Bunda & Ananda

Pupuk Jiwa Gotong Royong dan Toleransi

Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1940, yang jatuh pada 17 Maret 2018, tinggal menghitung hari. Menjelang hari yang disucikan tersebut dilaksanakan serangkaian upacara, salah satunya Pengerupukan (sehari sebelum Nyepi) yang diramaikan dengan pengarakan ogoh-ogoh.

Pawai ogoh-ogoh ini menjadi tradisi unik yang sangat menarik bagi segala usia. Terlebih bagi anak-anak. Boneka raksasa yang merupakan simbolisasi dari unsur negatif, sifat buruk, dan kejahatan ini menjadi rebutan bagi anak-anak untuk bisa mengaraknya. “Semua ingin mengaraknya, makanya kami beri kesempatan untuk bergiliran. Ada yang mengarak ogoh-ogoh, ada yang membawa obor dan kober, ada juga yang megambel,” ujar Kepala PG/TK Lingga Murti School (LMS) AA Putu Eka Yuliawati, S.Pd. usai mendampingi anak-anak didiknya mengarak ogoh-ogoh, Sabtu (10/3).

Kegiatan mengarak ogoh-ogoh ini dikatakan Miss Agung—demikian ia biasa disapa, menjadi agenda rutin LMS dalam rangka memperingati Hari Raya Nyepi. “Sejak dini anak-anak kami perkenalkan dengan salah satu tradisi adat budaya di Bali. Dengan dilibatkan langsung, kami berharap setidaknya mereka tahu tentang adat dan budayanya,” ucapnya.

Mengambil start di halaman sekolah LMS, anak-anak didampingi orangtua dan para guru yang berpakaian adat madya mengarak beberapa ogoh-ogoh mini, barong bangkung, dan dimeriahkan dengan obor, kober, serta iringan gambelan, konvoi ini melewati Jalan Gurita  menuju Lapangan Pegok dan kembali ke sekolah.

Meski tampak kelelahan, anak-anak sangat bersemangat mengikuti acara ini, termasuk para orangtua siswa. Jauh-jauh hari para guru telah mempersiapkan segala perlengkapan, seperti obor dan kober yang dibuat dari kertas. “Semua ini untuk keamanan. Namun, kami tetap mengambil filosofi dari pawai ogoh-ogoh yang sebenarnya,” ujar Miss Agung.

Selain sebagai upaya memperkenalkan adat dan budaya apada anak-anak, Miss Agung mengatakan kegiatan ini juga bertujuan untuk memupuk jiwa gotong-royong pada saat mereka mengarak ogoh-ogoh. Serta melatih jiwa toleransi, dengan bersedia bergiliran (tidak berebutan) mengarak ogoh-ogoh. (Inten Indrawati)

To Top