Surabaya

Pie Ireng Ingin Jadi Ikon

Bagi Titik Nurhayati, terus-terusan menjadi pegawai adalah hal yang membosankan dan menyiksa diri. Ia  sudah 13 tahun dia  menjadi beauty advisor senior dari produk kosmetik  dan  ditugaskan di berbagai  tempat seperti  Jembatan Merah Plaza, Pasar Atom, dan Toko Serba Ada Palapa. Sering dimarahi bahkan dihina menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

“Saya sering melayani make up Mbak Indah Kurnia anggota DPR RI dan Kartolo pelawak,” ungkap Titik Nurhayati mengawali kisahnya. Berbekal semangat yang tinggi   dan didukung dengan tekad yang kuat untuk berusaha sendiri, tahun 2015 ia mulai usaha pembuatan handycraft dan aromaterapi. Perempuan kelahiran Surabaya 19 Februari 1972 ini membuka gerai penjualan di 3 tempat yaitu Pakuwon Trade Center(PTC), Royal Plaza, dan Balai Pemuda.

Karena usaha handycraft dirasa perkembangannya lambat, lulusan SMA Yos Sudarso ini banting setir membuka usaha pembuatan makanan pia. Ada dua jenis pia yang diproduksinya yaitu pia londo dan pia ireng. Pia londo karena warnanya putih dan  pia ireng karena warnanya hitam.

“Bisnis pia masih berpeluang walaupun pembuatannya sulit,” ujar Titik. Produk Pia Suroboyo memiliki  4 varian rasa yaitu original, keju, coklat, dan greentea. Pia ini mampu bertahan sampai 7 hari dalam suhu normal.

Untuk menimbulkan warna hitam pada produknya istri dari Sudarmanto ini menggunakan arang jepang (active charcoal) yang berkhasiat  untuk tubuh manusia. Dia mengaku pernah rugi jutaan karena pembeli membatalkan order, sebab takut produknya dianggap menggunakan zat pewarna yang berbahaya

Dengan menggunakan bendera Javakeuken (Dapur Jawa), ibu yang memiliki hobi memasak ini memasarkan pia buatannya dengan dititipkan di Omah Lapis, Kue Lapis Pahlawan, Sentra Sentra UKM, secara reseller, dan juga dipasarkan via online dijejaring sosial Whatssap, Facebook, serta Instagram.

“Pia Suroboyo tidak hanya beredar di Indonesia, tetapi juga pernah dibawa ke Malaysia dan Brunei” ujar Titik. Dari harga jual Rp 25 ribu sampai Rp 30 ribu untuk produk kemasan biasa dan Rp 80 ribu untuk kemasan premium, Titik mampu menghasilkan omzet sebesar Rp 60 juta sampai Rp 70 juta sebulan.

Untuk memperluas jaringan maka Titik mengikuti  Program Pahlawan Ekonomi tiap minggu di Kapas Krampung Plaza, dan juga aktif di beberapa grup UKM antara lain Best Kreatif, E UKM, Garpindo, dan Gerakan Wirausaha Mandiri (GW Man).

Titik pernah mengikuti berbagi pameran antara lain pameran di kapal pesiar, dan tahun 2018 ini pia ireng bersama dengan beberapa UKM lainnya terpilih untuk mengikuti pameran Telkom Kraft di Jakarta.

Selain memproduksi pia, ibu 4 anak ini juga memproduksi pastel semanggi. Dari berjualan pastel khas Surabaya tersebut mampu menghasilkan omzet penjualan sebesar Rp 3 juta  sampai Rp 4 juta perbulan “Saya ingin menjadikan pia ireng sebagai ikon Suroboyo, karena itu saya segera mengurus paten dan merek pia ireng” kata Titik. (Nanang Sutrisno/Bisnis Surabaya)

 

To Top