Surabaya

Gang Dolly Jadi Kawasan Produktif

Kerajinan seni batik yang melibatkan warga eks Dolly.

Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya berhasil mengubah kawasan eks lokalisasi Dolly dan Jarak menjadi sebuah kawasan yang produktif.  Saat ini, kawasan tersebut sudah mengalami banyak perubahan, pasca ditutup empat tahun silam.  Baik perubahan dari aspek sosial maupun ekonomi. Tempat yang dulunya ramai berjajar rumah-rumah bordil, kini telah bermetamorfosis menjadi sebuah kampung yang produktif.

Camat Sawahan Surabaya M. Yunus mengatakan kawasan eks lokalisasi Dolly dan Jarak, saat ini mulai banyak berkembang salah satunya dari segi ekonomi. Dengan adanya beberapa usaha industri kreatif yang mulai berkembang di kawasan tersebut, pastinya juga memberikan dampak yang positif bagi perekonomian warga sekitar.

“Selama ini Pemkot terus melakukan berbagai upaya agar perekonomian warga sekitaran eks lokalisasi makin meningkat, termasuk mendirikan industri kreatif bagi warga sekitar,” kata Yunus.

Ia mengungkapkan, saat ini terdapat sebanyak 23 kelompok Usaha Kecil Menengah (UKM) di kawasan tersebut.

Rinciannya, untuk produk olahan batik berjumlah empat kelompok UKM, yaitu Jarak Arum, Alpujabar, Canting Surya, dan Warna Ayu. Sementara itu, untuk olahan makanan dan minuman berjumlah 13 UKM dengan rincian yaitu, TBM Kawain, olahan bandeng, Jarwo Tempe, Sami Jali, Pangsit Hijau, Cak Mimin (Dian Rujak), UKM Puja (telur asin, botok telur asin), UKM Squel (olahan keripik), UKM Vigts (jamu herbal), Gendis (bumbu pecel), UKM Henrik (olahan semanggi dan es puter) dan olahan minuman dari rumput laut.

“Setiap kelompok UKM itu terdiri dari tiga hingga 10 orang dan merupakan warga dari sekitaran eks lokalisasi Dolly dan Jarak,” ujar pria berkacamata ini. Disamping itu, untuk usaha industri kreatif di tempat ini berjumlah sebanyak lima. Rinciannya yaitu, KUB Mampu Jaya (produksi sandal, sepatu dan goody bag), sablon, minyak rambut (phomade dan semir), handycraft (manik-manik) dan usaha dalam bentuk lukisan.

“Kami juga saat ini sedang menyiapkan untuk industri sabun rumahan. Jadi nanti, tidak hanya produk sandal dan goody bag saja yang kita tawarkan ke pihak hotel, tapi juga ada produk olahan sabun,” ujarnya. Pemkot Surabaya, lanjut Yunus, terus berupaya untuk memberdayakan keluarga di kawasan eks lokalisasi. Tidak hanya para suami, namun juga para istri diberdayakan agar keluarga mereka lebih produktif dan kesejahteraan keluarga mereka lebih meningkat.

Pemkot juga telah memberikan fasilitas berupa Dolly Saiki Point, sebuah tempat yang khusus dijadikan sebagai pusat oleh-oleh penjualan berbagai produk UKM dari seluruh warga sekitaran eks lokalisasi. “Mulai dari awal proses produksi hingga menuju market place, kami terus melakukan pembinaan dan pendampingan ke mereka. Selain itu, secara periodik mereka juga kita kumpulkan. Tujuannya untuk evaluasi, seperti ketika ada kesulitan kita wadahi mereka, dan kita sampaikan ke dinas terkait,” tegasnya.

Yunus mengungkapkan, omzet yang didapatkan dari industri sandal dan sepatu bisa mencapai sekitar Rp 30 hingga Rp 40 juta per bulan, dengan jumlah produksi sebanyak 300 buah per hari. Sementara untuk usaha batik omsetnya bisa mencapai Rp 17 hingga Rp 28 juta per bulan.
“Saat ini yang ramai itu pesanan untuk sandal hotel. Sekitar 10 hotel di Surabaya yang pesan. Sementara untuk pesanan yang paling jauh dari Sorong, Papua,” terangnya.
Kedepan, untuk industri dalam waktu dekat akan dikembangkan lagi di sekitaran bangunan gedung yang dulunya bernama eks Wisma Barbara ini. Sebab, menurut dia, melihat begitu banyaknya pesanan membuat kebutuhan produksi perlu untuk ditingkatkan. “Lokasinya nanti ada di belakang bekas bangunan eks wisma Barbara, sudah kita tawarkan ke beberapa warga dan mereka sangat begitu antusias,” pungkasnya. (Antonius Andhika/Bisnis Surabaya)

To Top