Metropolitan

Balai Kirti Siapkan Film Animasi Bung Karno

Amurwani Dwi Lestariningsih, S.Sos, M.Hum.

TIGA tahun setelah diresmikan, Museum Kepresidenan Republik Indonesia Balai Kirti mulai memperkaya koleksinya. Salah satu kegiatan museum yang terletak di komplek Istana Bogor itu adalah, pembuatan film animasi. “Yang pertama kami rencanakan produksinya adalah mulai dari Presiden Sukarno,” ujar Kepala Museum Kepresidenan Balai Kirti, Amurwani Dwi Lestariningsih, S.Sos, M.Hum.

Pembuatan film animasi Bung Karno, dikerjakan oleh kartunis Wawan Teamlo. Kamis lalu, Museum Kepresidenan RI Balai Kirti melakukan rapat kedua. “Sebagai tindak lanjut rapat yang pertama, hari ini kami mengundang narasumber Roso Daras, selaku penulis buku-buku Sukarno. Dari beliau, kami mendapatkan masukan-masukan demi sempurnanya konsep yang sedang dikerjakan tim kreatif,” ujar Amurwani.

Di bagian lain, Wawan Teamlo menambahkan, sosok Sukarno yang akan dibuatkan animasinya ditujukan untuk segmen anak-anak. Karena itu, cerita yang diangkat pun cerita di era Sukarno berusia antara 10 – 15 tahun. “Selain cocok dengan audiens yang dituju, fase itu sangat menarik untuk divisualisasikan dalam format animasi,” ujar Wawan.

Hadirnya Roso Daras memberi banyak perspektif tentang sosok Sukarno. “Kebetulan saya kenal mas Roso, dan beberapa kali kami bertemu dan berbincang soal Bung Karno. Saya tahu betul, mas Roso memiliki referensi yang cukup. Hari ini, mas Roso memberi saya banyak ide, yang dalam waktu dekat akan saya tuangkan dalam bentuk script,” ujar Wawan.

Ketika disinggung, kisah Bung Karno yang mana yang hendak dianimasikan, sambil tertawa Wawan berseloroh, “Rahasia dooong…Kalau bagian itu, nanti saja. Sebab, prosesnya tidak instan. Kami terlebih dahulu harus menyerahkan desain produksi, sampai script kepada pihak Balai Kirti. Jadi, kalau ditanya ide, masih sangat premature,” ujarnya.

Wawan menambahkan, keseluruhan proses pembuatan film animasi memerlukan waktu antara lima sampai enam bulan. “Hari ini, masih termasuk tahap observasi. Termasuk mengundang narasumber. Setelah ini, masuk tahap kedua, yaitu penulisan script, story board dan dubbing. Tahap ketiga, pembuatan karakter tiga dimensi atau 3D. Fase keempat proses animate, dan terakhir compsite dan finalisasi,” paparnya.

Yang pasti, animasi Sukarno kecil harus menjadi film animasi yang mendidik sekaligus menghibur. Artinya, ada pesan moral yang harus disampaikan melalui bahasa animasi. “Tapi juga harus menghibur. Dari mas Roso saya dapat banyak cerita unik, lucu, dan menarik, yang mudah-mudahan bisa kami visualisasikan menjadi animasi yang segar dan menghibur,” ujar Wawan yang kartunis sekaligus pemusik itu.

Ia berharap, terobosan pengelola Museum Kepresidenan RI Balai Kirti mendapat apresiasi, tidak saja dari internal Kementerian Pendidikan Nasional selaku pengelola museum, tetapi juga patut diapresiasi masyarakat luas. “Jarang lho… pengelola museum yang berpikir kekinian. Animasi ini zaman now banget. Bagaimana kita mengubah mindset masyarakat tentang museum yang menjemukan menjadi menyenangkan. Dengan adanya animasi, wajah Museum Kepresidenan menjadi lebih fresh. Semoga,” harap Wawan.

Itu artinya, karya animasi Wawan Teamlo nanti akan menambah koleksi yang ada. Kini, museum yang berlokasi di komplek Istana Bogor, menyimpan berbagai benda bersejarah peninggalan perjalanan kepemimpinan para Presiden Indonesia mulai dari Sukarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono. Beberapa benda bersejarah tersebut di antaranya adalah foto, buku, lukisan, benda seni, dan catatan-catatan lainnya.

Museum ini berdiri di atas lahan seluas 3.211,6 meter persegi. Pembangunan museum ini sudah dimulai sejak tahun 2013 atas ide Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ide ini kemudian diwujudkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) serta Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen PU). Kementerian PU bertugas membangun fisik museum, sedangkan Kemendikbud bertugas mengkoordinir museum mulai dari koleksi, fasilitas, hingga sarana dan prasarana.

RUJUKAN HISTORIS

Museum ini berlantai tiga. Lantai pertama adalah galeri kebangsaan yang menyajikan sejarah bangsa seperti naskah Proklamasi, Pancasila, UUD 1945, Sumpah Pemuda dan peta digital yang menggambarkan wilayah NKRI. Lantai dua adalah galeri kepresidenan yang menyajikan berbagai peristiwa, prestasi dan sosok enam presiden yang pernah memimpin RI. Lantai terakhir adalah taman terbuka untuk bersantai bagi para pengunjung yang telah berkeliling museum.

Saat diresmikan pada Sabtu, tanggal 18 Oktober 2014 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Ibu Negara, Ani Yudhoyono, turut hadir pula Wakil Presiden Boediono dan Ibu Herawati Boediono, Presiden ke-3 BJ Habibie, istri presiden ke-4 Abdurrahman Wahid, Sinta Nuriyah Wahid dan putri Presiden Soeharto, Siti Hediati. Selain itu, hadir Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M. Nuh, para menteri lainnya hingga duta besar negara-negara sahabat.

Museum Balai Kirti ini dibangun untuk menanamkan nilai-nilai menghargai pemimpin bangsa kepada generasi muda. “Museum ini dibangun untuk anak cucu kita, generasi muda, untuk mengenal para pemimpin negara dan menanamkan nilai-nilai menghargai. Museum ini rujukan historis dan inspirasi bagi generasi sekarang dan yang akan datang dalam membangun bangsa,” ujar Mendikbud M. Nuh ketika itu.

Kini, di era kepemimpinan Presiden Joko Widodo, Museum Kepresidenan RI Balai Kirti makin eksis. Berbagai program kekinian mulai dirancang. Harapannya, museum itu sekaligus menjadi ajang apresiasi terhadap para presiden yang berjasa bagi bangsa dan negara. Museum ini terbuka untuk umum. Hanya saja, mengingat lokasinya yang berada di lingkungan Istana Bogor (ring 1), maka untuk berkunjung, masyarakat terlebih dahulu harus mengajukan surat permohonan kunjungan. (Diana Runtu)

To Top