Bugar

Pendekatan Persuasif

Dr. dr. Made Nyandra, SP.KJ, M. Repro, FIAS.

Percepat Penyembuhan Pengguna Narkoba

Narkoba telah membuat banyak orang lupa diri.  Seperti pengakuan beberapa artis yang mengaku hanya coba-coba  mengonsumsi narkoba. Setelah ditangkap pun, pengguna  narkoba  seolah tak jera. Mereka tak peduli, kembali menjadi pengguna walaupun  konsekuensinya ditangkap kembali. Narkoba merupakan isu serius di zaman now.

Laporan BNN menyebutkan, di Bali yang berpenduduk 3 juta jiwa lebih sekitar 61 ribu jiwa atau 2,01 % merupakan pengguna narkoba. Mereka yang menjalani rehabilitasi sebanyak 1% berusia atas 40 tahun, dan 1% berusia di bawah 21 tahun. Sebagian besar ada pada kelompok usia produktif 21-40 tahun.

Salah satu dokter yang kini sedang menangani pasien narkoba adalah Dr. dr. Made Nyandra, SP.KJ, M. Repro, FIAS. Ditengah kesibukannya sebagai Rektor Universitas Dhyana Pura,  dr. Nyandra membuka ruang praktiknya di Jalan Teuku Umar Denpasar untuk pecandu narkoba yang memerlukan bantuannya.

Menurut dr. Nyandra, para pecandu tidak mengetahui dampak negatif narkoba ketika menggunakannya. “Banyak di antara pengguna narkoba semula hanya terpengaruh lingkungan, lalu tanpa sadar terjerat narkoba,” ujarnya.

Ia menuturkan, intensitas pertemuan dr. Nyandra dengan para pecandu narkoba yang menjadi pasiennya, membuat mereka sangat dekat seperti keluarga. Proses rehabilitasi yang dilakukan dr. Nyandra  terhadap pecandu narkoba, dengan pengendalian dan pengurangan konsumsi obat pasien. Proses ini tentu saja memakan waktu. Pengaruh narkoba tidak bisa dihentikan seketika. Konsumsi obat harus dikurangi secara perlahan-lahan.

Dokter Nyandra mengatakan, pasien narkoba sejak awal diikat dengan komitmen. Mereka wajib mentaati aturan yang berlaku di tempat praktik dr. Nyandra. Mereka dipersilakan mencari dokter lain apabila tidak cocok dengan aturan serta cara yang dilakukan Nyandra dalam proses penyembuhan mereka. “Membangun kesepakatan dengan mereka tidak mudah. Ada banyak hal perlu dilakukan termasuk membangun rasa saling percaya. Diperlukan kesabaran untuk menaklukkan kepala  batu mereka. Itu tidak mudah. Mereka pertamakali datang ada yang hanya pakai kaus  singlet.  Terus saya katakan, saya yang dokter saja pakai baju bagus masa kamu nggak bisa.  Bagaimana mau dihargai,” tuturnya.

Sejak awal dr. Nyandra sadar mereka bukanlah penakut. Mereka juga cerdik untuk mendapatkan kepentingan mereka. Bila dilatih, dihargai dan diajari mereka juga bisa menghasilkan kebaikan. Sejak itu mereka memakai kemeja setiap kali periksa.

Pendekatan-pendekatan persuasif itu mempercepat proses konsultasi dan tindakan penyembuhan. Bila mereka diberi banyak waktu untuk menceritakan pengalamannya banyak hal sederhana akan terungkap dan memudahkan pemberian nasihat dan anjuran. “Saya senang kalau mereka cerita di sini. Bagi saya, itu ilmu. Maka saya mengerti  persoalan mereka,” kata dr. Nyandra.

Ia menyebutkan,  untuk kasus ketergantungan narkoba, kebanyakan pasien berasal dari  strata ekonomi menengah ke bawah. Mereka berprofesi sebagai buruh bangunan, tukang sablon, tukang batik, dan pegawai kantor. Ada juga yang berstatus mahasiswa.

Penggunaaan obat lewat resep diberikan dalam dosis tertentu. Untuk mencegah terjadi  kecurangan, dr. Nyandra dengan tegas mengatur jadwal konsultasi, yakni berselang 10 hari, dengan konsumsi obat 20 butir. Jadi, bila sebelum harinya pasien ingin berkonsultasi lagi permintaan itu akan ditolak. Mereka diminta pulang dan kembali pada hari yang telah disepakati dalam pertemuan sebelumnya. Jika pasien memaksa, proses pengobatan akan diakhiri.  “Kecurangan bisa saja terjadi karena kesalahan pasien sendiri  mengelola obat yang diterimanya. Bisa jadi mereka mengonsumsi obat secara berlebihan, membagikan kepada pemakai lain, atau mungkin menjualnya. Demikian pula taktik memakai resep yang telah ditebus, namun, diakui hilang, rusak, hancur, atau lupa ditaruh, dengan maksud minta resep lagi demi mendapatkan obat yang diinginkannya,” katanya.

