Inspirasi

Gusti Anindya Hayuningtyas: Backpacking Ajarkan Kemandirian

Berwisata selalu menjadi tren. Berwisata tak mengenal umur dan status serta bisa menjadi hobi siapa saja. Ditempat wisata pasti ada saja kita lihat pengunjung dengan tas punggung berukuran besar. Mereka para traveler yang dikenal dengan sebutan backpacker.

Jika berwisata dengan travel agent kita bisa bersantai dan tinggal terima jadi, tapi berwisata ala backpacker memiliki tantangan tersendiri. Hal ini diungkapkan Uti, mahasiswi S1 jurusan Ilmu Psikologi Universitas Airlangga Surabaya yang memiliki hobi traveling. Menurut Uti yang beberapa kali traveling tanpa travel agent ini, backpacking mengajarinya survive dan kemandirian.

“Kita bisa bertemu dan berkenalan dengan banyak orang baru, sebab  kita harus banyak bertanya mencari informasi, jadilah kita lebih banyak punya cerita, pokoknya lebih memorable deh,” ungkap mahasiswi yang besar di Tangerang ini.

Uti menuturkan banyak sekali hal-hal positif yang ia dapatkan dari pengalamannya sebagai  backpacker. “Aku merasa jadi lebih mengenal diri sendiri, aku banyak mencoba hal-hal yang aku kira nggak bakal bisa aku lakukan. Aku bertemu banyak orang-orang dan sedikt mengenal tipe-tipe orang dan belajar beradaptasi, serta jadi  mandiri itu pasti. Intinya banyak sekali hal yang membuat aku bahagia dan lebih positif,” ungkapnya.

Dampak negatif yang bisa saja muncul seperti terganggunya kuliah jika tidak bisa mengatur waktu dengan benar, “Tapi menurutku belajar dan pintar akan hal-hal di luar akademis itu juga penting,” tambahnya tersenyum.

Uti yang bernama lengkapnya Gusti Anindya Hayuningtyas, mengaku awal mula  menyukai travelingkarena terinspirasi dari buku para traveler terkenal, salah satunya buku Trinity The Naked Traveler. Selain itu, Uti mengaku bahwa ia tumbuh besar di keluarga yang memang suka jalan-jalan keluar kota, Makanya  sehingga dari kecil ia sudah mengunjungi banyak tempat bersama keluarga sampai akhirnya ketika kuliah ini ia memberanikan diri traveling sendiri dengan uang tabungannya.

Uti mengatakan soal keuangan dan pentingnya menabung supaya kita tidak merepotkan orangtua untuk menjalankan hobi traveling. Begitu pula bila ingin bacpacking kita harus pandai-pandai mengatur pengeluaran, karena segala sesuatunya kita yang harus menyiapkannya sendiri. Ia menuturkan pernah berangkat dengan budget mulai Rp 300 ribuan hingga Rp 2 jutaan.

 

BELAJAR SEJARAH

Awal tahun 2017 adalah pertama kalinya Uti backpacking seorang diri. Ia memilih kota Solo sebagai tujuannya. Setelah itu ia mulai berani melanjutkan hobinya dengan backpacking lagi ke beberapa kota lain, baik sendiri maupun bersama teman yang juga backpacker.

Sebagian besar kota yang dipilih Uti sebagai destinasi bacpacking-nya di tahun 2017 kemarin memang masih di Pulau Jawa, seperti Solo, Dieng, Purwokerto, Banyuwangi, Malang, Blitar, Tulungagung, Magelang, Pacitan, Semarang, Purwekorto, Jember, dan Boyolali. Ia juga sempat berwisata ke Sumba dan Lampung.

Jika dihitung dari tahun-tahun sebelumnya Uti juga sering traveling bersama keluarganya, tempat yang pernah ia kunjungi lebih banyak lagi dari itu. Ia juga sudah beberapa kali keluar negeri.

Destinasi terjauh yang ia kunjungi Januari 2018, Turki. “Sudah dari lama sekali ingin kesana, karena aku tertarik belajar sejarahnya,” jawab dara kelahiran Jakarta, 4 September 1998 ini.

Ketika diminta memilih satu tempat yang paling berkesan dan membuat ketagihan untuk mengunjungi lagi dan lagi, Uti menyebut daerah Tulungagung dan Sumba. “Tulungagung itu berkesan sekali, karena saat aku dan temanku harus struggle di perjalanan menuju pantai Kedung Tumpang. Tapi hal itu terbayar karena pantainya super cantik. Aku bertemu orang-orang yang super ramah dan baik. Seperti ojek yang mengantar kami, penjaga warung dekat pantai, orang-orang yang bertugas merawat pantai, dan masih banyak lagi,” katanya.

Sumba menarik perhatiannya karena pantai, bukit, bahkan seafood-nya benar-benar bikin betah dan puas. Ketika berkunjung ke Sumba, anak bungsu dari empat bersaudara buah hati pasangan suami-istri Wahyudi Prawira dan Nurihastuty Jusuf ini juga membawa buku yang dibagikan ke anak-anak  di Bukit Wairinding, Pambotanjara, Waingapu, Sumba Timur.

Uti mengaku banyak tempat yang ingin ia kunjungi. Lombok, Karimun Jawa, keliling Sumatera, Makassar, Toraja, dan Jepang, Halmahera, Kalimantan, Labuan Bajo, Maluku, Nepal, India, Kamboja, Maldives, dan Maroko sudah masuk dalam daftarnya. (Nina)

 

Tips untuk Backpacker

Apa saja barang bawaan Uti saat menjadi backpacker? Sebenarnya tak ada yang khusus, sama seperti wisatawan biasa. Beberapa pakaian, alat mandi, skincare, obat-obatan, dan barang pribadi lainnya. Tapi Uti tak lupa bawa abon sebagai makanan cadangan jika ia tak cocok dengan makanan di sana , “Jaga-jaga juga kalau kehabisan uang haha,” ujarnya polos. Masih soal makanan, memilih nasi rames yang ia coba di Solo dan nasi campur Bali sebagai makanan terlezat yang pernah ia cicipi saat traveling sejauh ini.

Beberapa tips darinya untuk mereka yang ingin traveling khususnya ala backpacker :

  • Mencari tahu jarak lokasi yang dituju.
  • Mencari tahu transportasi umum yang ada di daerah tujuan dan mempelajari rutenya. Selalu sedia catatan nomor telepon dan alamat penginapan, karena dalam kondisi tertentu tak bisa selalu mengandalkan gadget.
  • Mengatur pengeluaran, tidak membeli hal yang tak diperlukan.
  • Selalu menjaga sopan santun terutama untuk bertanya dan kenalan dengan warga lokal.(Nina)
To Top