Kolom

KASIHAN

Putra salah seorang tetangga ketahuan mempergunakan narkoba. Orangtuanya buru-buru menemui Amat, minta petunjuk.
“Pak Amat, tiba-tiba saja Wayan berlari masuk ke rumah, lalu langsung naik ke gudang kami yang tempatnya di atas langit-langit kamar tidur. Dia bilang sedang dikejar-kejar mau dibunuh dan berteriak menyuruh kami menyembunyikan barang berharganya yang disembunyikan di bawah kolong tempat tidurnya!”
“Waktu kami periksa ternyata itu narkoba! Apa yang harus kami lakukan?”
Amat terkejut. Sama sekali tak menyangka Wayan Apik yang kalem, santun dan pinter itu, bisa kejeblos narkoba.
“Tetapi mau apa lagi kalau sudah begitu kenyataannya?” kata Bu Amat.”Harus berani diterima!”
“Sekarang apa sebaiknya yang harus kami lakukan, Pak Amat?”
Amat menjawab dingin.
“Ya, bersyukurlah.”
Orangtua Wayan Apik kaget. Bu Amat langsung membentak suaminya:
Lho, Bapak ini bagaimana sih! Jangan nyeleneh begitu! Ini serius! Orangtuanya panik, bertanya baik-baik. Bapak kok menanggapi ugal-ugalan begitu?!”
“Ugal-ugalan bagaimana?”
“Jangan begitulah jawabannya sama tetangga yang lagi kesusahan. Bapak dan Bu Ktut  ini bingung, tahu?”
Amat bengong lalu bertanya,
Lho, Bapak  kan sedang berusaha mengajak mereka, menerima kenyataan dan menahan diri!”
Kok pakai menahan diri segala?”
“Habis, kalau  mereka panik. Kita lkut-ikutan panik, akhirnya semua akan berantakan!”
“Siapa yang nyuruh panik!  Cuma kasihlah pandangan yang jernih supaya orangtuanya tahu apa yang harus mereka lakukan.”
“Makanya Bapak bilang bersyukur. Bersyukur artinya, memujikan Kebesaran  Yang Di Atas Situ!”
“Memujikan bagamana?”
“Memujikan karena diperkenankan masih bisa bersyukur!”
Lho kok bersyukur? Wayan Apik pecandu narkoba, sekarang sudah sering aneh kelakuannya arena halusinasi akibat pengaruh narkoba, kok orangtuanya Bapak ajak bersyukur?!”
“Ya! Karena syukurlah orangtuanya yang tahu. Jadi Wayan tinggal dilaporkan ke BNN untuk direhabilitasi! Coba kalau BNN yang tahu duluan, Wayan pasti ditangkap dan dipenjara! Paling sedikit bisa satu tahun di penjara! Begitu! Syukur kan?!”
Bu Amat tersenyum dan mengedipkan mata pada suaminya. Lalu menoleh kepada orangtua Wayan.
“Jadi begitu Bapak dan Bu Ktut. Bersyukurlan tidak kedahuluan BNN. Sekarang bujuk Wayan supaya ia tidak marah kalau Bapak dan Bu Ktut akan melaporkannya ke BNN.”
Orangtua Wayan Apik termenung. Mereka nampak susah menerima keadaan itu. Maklum Wayan Apik  anak kesayangan  mereka.
Amat yang semula jengkel karena istrinya, seperti tidak mengerti msaalah narkoba, lalu tersenyum. Ia menghampiri ortu Wayan Apik:
“Saya tahu, kalian berdua pasti tak sampai hati melaporkan anak sendiri ke polisi. Karena seorang tua yang baik  sehrusnya melindungi anak. Tapi narkoba itu jahat dan bahaya sekali. Kalau sayang sama Wayan, cinta kepada dia, kalau ingin melindungi dia, kalau Bapak dan Bu Ktut betul-betul mengasihi putra Bapak dan ibu, Wayan Apik itu, jangan sekali-kali mengasihani dia!”

To Top