Sudut Pandang

Bebaskan Anak Tentukan Masa Depan

Ni Made ratminingsih dan ni kadek turkini

Orangtua memiliki peran yang sangat sentral dalam mendidik anak. Mencetak anak dengan kualitas terbaik tentu harus menggunakan metode terbaik pula. Keteladan merupakan metode yang paling utama dalam mendidik anak. Berikan teladan bukan hanya sekadar contoh, karena anak belajar dari apa yang mereka lihat.

Sikap keteladanan juga diterapkan Ni Kadek Turkini dalam mendidik ketiga buah hatinya. Menjadi seorang wakil rakyat tentu membuat waktu perempuan yang akrab disapa Turkini ini dihabiskan untuk berbagai kegiatan baik di masyarakat maupun di partainya. Apalagi sang suami, Made Kardika juga sebagai seorang politikus. Hal inilah yang membuat dirinya lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja dibandingkan di rumah. Sadar akan keadaan tersebut, putri dari (alm) Jro Nyoman Belgia ini sudah menanamkan kemandirian sejak dini terhadap ketiga anaknya.

Turkini mempercayakan pola asuh anak kepada diri sendiri dan suami serta dukungan keluarga dekatnya. Bahkan saat anak-anaknya menginjak remaja pun Turkini memilih tetap tidak meggunakan asisten rumah tangga dalam membantu meringankan pekerjaan rumah. Justru dirinya dan suamilah yang bekerjasama dalam membagi tugas untuk mengerjakan segala pekerjaan rumah tangga.

“Dalam keluarga kami selalu bergotong royong, jika saya sibuk suami yang akan mengerjakan tugas rumah begitu sebaliknya,” tutur perempuan kelahiran 2 Maret 1976 tersebut. Ini merupakan contoh nyata yang ia dan suami berikan untuk diteladani oleh anak-anaknya. Dengan saling membantu dan bekerjasama untuk meringankan segala tugas-tugas rumah.

Memiliki latar belakang keluarga yang bergelut di bidang politik tidak lantas membuat Turkini terobsesi membuat anak-anak mengikuti jejaknya. Dirinya mengungkapkan memberi kebebasan kepada sang anak untuk menentukan masa depannya kelak. Namun ada pesan yang selalu ia sampaikan bahwa setiap pekerjaan yang dijalani harus dilakukan dengan disiplin. “Kami hanya selalu menekankan kedisiplinan bahwa apa yang anak-anak jalani harus dilakukan dengan serius dan disiplin agar tidak mengecewakan orang banyak,” jelasnya.

Setiap orang tentu menginginkan anaknya sukses. Pun demikan dengan ibunda dari Putu Reza Aditya Tirandika, Made Rosa Anastasya Tirandika, dan Komang Rian Adi Rajasa Tirandika ini. Dirinya selalu mengutamakan pendidikan sang anak. Kedisiplinan dalam menuntut ilmu akan selalu ia tekankan agar sang anak menjadi orang yang sukses nantinya.

 

PEMBELAJARAN KARAKTER

Sikap keteladan  juga harus diterapkan oleh seorang tenaga pendidik. Seorang pendidik harus menjadi panutan dalam prilaku maupun dan tutur bahasanya karena secara tidak langsung sikap tenaga pendidik akan mencerminka sikap anak didiknya. Ini juga disampaikan oleh Dr. Ni Made Ratminingsih, M.A., akademisi Undiksha yang saat ini mengajar di Jurusan S1 Pendidikan Bahasa Inggris.

Menurutnya, dia merupakan salah satu dosen yang sangat disiplin dalam mengajar terutama yang berkaitan dengan waktu. Perempuan yang akrab disapa Ratmi ini mengaku selalu ontime masuk kelas jika ada jam mengajar bahkan seringkali dirinya mendahului 10 menit sebelum jam pelajaran dimulai. Sikap disiplin inilah yang ia teladankan kepada anak didiknya. “Ini adalah pembelajaran karakter. Saya mendisiplinkan orang lain dengan cara mendisiplinkan diri sendiri dulu,” ungkapnya.

Selain disiplin waktu, dirinya juga menekankan kedisiplinan  dalam pembelajaran. Paradigma pembelajaran yang berpusat pada siswa sehingga siswa dituntut lebih aktif menemukan konsep-konsep dibandingkan mendengarkan dari dosen. Sehingga untuk menerapkan sistem tersebut dengan baik dirinya selalu memberikan tugas sebelum memulai pembelajaran. “Tugas yang diberikan juga harus jelas yang nantinya akan dipresentasikan. Sebagai calon guru mereka harus mampu menuliskan gagasan-gagasan yang mereka baca melalui ringkasan.  Mereka juga mempresentasikan untuk melatih bahasa inggrisnya,” jelasnya.

Sebagai seorang dosen Ratminingsih yang menjabat sebagai Ketua Kantor Urusan Internasional dan Kerjasama Undiksha ini mengatakan untuk tidak mencari salah atau benar mahasiswa tetapi bagaimana dosen mengahargai setiap pendapat dan gagasan mahasiswa untuk dituntun kearah yang lebih baik. “Salah benar itu biasa, dan saya berusaha mengatakan itu baik untuk mengahargai tetapi juga menunjukkan kekurangannya di mana sehingga lebih bersifat konstruktif,” imbuhnya. Ini bertujuan untuk membuat mahasiswa lebih baik dari sebelumnya, karena keberhasilan seorang tenaga pendidik adalah melihat anak didiknya sukses melebihi gurunya.  (Wiwin Meliana)

To Top