewan selalu kalah.”

Harimau itu tidak percaya. Bukankah ia raja hutan? Bukankah ia hewan terkuat? Sekali terkam manusia itu akan remuk. Mendengar keterangan sapi, harimau itu jadi penasaran. Ia ingin tahu akal apakah yang dimiliki oleh manusia.

“Hai, Saudaraku, Manusia!” gertaknya di depan petani itu. Petani itu terkejut, namun ia berusaha menenangkan diri. “Aku tidak suka melihat perlakuanmu yang sangat kejam terhadap sapi-sapi yang bodoh itu. Akal apa yang kau miliki sehingga kau bisa memperolok hewan-hewan itu? Tunjukkan sekarang!”

Petani yang baru habis makan siang itu berpura-pura tenang.

“Oh, jadi, kau datang ke sini, ingin melihat akalku? Sayang, akalku kusimpan di rumah. Memang kebiasaanku, apabila aku bekerja di kebun, akal itu kusimpan di rumah.”

“Ambil sekarang!” gertak si Harimau. “Tunjukkan di depanku semua akalmu itu!”

Petani itu bersiap untuk pulang ke rumah, namun kemudian ia berkata lagi. “Aku tahu akalmu,” katanya. “Apabila aku pulang, kau pasti akan memakan kedua sapiku.”

“Oh, tidak, tidak, Petani!” Apabila kau tidak percaya, ikat saja aku, sehingga aku tidak ke mana-mana,” jawab si Harimau.

Petani yang tenang itu lalu mengikat si Harimau, kemudian menambatkan tali ikatan itu di sebuah pohon besar. Sekembali dari rumahnya, ia tidak membawa akal, tetapi  memikul setumpuk daun kelapa kering. Daun-daun itu dipasang mengelilingi harimau yang tertambat. Kemudian petani itu membakar daun-daun kering itu. Api membara dan menjalar. Harimau itu mengaduh kesakitan karena tubuhnya dilalap api. Sapi-sapi yang melihat pemandangan yang menarik itu tertawa terpingkal-pingkal. Ha, ha, ha…! Ha, ha, ha….! Tidak disadarinya, gigi rahang atas sapi itu terlepas. Nah, itulah sebabnya sampai sekarang sapi-sapi keturunannya tidak punya gigi rahang atas.

Adapun harimau yang mengaku kuat itu, meronta-ronta menahan panas. Untunglah tali ikatan itu putus. Ia secepatnya melarikan diri masuk ke dalam hutan. Sambil menahan rasa sakit, ia memeriksa seluruh tubuhnya. Wow, belang-belang! Semenjak peristiwa itu si raja hutan dan keturunannya memilki tubuh belang-belang. Hewan itu lalu diberi julukan si Harimau Belang. (Kamboja)

 

To Top