Dengan administrasi yang ketat, dr. Nyandra memiliki senjata untuk bertindak tegas  terhadap pasien yang nakal dengan penghentian proses pengobatan dan memintanya mencari dokter lain. Tak ada maaf bagi pelanggar komitmen yang telah dibuat di pertemuan pertama. Bahkan di apotik, ruang bagian depan tempat praktik Nyandra, terdapat papan yang memajang, nama-nama psien yang  resepnya tidak bisa  ditebus karena kecurangan atau pelanggaran komitmen.

Dengan cara itu, dr. Nyandra, sebenarnya mengajarkan kepada pasien untuk mengelola sendiri obat yang dikonsumsi dan mengendalikan emosi pada saat memerlukan obat. Selain itu, mereka juga dididik untuk menghargai komitmen yang telah dibuat. Dengan demikian, diharapkan bisa tumbuh sikap disiplin dan tanggungjawab pasien terhadap dirinya sendiri.

Waspadai Pengaruh Lingkungan

Periode pengobatan berlangsung bertahap.  Pertemuan dilakukan tujuh hari, 10 hari, dua pekan sekali dan jika mampu dicoba hingga sebulan sekali dengan dosis yang sama. Semua dicatat rapi dengan komputer. Kesepakatan menjalani pengobatan didapatkan sejak awal. Ketika pasien menyetujui proses penyembuhan yang ditawarkan. Dengan demikian, ketergantungan pasien terhadap narkoba diharapkan tidak beralih  menjadi ketergantungan obat dokter.

Dr. dr. Made Nyandra, SP.KJ, M. Repro, FIAS mengakui, potensi sembuh total kecil sekali, Hal ini karena kondisi fisik otak pasien telah terganggu akibat penggunaan sabu-sabu sejak lama. Zat aditif lain yang juga biasa mereka konsumsi seperti alkohol atau obat psikotropika seperti ekstasi menambah buruk kondisi otak mereka menuju kerusakan permanen. Karena kecanduan merupakan penyakit kronis otak, kondisi otak tidak dapat diperbaiki hingga pulih total.

Berdasarkan pertimbangan itu, pasien memerlukan pengobatan yang bersifat tidak merusak, pemberian obat bertujuan untuk menstabilkan kondisi pasien dari potensi rasa sakit, cemas, gangguan prilaku hingga sikap destruktif. Berbeda dngan kecanduan kafein atau nikotin, sabu-sabu amat merusak otak dan diikui perubahan perilaku penggunanya. Cara pandang dan pengobatan seperti itu menuntut perhatian terpadu dari pihak ahli medis, BPOM, dan BNN. Hal itu karena masalahnya berkaitan dengan penggunaan obat dan pengaturannya,.

Tak mudah bagi pengguna  narkoba untuk menjalani hidup normal kembali. Gaya hidup antikemapanan, sekujur badan dipenuhi tato, tak pernah bisa jauh dari alkohol, rokok, membuat  mereka hidup terkucil di dunia mereka sendiri. Dalam banyak kasus apa yang mereka lakukan tidak diketahui orangtua. Karena itu, kata dia, diperlukan pendekatan yang komprehensif utuk menyembuhkan mereka dari ketergantungan obat. Mereka perlu pula diberdayakan antara lain dengan menghargai karya mereka dan mengapresiasi eksistensi mereka. Penanganan secara kuratif dan preventif akan mencegah mereka kembali ke dunia kelam yang pernah menjerat mereka. Salah satunya dengan memberikan informasi  dan pengetahuan tentang bahaya dan risiko penggunaan obat.

Ia memberi contoh. Seorang pasien menggunakan tembakau gorila untuk meningkatkan agresivitas seksual. Hasilnya, ternyata tidak saja mendongkrak seksualitas terhadap pasangan, namun juga meningkatkan emosi pengguna. Pengguna menjadi mudah marah kepada orang lain, bahkan sampai memukul anaknya.

Menurutnya, masalah seperti ini kadang terjadi karena penguna mendengar informasi dan menelannya mentah-mentah lantas  mencoba sendiri tanpa mengetahui apa dampaknya. Bisa juga karena  pemberian teman. Hal serupa terjadi dengan narkoba. Pasien ketergantungan narkoba rata-rarta tidak mengetahui apa yang dikonsumsi dan bagaimana dampak buruknya.  “Tak sedikit  yang coba-coba mengonsumsi narkoba karena pengaruh lingkungan. Ini menunjukkan mereka kurang pengetahuan. Bagaimana mengatasi semua ini. Kalau perlu,  ada kurikulum tentang pengenalan bahaya obat dari SD, kalau tidak,  kita tak bisa menyelesaikan masalah ini,” ujarnya. (Wirati Astiti)

Paling Populer

To Top