Buleleng

Komang Rediasa: Berharap Menamatkan Sekolah

Potret wisata Bali dengan wajah pariwisatanya seakan meyakinkan  siapa saja bahwa provinsi ini tidak lagi tersentuh kemiskinan. Dibalik gambaran kemakmuran masyarakat di  Bali Selatan ada ketimpangan status ekonomi di sejumlah kabupaten lain di Bali. Salah satunya Kabupaten Buleleng.

Kemiskinan rupanya masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah di tengah upaya pengembangan-pengembangan berbagai sektor untuk memajukan Buleleng. Buleleng yang memiliki wilayah terluas di Bali memang memiliki jumlah penduduk terbanyak di antara kabupaten lain, sehingga berbagai masalah timbul dari mobilitas sosial. Kemiskinan merupakan suatu keadaan yang sering dihubungkan dengan kebutuhan, kesulitan dan kekurangan di berbagai kebutuhan hidup yang menggambarkan kekurangan materi.

Salah satu potret kemiskinan ada di Desa Sudaji Kecamatan Sawan, Buleleng.  Komang Rediasa hidup di tengah keluarga yang serba terbatas. Di usianya yang masih sangat belia, Komang (7 tahun) begitu ia dipanggil tidak bisa merasakan masa kecil yang bahagia seperti anak-anak pada umumnya.

Orangtuanya, Luh Sekri dan Ketut Mas Sumadi tidak punya cukup uang untuk membelikannya mainan atau makanan yang enak. Dalam keseharian, sang ayahlah yang menjadi tulang punggung tunggal dalam keluarganya, sedangkan sang hanya sebagai buruh serabutan. Jika memungkinkan sang ibu turut membantu bekerja untuk menambah penghasilan keluarga, jika tidak sang ibu hanya fokus mengurus anak-anaknya di rumah.

Saat ditemui Tokoh di kediamannya, Banjar Kaja Kauh Desa Sudaji, Buleleng, Komang baru saja pulang dari sekolah. Dirinya saat ini duduk di kelas 1 SD Negeri 4 Sudaji. Dengan pakaian lusuh yang seharusnya masih baru bagi anak yang baru masuk  di SD, Komang nampak begitu kurang bersemangat. Sambutan hangat sang ibu tidak didapatnya sepulang sekolah. Komang sudah terbiasa hidup mandiri, bahkan di usianya yang masih sangat kecil dirinya sudah biasa di tinggal sendiri di rumah dan mengerjakan segala sesuatu kebutuhannya sendiri. Ibunya sedang bekerja menjadi buruh angkut pasir.

Komang tinggal bersama orangtua, kakaknya Kadek Anggara Natha (11), dan adiknya Ketut Ani Ningsih (3). Kakak sulungnya Gede Ariaba (13) yang telah putus sekolah sedang bekerja di wilayah Tabanan sebagai buruh pasir. Mereka tinggal bersama di bawah rumah yang tidak layak huni. Rumah dua kamar ini merupakan warisan dari kakeknya, ayah dari Mas Sumadi. Rumah tua ini, tak hanya sudah rapuh tetapi atapnya yang terbuat dari seng juga sudah karatan dan berlubang. Mirisnya, ketika turun hujan mereka menggunakan terpal untuk berteduh. “Kalau hujan semuanya bocor buku-buku dan seragam harus dicarikan tempat aman,” tuturnya.

Rumah yang ia tinggali terdapat dua kamar. Satu kamar untuk keluarga, satu kamar lagi untuk pamannya, adik ayahnya. Bahkan daun pintu dan jendela pun sudah dibuka karena di makan rayap. Yang lebih memprihatinkan lagi, tidak ada kamar mandi di bangunan rumah itu. Semua kebutuhan untuk memasak, mandi, cuci pakaian, hingga kebutuhan buang hajat dilakukan di saluran irigasi dekat rumah mereka.

Untuk keperluan sekolah Komang hanya mengandalkan penghasilan sang ayah yang tidak menentu. Bahkan pergi ke sekolah pun dirinya jarang mendapat bekal dari sang ayah. Kalaupun diberikan hanya 2 ribu saja. Komang berharap dapat menamatkan sekolahnya tidak seperti kakaknya yang harus putus sekolah dan harus membantu kebutuhan ekonomi keluarga di usianya yang masih sangat belia. (Wiwin Meliana)

To Top