Jelita

Gigi Cantik Tanpa Karies

drg. Made Widnya Swari

Cantik tidak hanya melulu soal penampilan  busana dan rambut. Bagaimana jika senyum Anda kurang sempurna. Jangan lupa, senyum yang manis juga memegang peranan dalam menunjang penampilan. Bagaimana jika gigi Anda mengalami karies, tentu juga menjadi masalah. Apa penyebab karies gigi?

Menurut drg. Made Widnya Swari, karies gigi adalah penyakit pada jaringan keras gigi yang ditandai oleh rusaknya email dan dentin,  sehingga terbentuklah celah atau lubang pada gigi.

Beberapa faktor yang dapat menyebabkan terbentuknya karies gigi yaitu gigi itu sendiri. Bentuk setiap gigi manusia berbeda-beda, dengan lekukan dan fisura yang beragam. Gigi dengan lekukan yang dalam serta gigi-gigi yang posisinya berdesakan menyebabkan terdapat daerah-daerah yang sulit untuk dibersihkan dari sisa-sisa makanan yang melekat, sehingga menyebabkan plak menumpuk.

Penyebab karies lain, mikroorganisme dalam mulut. Bakteri adalah salah satu penyebab utama penyebab karies. Plak merupakan tempat berkumpulnya bakteri yang dapat merusak email dengan cepat. Untuk itu, waktu membersihkan gigi sangatlah penting. Minimal dua kali sehari, pagi setelah sarapan dan malam hari sebelum tidur.

Ludah merupakan salah satu sistem pertahanan mulut yang berfungsi membersihkan sisa makanan dan bakteri yang menempel pada gigi. Jika kadar saliva makin sedikit maka kemungkinan akan rentan terkena karies. Konsumsi minuman dan makanan manis secara berlebih menyebabkan gigi rentan terkena karies.

“Tanda awal karies gigi adalah munculnya spot putih seperti kapur pada permukaan gigi, lalu warna putih tersebut berubah menjadi kecokelatan/kehitaman dan mulai membentuk lubang. Jika kerusakan sudah mencapai dentin biasanya timbul keluhan ngilu atau sakit, biasanya setelah makan minum dingin, panas atau manis. Apabila keluhan rasa sakit ini timbul terus menerus, tidak hanya setelah makan, bisa jadi kerusakan gigi sudah mencapai pulpa,” kata drg. Made Widnya Swari.

Ia menyarankan, sebaiknya lakukan kontrol rutin ke dokter gigi minimal tiap 6 bulan sekali, sehingga dapat dilakukan tindakan-tindakan preventif seperti aplikasi fluor, fissure sealant, dan pembersihan karang gigi. Tetapi bila sudah muncul tanda-tanda karies seperti di atas segeralah periksakan ke dokter gigi agar bisa dilakukan perawatan.

Ia menyebutkan, faktor yang meningkatkan risiko karies gigi, terlalu sering ngemil makanan dan minuman manis, kurang makan makanan berserat seperti buah dan sayur, makan atau minum manis saat akan tidur, sering terjadi pada anak-anak yang masih minum susu menggunakan dot, mulut kering, waktu dan cara menyikat gigi yang kurang tepat. “Pengobatan karies gigi tergantung dari seberapa berat kerusakan dan kondisi pada jaringan sekitar gigi,” ujar Dokter RSU Bali Mandara ini.

Penambalan gigi adalah terapi utama saat karies gigi sudah berkembang, bahan tambalan gigi pun saat ini sudah memenuhi fungsi estetika, dimana warna bahan tambalan dapat sewarna dengan gigi aslinya sehingga terlihat natural. Pemasangan mahkota gigi (crown) dilakukan bila karies sudah terlalu besar dan sisa struktur mahkota gigi asli tinggal sedikit sehingga perlu dibuatkan mahkota gigi baru. Perawatan saluran akar bila karies gigi sudah mencapai lapisan paling dalam yaitu pulpa, sehingga dengan perawatan ini kerusakan gigi bisa diperbaiki dan menghindari tindakan pencabutan. Menurutnya, pencabutan gigi merupakan pilihan terakhir bila kerusakan gigi sudah sangat besar sehingga tidak bisa dilakukan perawatan.

Tips Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut :

  • Kurangi mengonsumsi makanan dan minuman yang manis dan asam.
  • Perbanyak konsumsi makanan tinggi serat seperti sayur dan buah
  • Hindari minuman yang terlalu panas atau dingin.
  • Menyikat gigi secara rutin dan teratur, minimal dua kali sehari, pagi sesudah sarapan dan malam sebelum tidur.
  • Sikatlah gigi dengan benar, menjangkau seluruh permukaan gigi dengan arah dari gusi ke gigi.
  • Pilihlah sikat gigi yang memiliki bulu sikat lembut.
  • Gunakan obat kumur untuk membantu menjaga kebersihan daerah mulut.
  • Menggunakan benang gigi untuk membersihkan daerah sela-sela gigi yang tidak dapat dijangkau sikat gigi.
  • Berhenti merokok.
  • Lakukan pemeriksaan berkala ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali.

( Wirati Astiti)

To Top