Sosialita

Dayu Nanda: Akuntan Publik Wanita Termuda

Dayu Nanda bersama dan putranya

Melakoni sesuatu yang sudah dikenal sejak kecil memudahkan orang meraih kesuksesan. Kesuksesan juga dihasilkan dari perjuangan untuk terus belajar dan mengatasi tantangan. Hal inilah yang dialami Ida Ayu Budhananda Munidewi, SE., Ak.,MSA.,CA.,CPA, pendiri Kantor Akuntan Publik (KAP) Budhananda Munidewi.

Perempuan yang akrab disapa Dayu Nanda ini menuturkan sejak kecil sudah bercita-cita menjadi akuntan. “Orangtua terutama Ajik sangat berperan dalam mengenalkan saya dunia akuntansi. Lingkungan juga menjadikan saya sangat dekat dengan dunia akuntansi. Saat SMA, sempat berpikir untuk mengubah cita-cita menjadi arsitek atau desain interior, ternyata ujung-ujungnya saya memilih akuntansi,” ujar alumnus Jurusan Akuntansi FE Unud tahun 2011 ini.

Lulus kuliah, putri pasangan Dr. Ida Bagus Teddy Prianthara, SE.,Ak.,M.Si.,CA.,CPAI dan IGA Wirati Adriati ini mengikuti Pendidikan Profesi Akuntansi dan S2 Akuntansi di Universitas Brawijaya, Malang. Tahun 2014, ia pun berhak menyandang gelar Master Sains Akuntansi.

Tak berhenti sampai di situ. Dayu Nanda lalu mengikuti short course CPA review di Pusat Pengembangan Akuntansi (PPA) FEB Universitas Indonesia selama empat bulan. Ia juga bergabung dengan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dan tersertifikasi sebagai Chartered Accountant (CA) dan Akuntan Beregister Negara dengan Nomor 2495. “Setelah mengikuti tiga kali ujian akhirnya saya lulus dan mendapat gelar Certified Public Accountant (CPA) tahun 2015. Waktu itu belum boleh buka kantor sendiri. Proses selanjutnya, saya mendaftar ke  Kementerian Keuangan untuk menjadi Akuntan Publik Beregister Negara. Akhirnya April 2016 semua persyaratan terpenuhi, saya boleh membuka kantor sendiri dan memberi layanan audit dan akuntansi,” jelas sulung dari empat bersaudara ini.

Menekuni dunia akuntansi membuat perempuan kelahiran 15 Januari 1990 ini menemukan banyak hal. Menurutnya masyarakat masih ada yang kurang sadar pentingnya pencatatan keuangan. Laporan keuangan dianggap hanya diperlukan kalau mencari kredit di bank atau ikut tender.

“Pencatatan itu tidak tergantung besar atau kecilnya perusahaan atau besar kecilnya pendapatan. Semua harus dicatat karena berkaitan dengan kesinambungan perusahaan. Kadang ada perusahaan yang didirikan berdasarkan kepercayaan namun tidak membuat laporan keuangan yang tercatat. Ketika muncul masalah di kemudian hari, barulah sibuk. Karena itulah kami hadir untuk ikut mengedukasi masyarakat agar tertib pembukuan,” tegas istri dari IB Gde Mahadiptha Bramantha Maharddika, SH.,M.Kn dan ibu dari IB Gde Mahasena Gyan Pradiptha ini.

Sebagai KAP, pihaknya sering menangani kasus keuangan yang bermasalah. Audit kasus ini bahkan sampai berlanjut ke pengadilan. Akuntan publik menjadi saksi fakta untuk menjelaskan apa penyebab terjadinya masalah di laporan keuangan yang dipicu penyalahgunaan wewenang dan indikasi kecurangan.

SENI MENGHITUNG DAN MENCATAT

Suka dan duka pun dialami Dayu Nanda menjadi akuntan publik wanita dan termuda di Bali ini. “Pekerjaan ini memiliki banyak tantangan namun saya menyukainya. Saya bekerja dengan berbagai karakteristik orang. Intinya harus sabar dan tenang dalam melayani mereka. Saya pun jadi banyak belajar,” ujarnya.

Karena KAP miliknya sendiri, Dayu Nanda bisa mengeksplor diri. Standard Operation Procedure (SOP) ia rancang sendiri agar timnya yang terdiri dari delapan auditor bisa bekerja maksimal. Pengelolaan kantor pun disesuaikan dengan gaya kekinian tapi sesuai batasan. “Saya juga selalu mengingatkan tim tentang profesi akuntan. Suatu saat harus bisa berkembang dan membuka peluang kerja untuk yang lain. Dasarnya adalah mencintai akuntansi, seni menghitung dan mencatat,” ungkap Bendahara Korwil IAPI Bali Nusra ini.

Menjadi akuntan publik yang memiliki jaringan luas, ilmu yang dipelajari tak hanya akuntansi.  Ilmu lain seperti hukum, psikologi, manajemen SDM dan kantor pun harus dikuasai.  Bersama tim yang relatif masih muda, Dayu Nanda tak mau terlalu mendikte mereka. Ia hanya memberikan pengarahan saja.

“Dukanya kalau harus lembur, waktu dengan keluarga berkurang. Tetapi, karena keluarga sudah paham dengan profesi saya, jadi tidak masalah. Selain itu, kadang klien tidak menghargai auditor. Seharusnya auditor diposisikan sebagai partner bukan disuruh-suruh. Ada juga yang diberi saran tapi tidak diikuti. Ada masalah baru datang lagi. Memang pelanggan adalah raja tapi ada batasan yang harus kita hormati,” ujarnya tentang duka menjadi akuntan publik.

Ke depannya, Dayu Nanda mengakui ada tantangan  yang dihadapi KAP yakni masuknya auditor luar negeri. Kadang ada kesan yang dari luar negeri dianggap lebih berkualitas, padahal yang lokal juga banyak yang berkualitas. Pemerintah tentu harus membuat aturan yang tegas. Adanya UU nomor 5 Tahun 2011 tentang Akuntan Publik bisa menjadi acuan.

Dari sisi auditor, juga harus terus meningkatkan kemampuan.  “Kami juga berharap masyarakat lebih sadar dengan profesi akuntan publik. Jadikan akuntan publik partner menyusun laporan keuangan yang standar. Audit bukan hanya untuk cari kredit atau tender.  Yang terpenting bagaimana perusahaan bisa berkesinambungan,” tegasnya. —wah

To Top