Buleleng

Jamur Peluang Bisnis Menjanjikan

Budidaya jamur tiram saat ini mulai menjamur di Kabupaten Buleleng. Mulai dari petani pemula hingga petani dengan jumlah produksi besar begitu pesat perkembangannya. Hal ini tidak terlepas dari prosfek pemasaran jamur tiram yang menjajikan. Banyaknya pembudidaya jamur tidak terlepas dari pembibitan jamur itu sendiri. Rupanya berkembangnya budidaya jamur dikarenakan usaha pembuatan bibit jamur terdapat di Buleleng.

Jamur Berlian Bali merupakan salah satu pembibit jamur tiram terbesar di Buleleng. menurut Eny Meliani, pemilik usaha tersebut mengatakan awal mulanya ia tertarik untuk membuat bibit jamur berawal ketika dirinya membeli bibit jamur ke Jawa. Saat pembelian tersebut banyak teman-temanya yang berminat dan menitip kepada dirinya. “Daripada beli keluar, saya mulai belajar pembibitan sendiri dan melayani penjualan bibit kepada petani jamur sekalian juga menghemat biaya,” ungkapnya.

Menurut perempuan kelahiran Singaraja, 19 Agustus 1977 pembibitan jamur tiram merupakan salah satu bisnis yang menjanjikan karena mudah dalam pemeliharaan dan memerlukan modal yang sedikit. Untuk satu buah baglog biasanya Eny menjual kepada petani seharga 3 ribu Rupiah. Pembuatan bibit jamur miliknya menggunakan serbuk kayu lokal sebagai media. Serbuk kayu biasanya ia dapatkan dari usaha serkel di Buleleng maupun di luar buleleng.  Penggunaan serbuk kayu pun tidak sembarangan melainkan menggunakan serbuk kayu yang sudah ditumbuhi silium. “Serbuk kayu yang sudah didapat inilah baru bisa kita olah di gudang untuk dijadikan media pembibitan jamur tiram,” ungkapnya.

Perempuan murah senyum ini mengatakan serbuk kayu akan diayak untuk memisahkan serbuk yang benar-benar layak digunakan. Kemudian beberapa bahan campuran lain juga menjadi tambahan seperti dedak padi, nutrisi dan kalsuim. Selanjutnya bahan yang telah siap akan dilakukan pengemasan dan pengepresan untuk mencetak kepadatan. Setelah itu, barulah dipasangi tutup cincin sebelum dilakukan sterilisasi dengan cara mengukus selama 3 hingga 4 jam. Waktu pendinginan juga membutuhkan 3 hingga 4 jam sebelum dilakukan inokulasi yaitu pemberian bibit jamur pada deglog. “Pada tahap selanjutnya barulah masa inkubasi selama 30 hingga 45 hari lalu masuk di tahap perawatan,” paparnya.

Ditambahkan Eny, saat ini pihaknya kewalahan melayani pemesan petani lokal Buleleng dalam pemenuhan bibit jamur tiram. Bahkan setiap harinya pihaknya hanya mampu membuat 500 baglog sedangkan pesanan yang datang hingga 2.000 baglog per hari. Tidak hanya petani lokal, dirinya juga melayani pesanan dari petani-petani di seluruh Bali. Bahkan dirinya juga tidak segan melayani pesanan dari petani pemula yang hanya memesan sekita 500an baglog. “Kami tidak selalu bisa melayani semua pesanan sehingga petani harus bersabar menunggu antrean,” jelasnya.

Selama menjadi pengusaha bibit jamur, Eny mengaku melihat peluang bisnis yang menjajikan. Hanya saja, dalam proses pembuatan  baglog pihaknya masih terkendala alat yang masih manual. “Penggunaan alat yang manual membuat produksi kami masih terbatas di tengah meningkatkan permintaan terhadap bibit jamur,” jelasnya. Selain itu, ketersediaan bahan juga menjadi hambatan lain bisnis pembibitan jamur ini. Selama ini serbuk kayu ia dapatkan dari serkel lokalan Buleleng, hanya saja bisnis jamur yang berkembang pesat membuat permintaan bibit jamur juga semakin meningkat sehingga untuk memenuhi bahan pembuatan baglog pihaknya juga mengambil dari serkel dari luar seperti Kintamani.

Selain belajar pembibitan jamur, Eny juga bersedia memberikan pelatihan mengenai perawatan baglog. Bahkan kepada petani jamur, dirinya juga sering memberikan pelatihan-pelatihan olahan matang jamur tiram. Menurutnya jika diolah secara kreatif jamur tiram yang memiliki rasa gurih ini mampu menjadi makan yang sehat dan disukai masyarakat. beberapa pelatihan makan olahan jamur yang pernah ia berikan seperti bakso jamur, nugget jamur, jamur krispi, abon jamur, sate jamur, dan masakan tradisional yang menggunakan jamur. (Wiwin Meliana)

To Top