Mozaik

Rumah Berdaya: Skizofrenia bukan Orang Gila

salah satu kegiatan ods

Skizofrenia bukan  orang gila tapi perlu orang-orang “gila” yang peduli pada kami.  Jangan kasihani kami, tapi kasihilah kami. Demikian slogan yang terpampang dalam selebaran yang dibagikan beberapa anggota komunitas Rumah Berdaya dalam pameran HUT Kota Denpasar, pekan lalu.

Rumah Berdaya merupakan tempat rehabilitasi psikososial orang dengan skizofrenia (ODS). Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia Simpul Bali  (KPSI) difasilitasi Pemkot Denpasar.

Rumah Berdaya beralamat di Jalan Hayam Wuruk 179 Denpasar, dan beberapa kegiatannya bisa diakses melalui situs rumahberdaya.net dan instagram @rumahberdaya.

Koordinator Rumah Berdaya, Nyoman Sudiasa menuturkan, kegiatan yang dilakukan di Rumah Berdaya mulai Senin sampai Sabtu dari ppukul 8 sampai 18.00.   Kegiatan seperti, Me GAE ( group art expression), mengobrol bersama, sembahyang, senam, bersih-bersih, membuat sabun, memasak, membaca buku, mendengarkan dan bermain musik, membuat dupa, membuat kerajinan tangan, bermain catur, berkebun, dan memelihara ikan.

Beberapa produk Rumah Berdaya seperti tote bag, bokor, dulang, besek, dupa, kaus, sabun, apron, lukisan, spons kursi. Produk ini bisa dibeli lewat online di instagram @rumahberdaya_onlineshop.

 

SERING NGAMUK

Nyoman Sudiasa menuturkan ia menderita skizofrenia sejak tahun 2001. Ia sering merasa curiga berlebihan seolah-olah setiap orang yang berbicara sedang membicarakan buruk dirinya.  Bahkan, di kantor, ia merasa kurang bersemangat kerja. Ia sering gelisah dan cemas. Apalagi, ia merasa selalu diawasi saat bekerja sehingga tidak tenang.  Akhirnya, ia mengamuk di kantor, semua barang dihancurkan dan ngomong ngalur ngidul.

Bukan hanya di kantor, di rumah ia juga sering mengamuk dan memukul ibu dan istrinya. Atas persetujuan keluarga, ia dibawa ke RS Sanglah.  Ia sempat dirawat 4 hari.  Saat balik ke rumah, Sudiasa kumat lagi. Ia terus mengamuk. Bahkan,  rencananya ia akan dipasung oleh keluarganya.  Namun, tidak jadi, ia akhirnya dibawa ke RS Bangli.  Sudiasa mulai tenang dan pada  hari ke delapan ia minta pulang ke rumah.  Sampai sekarang ia terus kontrol ke RS Wangaya untuk menebus obat yang harus diminum setiap hari seumur hidup.

Sejak bergabung di Rumah Berdaya, Sudiasa merasa lebih baik. Ia mulai suka mengobrol dan bercanda, sangat berbeda dengan sebelumnya yang lebih suka diam. Saat ini Sudiasa dipercaya menjadi pegawai kontrak ODS.

Lain lagi kisah Agus, anggota yang lain.   Lelaki ini awalnya kuliah sembari kerja dan kursus. Saking sibuknya dan tidak bisa membagi waktu, Agus mulai menderita gangguan. Ia mengaku sering inguh dan mengamuk. Bahkan, bosnya di kantor pernah dicekik.  Di rumahnya,  Agus sering berteriak dan mengamuk sehingga membuat para tetangga takut. Akhirnya, atas saran  kelian, Agus dibawa ke  pskiater.

Namun, Agus tidak mau minum obat. Untung saja orangtuanya bisa mengakali, obat dicampur dalam minuman sehingga Agus mulai bisa tenang. Kemudian, Agus diperkenalkan Rumah Berdaya dan masuk dalam komunitas tersebut.  Sejak bergabung di Rumah Berdaya, Agus  mulai ada perubahan. Ia bisa menyalurkan bakatnya menggambar.   Saat ini, Agus juga dipercaya menjadi pegawai kontrak  di ODS.

Sudiasa mengatakan, saat ini, anggota Rumah Berdaya berjumlah 44 orang, 4 orang perempuan dan sisanya laki-laki. Usia berkisar dari 23 tahun sampai dengan 60 tahun.

Rumah Berdaya awalnya didirikan dr. I Gst Rai Putra Wiguna, Sp.KJ. Awalnya, ia memberikan rumah orangtuanya sebagai tempat Rumah Berdaya. Kemudian, sempat pindah ke rumah pelukis Budi Agung Kuswara. Akhirnya, dengan fasilitas Pemkot Denpasar, Walikota Denpasar memberikan satu tempat kantor yang tidak terpakai di Jalan Hayam Wuruk sebagai base camp mereka.

Menurut Sudiasa, sampai saat ini, stigma terhadap ODS masih sangat keras. Ia sendiri pernah merasakan saat baru keluar dari RS Jiwa Bangli. “Skizofrenia bukan  orang gila,” ujarnya.

 

GANGGUAN JIWA BERAT

Skizofrenia adalah gangguan kadar neuro transmitter di dalam otak dan termasuk salah satu jenis gangguan jiwa berat. Gangguan fungsi otak tersebut menyebabkan terganggunya emosi, persepsi, dan pemikiran yang kemudian menyebabkan perilaku tidak wajar.  Ketidakwajaran prilaku tersebut kemudian dapat mempengaruhi kehidupannya, pekerjaan, aktivitas, dan untuk mengurus diri mereka sehari-hari. Gejala awal gangguan ini biasanya muncul pada usia 18 hingga 30 tahun namun bisa saja gangguan muncul di luar rentang tersebut.

Skizofrenia mempengaruhi laki-laki dan perempuan dengan tingkat risiko yang sama. Sekitar satu per seratus orang dari populasi dunia mengalami skizofrenia. Tingkat kekambuhan gangguan skizofrenia sangat tinggi jika tidak dilakukan penanganan yang tepat.

Obat-obatan psikotik bisa mengurangi gejala ODS secara efektif misalnya waham, halusinasi, dan pikiran-pikiran yang tidak teratur. Obat-obatan juga bisa mengendalikan kecemasan dan membantu ODS untuk kembali ke kehidupan nyata. Terapi non obat sebagai pendukung biasanya dikombinaskan dengan antipsikotik guna membantu mengatasi gejala skizofrenia, mencegah kekambuhan, membantu ODS tetap berobat, dan membantu mereka bisa ke kehidupan normal. (Wirati Astiti)

 

TIPS BAGI KELUARGA

  • Mencari tahu sebanyak mungkin tentang skizofrenia dari berbagai sumber terkait gejala dan tanda bahaya kekambuhan untuk menentukan perlakuan yang tepat bagi ODS.
  • Bangun relasi yang baik dengan profesional kesehatan yang merawat ODS.
  • Buatlah rencana bersama ODS sehingga Anda dapat menentukan apa yang akan dilakukan saat kondisi menjadi semakin buruk.
  • Libatkan ODS dalam membuat mereka menjadi lebih mandiri dan berdaya untuk kehidupannya sendiri.
  • Terbukalah dan ikut serta dengan berbagai kelompok dukungan untuk memperoleh informasi maupun dukungan dalam merawat ODS. (Wirati Astiti)

Paling Populer

To Top