Surabaya

Petirtaan Sumber Tetek di Pasuruan Sembuhkan Penyakit dan Awet Muda

Indonesia dikenal memiliki kekayaan alam dan budaya melimpah. Keanekaragaman budaya ini didukung sejarah yang masih melekat dengan masyarakat. Hal ini terlihat jelas dengan adanya berbagai situs peninggalan sejarah, berupa arca dan candi-candi yang menjadi saksi bisu tentang keberadaan kisah maupun mitos-mitos yang bertebaran di masyarakat.

Di Jawa Timur terdapat sebuah candi yang diduga merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Airlangga pada abad ke-11. Candi Belahan atau masyarakat setempat menyebutnya sebagai Petirtaan Sumber Tetek. Asal-usul nama Candi Tetek sendiri berasal dari kata “tetek” yang merupakan adaptasi dari bahasa Jawa yang berarti puting payudara.

Hal ini dikarenakan dalam arca Dewi Laksmi, mengalir sumber air dari kedua payudaranya. Untuk itu, mengapa petirtaan ini dinamai dengan Candi Sumber Tetek.

Candi Sumber Tetek sendiri merupakan sebuah bangunan persegi  berbentuk kolam yang terdiri dari tumpukan batu bata merah berukuran 5×5 meter persegi yang disampingnya terdapat dua arca Dewi Sri dan Dewi Laksmi, yang mengeluarkan air dari kedua payudaranya.

Hadirnya wujud Dewi Sri, ini dipercaya masyarakat setempat sebagai lambang kesuburan dan Dewi Laksmi, sebagai lambang kemakmuran. Banyak masyarakat yang mempercayai bahwa Petirtaan Sumber Tetek ini dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit dan bisa membuat awet muda.

Tak heran, jika banyak masyarakat dan pengunjung dari berbagai kota berbondong-bondong datang ke tempat ini untuk mendapatkan air petirtaan untuk dibawa pulang.

Di dalam Candi Tetek terdapat Arca Lingga Yoni di seberang kolam dan dahulu dalam catatan sejarah sebenarnya di atas Arca Dewi Sri dan Dewi Laksmi, terdapat Arca Prabu Airlangga dalam wujud Dewa Wisnu menaiki Garuda, yang sekarang sudah dibawa ke Museum Purbakala Sejarah Trowulan, Mojokerto dan telah mengalami restorasi oleh tim Arkeologi pada 1986.

HADIAH KELAHIRAN AIRLANGGA

Berdasarkan catatan sejarah, Petirtaan Sumber Tetek dibangun Raja Airlangga pada 1009 Masehi atau dimasa Kerajaan Kahuripan. Salah satu juru kunci Petirtaan Sumber Tetek, Astono, menuturkan, petirtaan dibangun oleh Raja Airlangga, putra dari Raja Udayana. Raja Udayana sendiri merupakan raja dari Bali yang menikah dengan seorang putri dari Jawa, Gunapriya Dharmapathi, pada masa Kerajaan Majapahit.

“Sebagai hadiah menyambut kelahiran putranya (Airlangga), Raja Udayana memutuskan untuk membuat kolam yang dinamakan dengan Petirtaan Jolotundo. Petirtaan itu dibangun sekitar 997 Masehi,’’ kata Tono.

Petirtaan Jolotundo merupakan cikal-bakal dibangunnya Candi Belahan atau akrab disebut dengan Petirtaan Sumber Tetek. Hal ini didasarkan pada penemuan prasasti yang terdapat di sekitar situs. Prasasti yang sekarang berada di Museum Trowulan, Mojokerto tersebut mencatat, Candi Belahan Sumber Tetek dibangun pada masa Kerajaan Kahuripan.

Petirtaan yang secara administrasi berada di kawasan Dusun Belahan Desa Wonosunyo Kecamatan Gempol, Pasuruan Jatim ini, konon menjadi tempat pertapaan Raja Airlangga dan pemandian dua permaisurinya. Candi yang berada diketinggian 700 MDPL ini juga menawarkan keindahan alam yang asri.

Belum lagi adanya gemericik air yang membuat pengunjung betah berlama-lama di tempat ini untuk melakukan meditasi atau mencari ketenangan di tengah kebisingan kota. (Hanny/Bisnis Surabaya)

 

 

To Top