Bugar

JE Paling Sering Serang Anak-anak

dr. made agus hendrayana, m.ked.

Virus japanese encephalitis (JE) ramai diperbincangkan sejak terdeteksinya  kasus ini di Bali. Pemberian vaksin JE pun digencarkan. Apa itu penyakit JE?

Menurut dosen Bagian/SMF. Mikrobiologi Klinik FK.Unud/RS.Sanglah, dr. Made Agus Hendrayana, M.Ked., penyakit japanese encephalitis adalah radang otak pada manusia yang disebabkan  adanya infeksi virus japanese encephalitis.

Penyakit ini tergolong penyakit zoonosis atau penyakit yang mengenai hewan tetapi juga dapat menyerang manusia. Penyakit ini banyak ditemukan sporadis di negara-negara Asia yang termasuk agraris dimana masih banyak terdapat lahan pertanian seperti Filipina, Tiongkok, India, Thailand, Malaysia, termasuk Indonesia.

“Penyakit ini disebut japanese enchepalitis karena penyakit radang otak ini pertama dikenal pada tahun 1871 di Jepang. Penyakit ini telah menginfeksi lebih kurang 6000 orang pada tahun 1924, dan sering terjadi wabah setelahnya. Penyakit ini diketahui penyebabnya adalah virus japanese encephalitis setelah  diisolasi pada tahun 1934 dari jaringan otak penderita ensefalitis yang telah meninggal,” ungkapnya.

Di Indonesia virus japanese encephalitis telah diteliti sejak pada tahun 1972. Beberapa penelitian di Bali terutama di Rumah Sakit Sanglah sudah dimulai sejak awal tahun 1990 dimana ditemukan kasus serologi positif terhadap virus japanese encephalitis. “Virus  japanese encephalitis dapat menginfeksi manusia karena kebetulan digigit nyamuk yang telah mengandung virus japanese encephalitis. Penyakit ini paling sering menyerang anak-anak terutama di rentang usia 1-15 tahun. Tetapi tidak semua manusia yang terinfeksi virus ini menjadi sakit dan menimbulkan gejala klinis,” kata dr. Agus.

Penyebaran penyakit ini lebih marak terutama pada musim hujan saat populasi nyamuk culex meningkat. “Nyamuk culex tritaeniorhynchus dapat menularkan virus ini baik ke manusia maupun ke hewan peliharaan lainnya, sehingga virus japanese encephalitis termasuk dalam kelompok penyakit arbovirus yaitu virus yang ditularkan serangga atau nyamuk,” jelas dr. Agus.

Masyarakat di Bali terutama yang dekat dengan kandang babi harus lebih waspada dengan penyakit ini. Di Bali, babi merupakan salah satu ternak yang masih banyak dipelihara di sekitar pekarangan rumah dan banyak pula terdapat peternakan babi skala besar. Selain itu, kata dia, di Bali juga masih  banyak terdapat lahan persawahan yang merupakan tempat yang baik untuk kembang biak nyamuk culex.

Belum ada pengobatan khusus antivirus yang dapat membunuh virus ini. “Pengobatan pada pasien yang terkena lebih kepada pengobatan simtomatis untuk menangani gejala yang timbul dan terapi suportif untuk menjaga kualitas hidup pasien yang terkena,” kata Magister Ilmu Kedokteran Tropis Universitas Airlangga Surabaya ini.

Pasien yang menunjukkan gejala harus dirawat di rumah sakit untuk mendapatkan terapi agar mencegah terjadi kecacatan fisik, mental atau mencegah kematian. Pasien dengan defisit neurologis membutuhkan fisioterapi dan rehabilitasi.

Penyakit ini dapat dicegah dengan memberikan vaksinasi. Beberapa negara di Asia sudah memasukkan imunisasi japanese encephalitis ke dalam program rutin. “Vaksinasi pada manusia, terutama pada anak-anak perlu dberikan di daerah yang sering terjadi kasus japanese encephalitis. Imunisasi juga dianjurkan untuk orang yang bepergian ke daerah endemik japanese encephalitis. Selain vaksinasi terhadap manusia, ada juga vaksinasi untuk hewan terutama untuk kuda dan ternak lainnya,” ujar dokter yang pernah mengikuti pelatihan di Springschool on Tropical Medicine, Infectious Diseases and Molecular Biology,  UMG, Göttingen, Jerman dan Microbiology Research and Diagnostic, Erasmus Medical Centre, Rotterdam, Belanda ini. (Wirati Astiti)

To Top